Perjalanan Panjang Calon Mahasiswa


Kemarin tanggal delapan Juni, aq memulai perjalanku ke Amerika.

Akhirnya.

Rute yang aq lalui adalah Jakarta – Beijing – Washington DC – Allentown.

Sebenernya ada tiga orang yang akan berangkat ke Northampton Community College untuk Pre Academic, dan salah satunya aq, tapi kami punya penerbangan yang berbeda-beda, nggak ada yang sama walaupun kami satu kampus! Dua orang yang lain, Dian dan Yosi, berangkat tanggal lima Juni. Dan aq berangkat tanggal delapan Juni.

Lho kok delapan? Yup, aq berangkatnya emang telat, I don’t know why. Yang mesen tiket pihak sponsor di Amerika, jadi aq tinggal terima dan berangkat. Sebelumnya aq juga sempat dijadwalkan untuk berangkat tanggal lima, tapi beberapa jam sebelum keberangkatanku sponsorku di Indonesia telpon dan mengabarkan kalau sponsor di Amerika mengirim tiket yang salah. Dan penerbanganku ditunda tanggal delapan.

I was happy at that time, whohohoho… I can stay with my husband longer!!

Then, tibalah tanggal delapan. Pagi harinya aq dijadwalkan briefing dengan bu Ratna, beliau adalah salah satu staff dari sponsorku. Di briefing ini aq nanya macem-macem mulai masalah bagasi, imigrasi, dan barang-barang yang harus dan yang bisa aq bawa. Sebelum balik aq juga ketemu Pak Piet, beliau sponsor-kordinator untuk Indonesian grantee, he was giving us, aq disana ketemu dengan Wisnu (one of the CCIPers), some tips dan kami pamitan mo berangkat.

I was lucky, karena kalo Dian dan Yosi musti sendirian dari awal sampai akhir penerbangan. Aq nggak. Aq punya temen sampai di Beijing, horray!

Wira, CCIPer yang akan ke Iowa, berangkat dengan tujuan transit yang sama Beijing dengan point of entry yang berbeda. Aq di Washington DC, dy di Chicago. Aq bersyukur banget kami bisa satu penerbangan, selain kami harus terbang ke Beijing selama tujuh jam, kami juga harus transit di Beijing lebih dari sembilan jam! Wira sepuluh jam, aq dua belas jam. Bisa bayangkan donk kalo aq sendirian kan bisa mati gaya tuh whehehe…

And I feel a yin-yang theory, bahwa ada yang hal yang enak dan hal yang kurang menyenangkan. Dibalik keharusan kami musti transit lama di Beijing, aq dan Wira dapet tiket Garuda Jakarta – Beijing kelas bisnis. Yieeey!!

It was our first time on bussines class. Jadi kami berdua berusaha (sekali) menutupi “kendesoan” kami. Whuehehehe, sorry Wira aq buka aib :-p

Dan aq juga nggak sempet lama-lama nangis-nangisan sama suamiku, as udah keburu-buru pingin nyobain lounge-nya Garuda. Sampai-sampai suamiku sms

Peluk dari Ay, walau hanya dari sms :)

Ups, aq lupa kalo aq belum pelukan, cuman salim aja. Lha… dudul banget kan, padahal kan mo pergi setaun, bukan mo pergi ngantor :(

Di Garuda Lounge aq dan Wira ketemu dengan Jaya Suprana. We didn’t want to miss him! Kami photo dan ngobrol bentar dengan beliau.


Penerbangan Beijing berangkat jam sebelas malam. Luckily, hanya separuh kursi di kelas bisnis yang terisi. Dan kami adalah yang paling muda. Lainnya bapak-bapak dan ibu-ibu yang mo liburan ke China. Tujuh jam perjalanan rasanya enak banget. Bisa tidur pules, maemnya enak, masih bercita rasa Indonesia, aq pesen Nasi Goreng, ini jadi nasi goreng terakhirku sampai beberapa bulan ke depan :( (lebay mode on).

Ketika kami tiba di Beijing, kami dibantu oleh salah satu staff Garuda disana Pak. Beliau baik banget, kami dicarikan officer yang akan menunjukkan terminal kami dimana kami akan naik pesawat selanjutnya. Untuk menuju terminal tiga, Garuda mendarat di terminal dua, kami musti naik shuttle bus selama kurang lebih lima belas menitan. Tempatnya emang agak jauh. Tapi setelah sampai di terminal tiga kami kompakan bilang, “Woow… gede banget yah!”

Subhanallah, cantik banget bangunannya. Si Wira malah sempet nyeletuk, “Kalo ini kw berapa ya?” Whehehe… emang beli barang di Mangga Dua!

Tapi lama-lama emang kerasa kaya di Mangga Dua, dimana semua orang pake bahasa mandarin. Dan cuma kami berdua aja yang pake bahasa Indonesia whehehehe… silly.

Oiya, disini agak sulit untuk nemu orang yang bisa bahasa Inggris, salah satunya ketika kami mo makan di McD or Starbucks. Bikin stress banget deh, perut laper tapi nggak bisa nanya-nanya menu.

Dan satu hal yang bikin stress juga adalah sulit untuk bisa mengakses internet disini. Based on my experience, pertama kami harus punya boarding pass. Kedua, internetnya hanya dua jam aja, sekali log out ya udah tamat even waktunya belum dua jam. Ketiga, wifi nya nggak stabil. Mati-nyala-mati-nyala bikin putus asa, serius deh banyak bule yang muka nya dilipet-lipet pas ngadep laptop sambil ngeluhin wifi-nya. Keempat, the worst thing was si mbak yang ngasih id dan password nggak bisa bahasa Inggris. Jadi mo ngeluh gimana aja si mbak juga ga akan ngasih solusi, orang dy-nya juga nggak ngerti kita ngomong apa.

Tapi pas Wira berangkat dan sebelum aq boarding, aq ngedatengin si Mbak operator wifi. Dan ternyata yang tugas udah ganti, dan pas aq tanya dy bilang dy bisa bahasa Inggris. Komplain lah aq, si Mbak yang kali ini langsung ngerespon dan dy yang langsung meng-log-in-kan lappy ku. Setelah mencoba agak lama akhirnya masuk juga, tapi pas aq mulai mengakses baru ketauan kalau wifi-nya nggak stabil. Rasanya kesel banget, apalagi aq mo ngirim email ke Mas. Pingin nangis rasanya pas wifi nggak kunjung stabil dan lama-lama malah menghilang.
Then, akhirnya aq boarding juga. Untuk sampai ke gate penerbanganku aq musti naik train shuttle ke gedung yang agak jauh, sekitar dua – tiga menit untuk menuju ke sana. Di gedung itu aq nggak bisa langsung menuju gate ku, ada beberapa prosedur standar imigrasi yang musti dilewati. Well, lebih rumit dari pada imigrasi di Indonesia tapi nggak begitu berbeda dengan Washington DC, lengkapnya nanti akan aq tulis di posting selanjutnya.

Kali ini aq terbang dengan United Airlines, Beijing – Washington DC – Allentown, kelasnya ekonomi. Wuiihhh… penuh! Banyak Chinese yang akan liburan ke Amerika dan they never stopped talking, yelling and walking. Suasananya riuh banget, kaya pas naik krl ekonomi tapi bedanya disini makanannya gratis whehehe…

Selama tiga belas jam penerbangan aq dapat dua kali makan dan satu kali snack. Makan malam – satu jam setelah penerbangan, Chinese noodle ketika separuh perjalanan dan satu jam sebelum mendarat boleh memilih antara buah atau chicken noodle.

Setelah dua belas dan dua puluh menit penerbangan akhirnya aq sampai juga di Washington DC. Dan aq buru-buru ke terminal domestic untuk penerbanganku ke Allentown.

Penerbangan ke Allentown adalah penerbangan dengan pesawat kecil. Dalam perjalanan ini nggak semua kursi terisi. Dan kami hanya diberikan minum, boleh milih dan boleh tambah, tapi nggak ada makan. Dari Washington DC ke Allentown, lamanya terbang hanya sekitar satu jam. Dan sampai di Allentown, bandaranya kayanya hampir sama besar dengan bandara di Denpasar, udaranya duingin buanget plus ujan rintik-rintik. Gigiku tuh sampai bergemeletuk, grrrrr…grrrr…grrrr…

Sukurnya nggak lama aq dijemput ma project coordinator assistant dan Dian. Whuuaaaa, seneng banget deh ketemu orang yang qta kenal di tempat yang asing buat qta. Malem itu setelah ketemu Dian dan cerita-cerita sedikit aq jadi nggak sabar untuk memulai my pre-academic class.

Nb: setelah tujuh jam terbang, dua belas jam di Beijing, tiga belas jam terbang, dua jam di Washington DC, dan terakhir satu jam terbang, aq bersyukur banget nggak ngerasain jet-lag, dah tuwuk kali yah badanku whehehe :)
Jadi yang akan berangkat ke LN dengan perjalanan panjang aq sarankan banyak tidur, banyak minum mumpung gratis, banyak ke kamar mandi biar kakinya bisa digerakin, tapi jangan minum tolak angin yah karna kan di pesawat dingin banget jadi nanti malah kentut-kentut terus kaya aq whuahahahaha :p (Maafkan Mbak sebelahku pas di United Airlines ^^)

*coming up: prosedur imigrasi di China dan US (mungkin agak lama ya… whehehe)