Lain Ladang Lain Belalang, Lain Negara Lain Bahasa

Walaupun aku udah belajar bahasa Inggris mulai dari sekolah dasar, tapi ternyata masih aja sering mengalami kejadian awkward kalo lagi ngomong sama bule. Awal tinggal di Aussie, karena tidak terbiasa dengan aksen Aussie yang berbeda dengan aksen Amerika yang biasa aku dengarkan, beberapa kali aku suka bengong kalo ditanya.

Misalnya saat makan di restauran di pulau Magnetic. Ketika aku ditanya oleh waitress mau minum apa, dan aku bilang aku nggak pesan minuman, dia bilang, ‘Do you want some water?’ yang kata ‘water’ dilafalkan dengan bunyi [wata] (seperti ‘ta’ dalam kata ‘tangga’). Sukses bikin aku bengong, sukurnya ada si Mas yang sigap menjelaskan kalo yang dimaksud si mbak waitress itu ‘air putih’, oalaah…

Orang Australia juga menggunakan banyak kata yang berbeda dengan orang Amrik. Salah satunya saat beli kentang goreng. Kalau salah sebut penjualnya jadi malah bengong, ini biasanya sering dialami sama temen-temen dari Amrik yang tinggal di sini. Kalo di Amrik saat kita ingin pesan kentang goreng, kita bilangnya ‘fries’. Tapi kalo di Aussie kita musti bilang ‘chips’. Di Amrik ‘chips’ hanya berlaku untuk makanan macam keripik atau kerupuk aja. Sedangkan di Aussie, ‘chips’ digunakan untuk keduanya, kentang goreng dan makanan sejenis keripik juga. Sama juga kalau di Amrik aku terbiasa dengan kata shrimp, di Aussie mereka pakai kata prawn. Ada banyak lagi yang berbeda di cara pengucapan dan penggunaan kata antara dua negara tersebut.

Satu lagi, ada kebiasaan orang Aussie yang suka menyingkat kata dalam pengucapan, seperti nama negaranya yang disingkat jadi Oz, karena mereka melafalkan nama negaranya dengan [oz-tra-lia]. Dan orang Australia, yang dalam bahasa Inggris tertulis sebagai Australian, biasa diucapkan singkat menjadi Ozzy. Contoh beberapa kata lainnya adalah good day jadi g’day, McDonald jadi Macca, kata barbecue jadi barbie, breakfast jadi breakkie, football (rugby) jadi footy, biscuit jadi bekkie, Brisbane jadi brissy, dan masih banyak lainnya. Dengar-dengar *based on gossip* kebiasaan menyingkat ini muncul karena ‘stereotype’ orang Aussie yang terkenal sebagai ‘laid-back person’. Kalau diartikan adalah orang dengan pribadi yang santai. Jadi kalo ngomong nggak mo yang panjang-panjang, kalo bisa disingkat-singkat aja, biar praktis hahahaha… :D

Bagiku kadang kesal juga sih saat lawan bicara nggak ngerti apa yang dia maksud atau apa yang aku maksud, tapi selebihnya jadi sesuatu yang menyenangkan, karena kalau diingat-ingat lagi bikin ketawa juga akhirnya. Lama-kelamaan akhirnya aku terbiasa juga, dan aksen yang aku pakai jadi agak campur-campur. Aku mulai sadar kalau aksen Amrik yang aku poles mati-matian saat aku kuliah dua tahun lalu mulai tercampur aksen Aussie, saat aku ngobrol online dangan salah satu keluarga mentorku. Karena di akhir obrolan kita, si keluarga mentorku memuji kalo aksenku mulai terdengar seperti orang Aussie, hahahahaha… yeee…*orang Aussie sering sekali mengatakan kata ‘yeee’ dengan pengucapan [e] dalam kata enak, dengan arti yang sama saat orang Amrik mengatakan, ‘yeah’, ‘yup’, atau ‘yes’*

Kesimpulannya, lain ladang lain belalang, lain kolam lain ikannya. Sama-sama bahasa Inggrisnya tapi berbeda. *Kenapa bahasa internasionalnya bukan bahasa Indonesia aja sih… Kan gampang, nggak ada ‘time difference’ pula… hehehehe… *

Nah giliran salah ucap nih sekarang. Saat masih belum terbiasa dengan pengucapan bahasa Inggris aku sering salah ucap seperti saat mengucapkan kata ‘salmon’, aku baca [sal'mon], harusnya dibaca dengan pengucapan [sal'men] dengan huruf ‘e’ yang dilafalkan seperti dalam kata ‘mendadak’.

Atau cerita salah satu teman Indonesia yang sudah lama tinggal di Aussie, saat dia mudik ke Jakarta. Salah satu keponakannya bertanya tentang maskapai penerbangan apa yang digunakan. Saat dia bilang dia menggunakan Qantas, si ponakan yang merasa super-pro berbahasa Inggris mengkoreksi pengucapannya, ‘Tante, bukan itu begitu, harusnya Qantas [ken'tes].’ (kedua ‘e’ dilafalkan sama seperti kata ‘enak’)

Si Tante berusaha memberitahu bahwa pengucapan yang benar adalah Qantas [kuan'tes], tapi si ponakan tetep keukeuh pada pendiriannya. Lha yang tinggal di Oz siapa yah? Hahahaha…

Sama juga saat kebanyakan orang Indonesia yang terbiasa dengan anggapan apabila ada kata dalam bahasa Inggris yang menggunakan huruf vokal ‘u’ di tengah kata maka akan diucapkan menjadi ‘a’. Maka semua kata yang mengandung huruf vokal ‘u’ di tengah dilafalkan dengan ‘a’, akan tetapi itu tidak berlaku untuk semua kata. Salah satu pengecualiannya adalah kata ‘butcher’. Beberapa kali aku mendengar teman-teman dari Indonesia yang baru datang ke Aussie mengucapkan kata butcher dengan pengucapan yang salah, kata ini dibaca [ba-cher] padahal harusnya dibaca [bu-cher] (dengan pengucapan saat kita mengucapkan kata ‘ibu’) .

Ayoo… apa ada yang pernah punya pengalaman salah ucap kata? Kalo ada, sama dong! *toss dulu* hihihihihi… :p

Balada Oleh-Oleh Kedua

Terinspirasi dengan post milik Emy yang cerita mengenai oleh-oleh dan tips bagi penerima oleh-oleh, dan berjudul sama di Balada Oleh-Oleh! *Emy, kita sehati yah! hihihihi…*  Ini mengingatkanku pada satu hal yang kecil, penting, dan agak mengganggu, yaitu mencari oleh-oleh. *dan ternyata setelah aku selesai nulis post ini aku baru sadar (Emy juga yang ngingetin) kalo aku juga punya post dengan judul sama (Balada Oleh-Oleh) di bulan Februari tahun lalu, yang aku bikin saat aku sutreess ngeliat list oleh-oleh hahahahaha…*

Entah ini hanya budaya di Indonesia atau memang semua orang Asia juga, selalu repot dengan oleh-oleh saat bepergian. Misalnya niy kalau dulu orang tua bepergian ke luar kota atau ke lain daerah maka pulangnya akan membawa oleh-oleh. Tidak hanya untuk keluarga di rumah tapi juga saudara dan tetangga terdekat.

Karena sudah terbiasa, dan tertanam dalam pikiran kebanyakan orang di Indo, kalau ada yang cerita kalau dia baru berpergian maka lawan bicaranya akan reflek mengatakan, ‘Oleh-olehnya mana nih?’

Awalnya aku juga santai-santai aja bertanya hal seperti itu pada kenalan yang baru datang dari perjalanan jauh. Reflek siy!

Tapi setelah mengalami sendiri pengalaman menjadi orang yang ditanya, akhirnya pertanyaan itu memberatkan juga yah… Walaupun sebenarnya pertanyaan itu cuma basa-basi saja, namun sudah tertanam di benakku (dan mungkin sebagian besar orang di Indo juga) kalau ditanya seperti itu langsung buru-buru buka koper dan nyari sisa oleh-oleh yang bisa diberikan ke si penanya, alasannya, ‘nggak enak kalau nggak dikasih, karna udah ditanyain sih.’

Gara-gara pengalaman itu aku berusaha untuk nggak lagi-lagi reflek bertanya, ‘Mana oleh-olehnya?’ Takut karma! hahahahahaha….

Instead of nanya oleh-oleh, aku nanya, ‘Bagaimana perjalanannya?’, ‘Lancarkah penerbangannya?’, ‘Tempat wisata apa yang menarik disana?’ Yah semacam itulah. Pokoknya bukan lagi nanya oleh-oleh. :)

Ngomongin ‘ngarep oleh-oleh’, dulu pas aku masih kecil, yah mungkin SD menjelang SMP, aku sering banget ngarep oleh-oleh dari Tante (adiknya Bapak). Kalau beliau pulang dari dinas di luar kota aku langsung lari main ke rumahnya yang kebetulan hanya berjarak 200 meter dari rumahku, dan bisa menebak kan apa yang ada dipikiran anak kecil sepertiku, tidak lain dan tidak bukan aku ‘ngarep oleh-oleh’ hahahahahaha… :D Kebangetan yah!

Aku siy nggak dengan polosnya meminta, cuma biasanya kalau aku dateng maka si Tante akan membagikan sedikit camilan khas atau pernak-pernik khas daerah yang baru beliau kunjungi. Si Tante tau kalo wajah ponakannya mupeng, pengen oleh-oleh hahahahahaha… Lucu yah, polos gitu, tapi kalo diinget-inget lagi saat-saat itu, rasanya malluuuuu banget hahahahahaha…

Eniwei, kayanya sekarang aku terlanjur kena karma. *lebay mode on hahahaha…*

Gimana enggak, setiap kali aku atau suami bepergian kami berdua selalu bingung dengan satu hal, bukan kegiatan acaranya, bukan tempat tujuannya, tapi satu hal saat kami berdua sudah sampai kembali ke rumah, tidak lain dan tidak bukan yaitu ‘oleh-oleh’. Sebenarnya keluargaku sama sekali nggak ada yang minta oleh-oleh, tapi ya kan nggak mungkin kita mudik dengan tangan kosong, betul kan?

Kalau keluarga kami masih menyenangkan, di sisi lain ada beberapa teman yang kerabatnya agak membuat mereka jengkel karna urusan oleh-oleh. Aku tahunya saat aku mo pulang dari Amrik dan mereka sedikit berkeluh kesah tentang excess-baggage dan oleh-oleh mereka.

Sebelum cerita tentang temenku, aku kasih gambaran dulu yah, kalau bepergian ke Amrik dari Indonesia dan sebaliknya, maka satu orang akan diberikan baggage allowance sebesar 100lb (pounds) yang setara dengan 46 kg. Ini harus ditaruh dalam 2 koper dengan berat yang masing-masingnya sama yaitu 23 kg. Jumlah ini cukup besar dibandingkan dengan baggage allowance saat bepergian ke Australia, ke Eropa, atau ke beberapa negara Asia lainnya, yang hanya diberikan satu koper dengan berat 23 kg untuk tiap orang.

Rasanya 23 kg itu besar kan?

Betul angka 23 kg itu besar, dan berarti koper yang untuk mengangkut barang kita juga besar kan?

Nah, pernah menghitung beratnya koper 30 inch dalam keadaan kosong nggak? Koper merk Samsonite misalnya, yang asli dan berbahan kain, biasanya berat kosongnya adalah 6 kg. Ada juga yang versi light-weight, tapi biasanya tetap saja bobotnya masih sekitar 4 sampai 5 kg. Kebayang dong, kalau angka 23 kg itu sebenarnya bukan 23 kg, tapi hanya antara 19 kg atau malah 17 kg saja. Cuma sedikit kan? (Tumpuk 15 baju jadi satu dan itu beratnya sudah jadi 10 kg)

Kasus pertama, temen Indo yang satu program. Di suatu pagi dua bulan sebelum kita pulang ke Indo, dia cerita kalo ada beberapa orang kerabat dan temannya yang awalnya nggak pernah BBM-an dengannya sama sekali, tiba-tiba menyapa dan menanyakan kabar. Setelah sedikit berbasa-basi ketauan kalau mereka ingin menitip barang untuk dibelikan di Amrik dan minta temanku untuk membawakannya. Tentu saja temanku jadi kesal, bukan kenapa yah tapi bayangkan deh, kami tinggal setahun di Amrik dan harus menge-pack ‘our one year life’ dalam dua koper saja dengan kuota terbatas. Nah lho, kalo dia dititipin sepatu, hand bag, atau gadget, kan tinggal dikit allowance yang tersisa. Jadi kata dia, ‘I say  No-No, to friends and relatives who are not really close to me, and I only give souvenir to my best friend and my family.’

Beberapa hari kemudian temen Indo-ku cerita lagi, ceritanya semalam dia diBBM-in sama salah satu paman yang cukup dia kenal baik. Dalam hati, sebelum si Paman mengutarakan niatnya, dia pikir kalau si Paman mo nitip maka dia akan mengiyakan. Tapi ternyata dia berubah pikiran, karena titipannya si Paman agak nggak masuk akal kata dia. Cerita dia…

Temenku: Paman mo nitip apa?

Si Paman: Aku mo nitip ini lho, vitamin ‘ini’ (aku lupa namanya). Kalo beli di sono lebih murah harganya, aku dah liat di internet.

Temenku: Oo, vitamin toh… berapa biji? *sambil temenku browsing di internet nama vitaminnya, dan dia ngeliat di internet kalo botolnya berukuran sedang karena isinya 100 kapsul*

Si Paman: Kalo beli 30 gimana? Soalnya kalo tiga puluh harganya murah banget cuma 10 dollar per bijinya.

Temenku: *speacless, nunggu dua menitan untuk menghilangkan kagetnya*, sorry Paman, kayanya nggak bisa kalo 30, terlalu banyak. (for your information 10 botol vitamin/obat isi 100 kapsul beratnya bisa mencapai 5 kilo)

Si Paman: Ya udah, 20 aja deh… Itu harganya jadi 15 dollar per biji.

Temenku: Kayanya koperku sisannya nggak sebanyak itu.

Si Paman: 10 gimana?

Temenku: Aku liat koperku dulu ya Paman, nanti kalo ada sisa aku hubungi Paman lagi. (berusaha untuk memutuskan pembicaraan)

Aku yang diceritain ketawa ngakak, hahahahahahahahaha… Tega nian si Paman, nitip apa nitip… :D

Cerita yang kedua dari temenku juga, tapi beda orang. Temanku yang ini sedang sekolah di Amrik tapi lain program. Pas kita kebetulan bisa online, dia cerita kalo masalah oleh-oleh dan titipan itu bikin dia bete setengah mati. Ada yang dikasih oleh-oleh ini eh maunya yang itu, dan setelah dikasih malah ngomel-ngomel ke orang lain atau ke orang tuanya temenku. Atau ada yang suka nitip barang dan barangnya yah sama aja kaya temenku sebelumnya, jumlahnya ajaib. Kata dia solusinya setiap dia pulang ke Indo dia nggak ngasih tau kesiapa-siapa. Jadi kalau ada sodara yang tau kalau dia udah sampe di Indo dia ngasih oleh-oleh seadanya, kalau ada sodara yang nggak tau kalo dia lagi pulang ke Indo ya nggak dia kasih.

Cerita ketiga dari seorang Ibu yang tinggal deket dengan kotaku, *and she was a really nice lady*, setiap dia pulang ke Indo, maka dua koper bagasi dan koper carry on-nya isinya adalah oleh-oleh dan titipan sodara-sodaranya dan ponakan-ponakannya di Indo. ‘Lantas nggak bawa baju Bu?’ tanyaku. Jawabannya, ‘Yaitu yang bikin anakku ngomel-ngomel, soalnya nanti kalo aku sampe di Jakarta, pertama kali dari bandara aku minta dianterin beli baju. Lha wong aku nggak bawa baju sama sekali…’ *bengong mode on* Segitunya yah… Cinta banget si Ibu ini dengan sodara dan ponakannya, sampe nggak bawa barang-barang yang dia butuhin. Kayanya aku nggak bisa segitunya deh. :)

Nggak jauh beda dilematisnya dengan cerita-cerita diatas, aku kadang suka bingung masalah oleh-oleh. Kalau si Mas ke luar pulau atau ke luar negeri dia biasanya menyempatkan beli oleh-oleh, tapi dasarnya cowo kadang kurang perhatian kalau kami punya sodara ini dan itu yang juga sebaiknya diberi, ini atas saran Ibuku. Ibuku adalah anak ke tujuh dari 13 bersaudara, dan Bapakku adalah anak pertama dari lima bersaudara.  Belum lagi, apalagi kalau Pakdhe-Budhe dam Om-Tante sudah punya anak-anak yang berkeluarga. Berarti jumlah penerima oleh-oleh bertambah, dan ini belum ditambah sodara dari pihak si Mas. Kalau saran Ibuku, paling tidak semuanya dikasih kenang-kenangan. *wajah sedih liat dompet dan liat sisa baggage allowance*

Setelah beberapa kali mengalami kerepotan yang sama, yaitu baggage allowance yang terbatas, maka kami mengerti kalau oleh-oleh itu bisa disiasati. Kalau sehabis bepergian dari negara-negara di Asia, maka oleh-oleh untuk sodara jauh kita cari di mangga dua sajjaah… Kenapa? Karena disana banyak yang jual gantungan kunci ‘I love Singapore’, ‘I love Bangkok’, dan ‘I love’ – ‘I love’ lainnya. Jadi instead of koper berat dengan oleh-oleh, koper si Mas bisa dimanfaatkan untuk membawa buku untuk kepentingan kerja yang dia beli disana.

Awalnya aku memang ngerasa nggak enakkan kalo ngasih barang yang kesannya pasaran gitu, tapi Bapakku bilang, ‘sometimes you have to put yourself first than other people, it reflects that you respect yourself.’ Bener juga, kenapa aku jadi mikir nggak enakkan, dan malah memaksa si Mas berkorban untuk nggak beli barang yang dia pinginin karena kopernya berat duluan gara-gara banyak oleh-oleh yang harus dia beli. Toh gantungan kunci, T-shirt, dan pernak-pernik yang dijual di negara itu dan yang dijual di Indo yah sama aja asalnya, dari China. So, what’s the difference? :)

Setelah si Mas, gantian aku yang berangkat ke Amrik. Serunya aku nggak cuma berangkat ke satu kota aja di Wausau, aku juga mampir ke Washington DC, Philly, New York, Hersey, Lancaster, Chicago, Madison, Minneapolis, Green Bay, dan San Fransisco (cuma nebeng transit pesawat aja hehehehehe…). Untuk menyiasati oleh-oleh, dari awal sampai di Amrik aku sudah mulai bikin list siapa aja yang akan aku kasih oleh-oleh, dan listnya ternyata sampai 45 orang lho! *pingsan*

Jadi biar nggak repot-repot pas deket-deket mo pulang, dari awal aku udah mulai ngumpulin oleh-oleh. Pas ke New York mampir ke Little Italy, di dekat situ ada satu blok penjual souvenir murah. Pas Thanksgiving, aku ngeborong lotionnya Bath and Body Works (yang so lovely itu) sampe 20 botol lebih, niat banget deh. Soalnya pas Thanksgiving dealnya kalau beli dua botol gratis empat free. Jadi totalnya dapet enam botol dengan harga dua botol. Lha gimana aku nggak kalap?! hahahahaha…

Kemudian pas lagi deket natal, waktu yang tepat buat ngeborong coklat. Selain itu aku juga menyebar-nyebarkan isu ke keluarga mentorku yang mau ngasih aku hadiah natal (walaupun aku nggak ngerayain), isu kalau aku mau gantungan kunci Wisconsin, coklat, dan beberapa hal lain yang bisa aku jadiin oleh-oleh, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan niy! Hahahahaha…

Yang bikin aku tenang buat belanja dari jauh-jauh hari adalah adanya ketentuan pembeli boleh mengembalikan barang yang sudah terbeli dan belum dipakai apabila pembeli berubah pikiran. Jadi aku yah santai-santai aja kulakan coklat dan pernik-pernik. Karena pikirku kalau udah deket dengan tanggal pulang, aku bisa review lagi dan mengembalikan barang yang aku pikir terlalu berlebih. *big grin*

Untuk orang-orang terdekat, aku beli oleh-oleh yang memang aku sengaja tanya keinginan mereka apa. Dan kebetulan karna aku bergabung sebagai member di outlet-outlet, ini agak memudahkan aku karna aku bisa belanja barang yang keluarga terdekatku ingini dengan diskon yang kadang diberikan sebulan sekali oleh outlet tertentu. *I felt so blessed since I took retail management when I was in US, so I know when is the right time to shop* hihihihihihi…

Nah akhirnya sampai akhirnya empat bulan sebelum berangkat pulang. Aku mulai simulasi packing, dan hasilnya untuk oleh-oleh itu kalau dijadikan satu udah abis satu koper aja hahahaha… *sutreess* Udah gitu, sampai akhirnya denger cerita temen yang nomer dua (yang di atas), gimana kalo ada yang iri-irian. Waduhh.. makin sutreess lah aku saat itu, nggak mo pulang aja rasanya… hahahahaha…

Roommate-ku yang anak Amrik asli bingung pas ngeliat aku punya banyak oleh-oleh. Dia heran karna di Amrik biasanya kalau memberikan oleh-oleh terbatas pada keluarga inti saja. Tidak yang lainnya. Pas aku jelasin kalo aku akan ngasih sodara-sodara dari ortuku juga, dia nanya, ‘What for? Are they all so close to you?’

Aku jawab, ‘Yes..”

Dia nanya lagi, ‘All of them?’

Dalam hati, ‘Nggak semuanya juga siy…’

Karna koper membengkak sedangkan tabungan menipis, akhirnya aku bener-bener review lagi listnya dan menyusun taktik. Untuk sodaranya Bapak dan Ibu, mertua, dan mertuanya kakak yang semuanya berdomisili di Malang aku undang untuk makan malem bareng di rumah ortu. Kemudian pas acara makan malem, salah satu suguhannya coklat yang aku borong itu. Daripada ngasih satu bungkus (isi setengah kilo) kebayang kalo kalau 45 orang di list itu masing-masing dikasih satu bungkus, oohhh… Nooo… Kan kalo disuguhin rame-rame paling aku butuh tiga atau empat bungkus aja. :)

Giliran ngasih oleh-oleh, untuk mencegah kekurang-puasan penerima oleh-oleh, aku dapet ide dari temenku yang nomer satu. Kata dia, dia punya Tante yang tinggal di luar negeri. Setiap pulang kampung, dia menyediakan banyak printilan kecil yang dia bungkus lalu dimasukkan ke dalam tas besar. Nanti saat pertemuan keluarga dia bawa tas besarnya itu kemudian masing-masing orang mengambil satu bungkus dari tas tersebut tanpa boleh melihat. Apa yang diambil maka jadi milik penerima oleh-oleh, dan nggak boleh protes, kan oleh-olehnya dipilih sendiri! Hehehehehe… :P

Ide yang bagus kan?

Dari ide ini, aku modifikasi sedikit karna aku masih muda, dan banyak kerabat yang umurnya jauh lebih senior dari aku. Jadi untuk menghormati mereka, aku bikin bingkisannya semenarik mungkin. Aku masukkan dalam kantong kertas daur ulang bermotif (yang aku pesan di Jogja pas aku masih di Amrik), dan tidak lupa dikasih tissue paper *bukan yang buat wajah atau di toilet itu yah hehehehehe…* jadi kelihatan cantik. Karna aku nggak tau dimana tempat buat beli tissue paper di Jakarta, jadi aku beli tissue paper di Walmart. Pas sampe ke Jakarta semua barang yang aku butuhin buat bagi-bagi oleh-oleh sudah siap.

bingkisan oleh-olehku tampilannya mirip seperti yang digambar hanya saja kantong bingkisanku dari kertas daur ulang yang bermotif

Sebelum pulang setelah acara makan malem bareng, yang kebetulan dibarengin juga dengan merayakan ultahnya Bapak yang beda beberapa hari sebelum kedatanganku, aku meminta sodara-sodara yang datang malam itu untuk mengambil souvenir a.k.a. oleh-oleh yang sudah aku bungkus. Sodara-sodaraku bisa memilih sendiri dari keranjang besar yang penuh berisi bungkusan, karena aku membagikannya tepat sebelum pulang, maka nggak ada yang tau apa yang mereka dapatkan sampai mereka tiba dirumah dan membuka bungkusannya. Jadi nggak bisa dibandingkan dengan yang lain, dan meminimalisir rasa iri atau kecewa yang mungkin timbul. Setelah prosesi oleh-oleh berjalan lancar rasanya seneng dan plong, hilang satu beban hahahahahaha… *lebay*

Oiya, kalau ada yang penasaran berapa koper yang aku bawa saat pulang ke Indo dari Amrik, aku bawa dua koper untuk ditaruh di bagasi, yang terbesar 30 inch isinya pas 23kg, yang 27 inch terpaksa lebih berat karna aku pingin membawa beberapa buku kuliah jadi beratnya mencapai 27 kg. Untuk carry on, aku punya koper 21 inch yang isinya *jangan kaget yah!* 25 kg hehehehehehe… *I know, I know…* isinya macem-macem mulai dari buku, oleh-oleh, dan baju. Koper ini sempet dibuka oleh petugas imigrasi di Amrik karena diduga ada barang yang mencurigakan, yah aku bilang aja, ‘silahkan dibuka, tapi nanti tolong tutupin yah…’ Soalnya pas aku packing koper ini aku butuh bantuan dua orang untuk neken koper biar zipper-nya bisa ditutup hahahahaha…

Selain koper kecil, aku juga bawa backpack yang bikin sakit punggung karna bawa lappy dan netbook, dan satu hand bag untuk alat crochet-ku, maksudnya biar nggak mati gaya selama berjam-jam dipesawat. Akhirnya siy selama penerbangan panjang dengan tiga kali transit, dan totally menghabiskan waktu lebih dari 24 jam di pesawat, aku cuma berhasil bikin satu scarf! *Sebagian besar waktunya dipake buat marathon nonton serial di pesawat siy hehehehehe…*

Yah jadilah ini post panjang mengenai oleh-oleh, ribet, tapi seneng kalau ada nerima, dan kadang kecewa kalau yang nerima malah nggak suka sama oleh-olehnya. Serba salah siy, tapi aku akhirnya cuek aja, kalo oleh-oleh sudah berpindah tangan maka aku nggak pingin tau reaksinya, kalau senang sukur, kalau nggak ya nggak papa. Intinya don’t sweat small things like ‘oleh-oleh’. ;)

Working Holiday Visa Australia

credit

Pendahuluan: Dear Teman-Teman yang tertarik untuk mendaftar VISA ini, aku mendorong kalian untuk tidak segan mencoba langsung menghubungi pihak terkait mengenai pengurusan VISA ini, make a call to Australian Embassy! Nggak perlu takut, para staff disana semuanya bisa berbahasa Indonesia dan ‘WILLING TO HELP YOU’, atau kalau kalian masih ragu salah ucap dan lainnya, coba kirimkan email yang sopan pada mereka, aku beberapa kali saling berkirim email dan mereka selalu merespon dengan baik dan cepat. Jadi sekali lagi jangan segan, kalau kalian ingin mengetahui info terakhir mengenai apapun, mereka akan membantu. Apabila kalian telah mendapat info terbaru, please share here agar teman-teman yang lain tahu. Silahkan menjadikan post ini sarana diskusi dan berbagi info teman-teman sekalian. Cheers and good luck! :)

Beberapa kali ada teman melalui facebook si Mas bertanya tentang bagaimana cara kami berdua kok bisa terdampar di negara kangguru. Awalnya si Mas bisa terdampar di sini karna ada pihak yang memberikan kesempatan pada si Mas untuk mengambil gelar lanjutan yang dibutuhkan bidang kerjanya. Kemudian aku yang nggak mo ber’jablay’ lagi setelah terdampar di negaranya OmBama, ikutan men-damparkan diri di negara kangguru. :)

Saat masih terdampar di tempat OmBama dan mulai bersiap-siap untuk mengikuti si Mas, aku melihat ada beberapa jenis visa yang bisa digunakan oleh pendatang untuk berkunjung ke Aussie (aka negara kangguru). Sebagai anggota keluarga yang bersuami/istri  graduate student dan diatasnya, ada visa dependent (pendamping), dan aku memilih untuk melamar visa tersebut.

Tapi ada salah satu visa yang menarik buatku, visa itu adalah ‘Working Holiday Visa’. Awalnya aku nggak begitu peduli, tapi setelah bertemu dengan teman yang menggunakan visa ini saat tinggal di Aussie, aku jadi penasaran dan dapat penjelasan sedikit dari temanku. Ada yang penasaran juga?

Lebih jelasnya coba baca penjelasan singkatku di bawah ya…

Apakah Working Holiday Visa itu?

Working holiday visa adalah visa yang memberikan ijin pada pemegangnya untuk tidak hanya berlibur saat berkunjung tapi juga bekerja dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Negara mana saja yang memberikan visa jenis ini pada WNI?

Ada beberapa negara yang menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia dan memberikan visa ini pada WNI, listnya bisa di cari di google.

Karna ada beberapa negara yang memberikan visa semacam ini pada WNI dan persyaratannya berbeda di tiap negara, dan kebetulan aku hanya tau persyaratan mengenai visa ini untuk negara Aussie, maka aku hanya menjelaskan *sebatas pengetahuanku* working holiday visa dari pemerintah Aussie.

Informasi yang aku ambil adalah informasi yang tercantum di website kedutaan Aussie di Jakarta, di halaman ini

Secara singkat syarat dan ketentuannya adalah

Each applicant must:

  • Be between eighteen (18) and thirty (30) years old (including the ages 18 and 30) at the time the visa is applied for;
  • have tertiary qualifications, or have successfully completed at least two years of undergraduate university study;
  • apply in their home country (Indonesia or Australia);
  • have good English (for Indonesian applicants) or good Indonesian (for Australian applicants) – which is assessed as at least “functional” on a language test;
  • Have no dependent children who will join them (that is, there are no children allowed as family members on the parent’s visa);
  • have not had a visa of this type before;
  • have sufficient funds for their personal expenses for the first three months – generally this is about $5,000 AUD;
  • have good health and good character;
  • provide a letter from the relevant government department which states that the applicant meets these requirements.

People who are granted Work and Holiday visas must not:

  • be employed by any one employer for more than six (6) months;
  • engage in any studies or training for more than four (4) months.

*sengaja syarat dan ketentuannya tidak aku artikan dalam bahasa Indonesia karna salah satu syarat yang tercantum adalah ‘have good English’ kalau bisa mengerti syarat yang aku copy-paste diatas, berarti bisa ikut mendaftar (kalo tertarik). Kalo belum mengerti, mungkin nilai TOEFLnya silahkan dinaikin lagi. :) *

Lantas apakah syaratnya hanya itu saja? Dan apakah kalau bisa memenuhi syaratnya ada jaminan diterima? Jawabannya tidak dan tidak. Ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi, buka di SINI untuk tau syarat lainnya, dan aplikasi visa diterima atau tidak adalah sepenuhnya hak kedutaan Aussie untuk memutuskan.

Untuk memberikan sedikit gambaran bagi teman-teman yang tertarik dengan visa jenis ini, aku punya satu teman asal Taiwan yang menggunakan visa ini untuk tinggal dan bekerja selama setahun di Aussie. Teman Taiwanku ini sudah memiliki gelar sarjana dari universitas terkenal di negaranya dan pengalaman kerja yang cemerlang. Tapi demi ingin meraih pengalaman yang berbeda, berangkatlah dia ke Aussie selama setahun dengan visa ini.

Karena dalam salah satu penjelasan mengenai visa ini tujuan utama pemegang visa adalah berlibur dan bisa bekerja (untuk mensupport kebutuhan selama liburan setahun di Aussie), maka pemegang visa hanya bisa bekerja sebagai temporary worker dan casual worker, jangan dibayangkan pemegang visa ini bisa bekerja di kantor yang mentereng sebagai manager atau bos setara dengan pengalamannya.

Pekerjaan yang bisa didapatkan disini adalah pekerjaan casual semacam shop-assistant (pelayan toko), cleaning service, cook-asistant, dan lain-lain. Teman Taiwanku selama di Aussie, juga menanggalkan ke’keren’an yang dia miliki di Taiwan, di Aussie dengan santainya dia memilih bekerja sebagai tukang lipat koran di koran lokal kota kami, kemudian bekerja sebagai cleaning service di salah satu hotel, lalu terakhir dia bekerja di laundry.

Untuk melengkapi penjelasan diatas, aku coba memberikan gambaran rata-rata harga barang kebutuhan pokok dan gaji yang diterima oleh pekerja casual.

Sedikit mengenai bahan makanan

Nasi 2 kg: +/- 3 dollar

Indomie 1 bungkus (isi 5) : 3 dollar

Paha ayam 1 kg : 5 dollar

Susu 2 liter: 2.5 dollar

Wortel 1 kg: 2 dollar

Semangka per 1 kg: 90 cent

Untuk tempat tinggal, rata-rata disini disewakan dalam jangka waktu seminggu. Bisa menyewa kamar (semacam kost-kostan) harga seminggu-nya mulai dari 110 dollar (rate Townsville). Atau tinggal di backpackers-hostel yang harganya sekitar 24 dollar per satu hari.

Gaji yang diterima untuk pekerja casual adalah antara 10 dollar sampai 25 dollar per satu jam (belum dipotong pajak), tergantung pekerjaan masing-masing. Kalau dihitung-hitung kasar memang menarik jumlah angkanya (apalagi kalau di convert ke rupiah), tapi jangan lupa ada pengeluaran-pengeluaran lainnya yang mungkin bisa terjadi dan kemungkinan mencari pekerjaan casual/temporary yang tidak mudah pula.

Misalkan ada yang tertarik untuk mencari pengalaman atau lagi jenuh dengan rutinitas pekerjaan atau kuliah yang sedang dijalani sekarang, mungkin working holiday visa ini bisa menjadi alternatif untuk berlibur setahun di Aussie sambil bekerja.

Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan google sendiri yah! :)

NB: Kenapa aku nulis Indomie di atas? Karna Indomie sudah jadi salah satu bagian dari makanan orang Aussie, di tiap supermarket pasti bisa nemuin Indomie. Yang makan juga bukan orang Indo atau Asia aja, bule-bule di sini banyak yang makan Indomie lho! Pas minggu lalu Indomie lagi sale di supermarket mall deket rumah, tiga dollar dapet dua bungkus (masing-masing bungkus isi lima), hhmmm… hampir di tiap trolley-nya orang Asia dan bule yang papasan sama trolley-ku ada dua bungkus Indomie.

Indomie, you are rock! hahahaha…  :D *bangga banget*