Halloween with Teenagers at Marathon County Public Library

As part of the scholarship program requirement that I should do, I have forty hours volunteer work. I did some of my volunteer work with my friends, and we had fun at that time. After couple times doing volunteer works with the program, I want to have another experience with another organization.

Since I like to spend my time at the public library, which is close to my dorm, when they offer opportunity to do volunteer work at their place I was really exciting. I applied there about a month ago, last week the HR person from the library called me. She offered me to work at the event that they made for teenagers. The library have a Halloween event, they would invited teenagers to participate and have fun there.

(balik ke bahasa Indonesia yah…)

Tema Halloween tahun ini adalah zombie, dan sebelum acara tersebut dimulai ada reporter dari telivisi lokal yang memberitakan event ini.

Ketika acara tersebut berlangsung, ada beberapa booth yang bisa dipilih oleh remaja-remaja yang datang. Mereka bisa merias wajah hingga menyerupai zombie, mereka bisa mendengarkan cerita seru mengenai zombie, mereka bisa mengalahkan zombie dengan menembak sekumpulan zombie, dan mereka juga bisa membawa pulang souvenir berupa pin yang gambarnya setema dengan zombie.

Untuk memeriahkan suasananya ada TV yang menayangkan film zombie, punch yang berwarna hijau-keabuan (warna zombie), dan cup cake yang toppingnya menggambarkan sebagai otaknya zombie (abu-abu). Walaupun dari warnanya terlihat aneh, tapi rasa makanan dan minumannya enak banget.

Aq sendiri bertugas untuk membuat pin. Ketika pertama kali datang, aq dijelaskan kalau aq akan membuat button. Button?! Aq bingung pertamanya, mo bikin kancing buat dimana. Tapi ternyata, kalau pin atau bros yang berbentuk bulat di sini disebutnya button, ooo…

Untuk ngebuatnya mudah loh, asalkan punya alatnya. Aq butuh tiga puluh menit untuk belajar membuat ini hingga terbiasa. Dan ternyata banyak banget peminatnya. Tapi senengnya sambil ngebuat ini aq bisa ngobrol-ngobrol dengan remaja-remaja yang datang. Dan mereka puas dengan button yang aq bikin, sukurlah…

Acara ini berlangsung hampir selama tiga jam, dan remaja-remaja yang datang aq lihat menikmati banget kegiatan ini. Dan ini membuat aq nggak merasa bosan saat melakukan volunteer work-ku. Mudah-mudahan the Public Library akan ngajak aq lagi untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. ^^

What is the Indonesian Word for Tea?

Do you know the answer?

I guess almost all of you will answer; Teh.

Um um, that is wrong!

Check at this website PT. Sinar Sosro, to see the answer.


(kembali ke bahasa Indonesia yang campur-campur ^^)

Aq sebenernya hari ini pingin post mengenai persiapan menghadapi musim dingin. Tapi berhubung masih ngerjain tugas ‘branding’ untuk kelas Introduction to Business, aq jadi tertarik untuk membahas sedikit mengenai dunia per-Teh-an.

Karena aq memilih teh sebagai produk yang akan aq ‘branding’, aq googling informasi mengenai dunia per-teh-an yang akan jadi ladang bisnisku. Dan aq menemukan banyak hal yang menarik dari dunia teh ini, khususnya persaingan Teh Sosro dan brand-brand teh lainnya.

Sebelum aq memilih teh sebagai produk jualanku, aq sendiri sudah sering mengamati munculnya brand-brand baru di pasar minuman Indonesia. Aq inget ketika beberapa bulan lalu aq makan di KFC dan aq menemukan bahwa Teh Sosro dan produk pendukungnya (Fruit tea dan PrimA)sudah diganti dengan minuman sejenis dari perusahaan pesaingnya. Well, ternyata nggak lama kemudian aq tahu kalau ternyata PT. Sinar Sosro, pemilik Teh Sosro, membeli license-nya McDonalds Indonesia, dari si empunya Toni Jack’s.

Dan ketika Coca Cola masuk ke pasar Indonesia, ternyata Coca Cola masih kalah dibandingkan Teh Botol (Sosro, khususnya). Well, ini Indonesia yang dimana orang akan lebih memilih teh dari pada soda sebagai minuman yang menemani aktivitas makan. Nggak mau kalah dengan Sosro, Coca Cola mengeluarkan produknya yang menjual teh botol dengan aroma melati. Ternyata nama besar Coca Cola bukan jaminan sukses, Frestea masih belum bisa menggeser posisi Teh Botol Sosro.

Perusahaan lain yang ikut meramaikan pasar per-teh-an Indonesia adalah Unilever, dengan meng-akuisisi Sariwangi. Dengan ‘branding’ yang kuat membuat Sariwangi masih masih lebih unggul pasar per-celup-an. Disatu sisi Teh Sosro agak lebih lambat mendiversifikasikan produk mereka menjadi teh celup. Tapi kekalahan Teh Botol Sosro ini sebatas di pasar retailing. Untuk marketing langsung, Teh Botol Sosro masih lebih unggul. Lebih-lebih, ketika mereka membuat iklan dengan beberapa perusahaan ‘asli’ Indonesia, Sidomuncul dan Kacang Dua Kelinci, “Tuan Rumah di Negara Sendiri.”

Iklan ini disatu sisi menanggapi persaingan dengan perusahaan luar negeri yang meng-akuisi beberapa perusahaan Indonesia. Dan di lain pihak ini memberikan support bagi konsumen Indonesia yang ‘anti’ produk luar, as Unilever, Coca Cola, etc. Heran, karena aq bilang ada konsumen Indonesia yang ‘anti’ produk luar? Hahaha… kemana aja niy kamu selama ini! Terlalu mencintai produk luar ya? (Mungkin)

Dan disisi lain Sariwangi memiliki kompetitor perusahaan teh yang lebih tua, seperti Tong Tji, Teh Gopek, Teh Bandulan, dan teh-teh lain yang memiliki consumen yang loyal. Dalam usahanya untuk meraih hati pasar, Sariwangi mengeluarkan Golden Selection, yang keberhasilannya masih diragukan.

Nah sekarang beralih membahas bagaimana Teh Botol Sosro mendiversikasikan produknya. Walaupun beberapa kali terlambat memulai, saat mengeluarkan air minum dalam kemasan dan produk teh celup, Teh Botol Sosro mengeluarkan produk less sugar dan teh dalam kemasan kotak dan pouch. Untuk produk teh dalam kemasan kotak dan pouch, Teh Botol Sosro berhasil menggeser posisi Teh Kotak milik Ultra Jaya.

Dan ketika muncul Tekita (kalau nggak salah ini produk dari Pepsi Indonesia, kalau salah mohon dikoreksi)dengan isi yang lebih banyak dan rasa yang lebih manis. Teh Botol Sosro yang dikenal sebagai teh yang berasa sedikit pahit, mencoba mengeluarkan produk yang serupa, Stee, isi lebih banyak dan lebih manis. Kalau nggak pernah dengar dengan nama produk ini coba deh datang ke wilayah industri yang banyak buruh, disana adalah target market Tekita dan Stee ini.

Kemudian, untuk menanggapi kompetitor lain di pasar minuman, PT. Sinar Sosro mengeluarkan Tebs, Happy Jus, Country Choice, dan Joy Tea. Dan semakin ramai ketika perusahaan ini mengambil langkah yang hampir sama dengan beberapa perusahaan makanan-minuman besar lain dengan mengeluarkan tokoh kartun. PT. Sinar Sosro mengeluarkan film kartun dengan format 3D bernama SAGA, pahlawan pembela kebenaran yang suka minum Teh Botol Sosro pouch.

Dan mengutip dari Majalah Tempo 2009, menyambut ulang tahun perusahaan yang ke tujuh puluh, Teh Botol Sosro masih menguasai 70 persen pasar minuman Indonesia. Singkatnya Teh Botol Sosro jaringan penjualannya sangat kuat hingga ke pelosok dan ini masih sulit dikejar oleh produk minuman lain. Ditambah lagi, sosro terkenal dengan promosi langsung ke pasar di dunia kuliner, seperti bekerja sama dengan franchise restauran dan pujasera, sehingga makin menguatkan slogannya, “Apapun makanannya minumnya Teh Botol Sosro.”

Jadi gimana, setuju dengan Teh Botol Sosro kalau bahasa Indonesianya ‘tea’ adalah ‘Sosro’?

My Deep Condolences

Words cannot express how sorry I am about the recent tragic events in Indonesia.

By this post I would like to send my deep condolences to everybody who had to go trough the events. I am sorry for the loss.

I am keeping you in my thoughts and prayers as you move through your healing and renewal.