My Money, Your Money, or Our Money?


 

*Mumpung post yang lalu aku posting tentang uang yang cuma bisa dilihat, sekarang ngomongin uang yang ada didompet masing-masing :D *

Si Mas yang ngintip aku nulis judul ini bilang, “Eh nggak papa tuh nulis begituan, kan masih banyak yang menganggap itu tabu?”

I guess, it’s not a taboo topic anymore.

Logically, we work everyday to earn money. We are happy when the money we earn transferred to our bank account. So why do we have to be shy when we talk about money?

:)

Ok, lets talk about money.

Kalo pas kita single, urusan uang pasti mudah mengaturnya, uangku ya uangku. Sisihkan dua setengah persen untuk zakat *untuk yang muslim*, sisanya terserah kita mo diapain.

Nah pertanyaannya setelah menikah gimana?

Hmm… dari beberapa cerita pasangan yang aku kenal, ada banyak sekali cara mengatur keuangan mereka. Ada pasangan yang suami bekerja dan istri tidak bekerja, dan uang dibagi dua, separuh suami – separuh istri.

Ada pasangan yang sama-sama bekerja, tapi keuangan masing-masing terpisah, suami dan istri berbelanja sendiri-sendiri. Bepergian ke sesuatu tempat, tagihan juga terpisah. Kewajiban iuran ini itu dibagi pembayarnya, siapa bayar listrik, siapa yang bayar telepon, dan sebagainya. You do that one, I do this one.

Ada juga yang berbeda, *cerita ini aku dapat dari beberapa teman yang kebetulan berada di Aussie (mungkin ini juga terjadi di Indo dan di negara-negara lainnya)* suami istri bekerja, akan tetapi gaji istri langsung masuk ke rekening suami. Sang istri hanya diberi kartu kredit yang disetting tidak bisa mengambil uang tunai (no cash out). Kalau ingin uang tunai sang istri harus minta ke suami langsung. Misalnya akhirnya hubungan suami istri berakhir dengan perceraian, sang istri berpisah dengan tanpa tabungan sama sekali, dan tidak bisa memperoleh sedikitpun dari uang yang dia peroleh saat bekerja. It’s so unfair!

Cerita yang terakhir itu agak mirip dengan sebagian besar cara mengelola uang pasangan di Indo, tapi dibalik. Sebagian besar gaji suami diberikan ke istri dan suami diberikan sejumlah uang untuk keseharian. *Nggak pakai kartu kredit, karna belum semua orang di Indo familiar dengan penggunaan kartu kredit* Dari nguping cerita suami-suami di kantor si Mas, banyak suami-suami yang keuangannya dikelola dengan cara seperti ini suka main sembunyi. Kalau ada uang bonus disembunyikan dari istri, karna takut diminta sang istri. *Pasti yang cowo-cowo akan bilang, “It’s so unfair too!” :) *

Ada juga yang mengikuti yang disarankan secara Islami, misal suami istri bekerja, uang suami menjadi uang keluarga dan uang yang diperoleh istri menjadi hak istri. Walaupun dalam kenyataannya banyak istri yang tidak bisa menutup mata untuk menggunakan sebagian uangnya sebagai uang keluarga juga. Disini suami harus terbuka terhadap istri, dan sebaliknya, berapa uang yang diperoleh masing-masing. *Babe, I can see your money :) *

Nah mana yang paling ideal? Pastinya itu berpulang lagi dengan masing-masing pasangan. Ada dua cara yang digabung dan diterapkan,  atau malah cara pengelolaan uangnya tidak sama dengan cara-cara diatas. Terserah masing-masing pasangan. Tiap pasangan memiliki kehidupan rumah tangga yang berbeda, tidak pernah ada yang sama persis, maka pengaturannya pasti juga berbeda.

Lantas bagaimana dengan yang masih ‘single dan berbahagia’?

Saranku saat akan menikah jangan lupa untuk membahas masalah pengaturan keuangan bersama, bagaimana pandangan kita dan bagaimana pandangannya calon suami/istri kita mengenai pengaturan uang yang ideal *not only about the happy things in the future ;) *. Apabila ada perbedaan didiskusikan dan dicari win-win solution-nya. Jangan sampai pengalaman beberapa temanku yang ‘terkaget-kaget’  dan kecewa dengan pasangangannya setelah menikah karna masalah keuangan, happens to you. Mereka menyesal karna tidak dari sebelum menikah membahas mengenai pengaturan keuangan, menurut mereka saat itu tabu untuk membicarakan uang dan mereka menganggap pasangannya memiliki cara pengelolaan keuangan bersama yang sepaham *yeah, everybody always wish that each partner is a mind reader :D *. Unlucky them, ternyata tidak.

Jadi jangan malu-malu, saat sudah merasa bahwa he/she is the one, maka sedikit-sedikit mulailah disinggung masalah mengelola keuangan yang pas untuk bersama. Walaupun banyak yang bilang cinta yang akan membuat rumah tangga bahagia, tapi kesepahaman mengenai uang bersama akan membuat rumah tangga lebih bahagia, ya kan? ;)