Balada Oleh-Oleh Kedua

Terinspirasi dengan post milik Emy yang cerita mengenai oleh-oleh dan tips bagi penerima oleh-oleh, dan berjudul sama di Balada Oleh-Oleh! *Emy, kita sehati yah! hihihihi…*  Ini mengingatkanku pada satu hal yang kecil, penting, dan agak mengganggu, yaitu mencari oleh-oleh. *dan ternyata setelah aku selesai nulis post ini aku baru sadar (Emy juga yang ngingetin) kalo aku juga punya post dengan judul sama (Balada Oleh-Oleh) di bulan Februari tahun lalu, yang aku bikin saat aku sutreess ngeliat list oleh-oleh hahahahaha…*

Entah ini hanya budaya di Indonesia atau memang semua orang Asia juga, selalu repot dengan oleh-oleh saat bepergian. Misalnya niy kalau dulu orang tua bepergian ke luar kota atau ke lain daerah maka pulangnya akan membawa oleh-oleh. Tidak hanya untuk keluarga di rumah tapi juga saudara dan tetangga terdekat.

Karena sudah terbiasa, dan tertanam dalam pikiran kebanyakan orang di Indo, kalau ada yang cerita kalau dia baru berpergian maka lawan bicaranya akan reflek mengatakan, ‘Oleh-olehnya mana nih?’

Awalnya aku juga santai-santai aja bertanya hal seperti itu pada kenalan yang baru datang dari perjalanan jauh. Reflek siy!

Tapi setelah mengalami sendiri pengalaman menjadi orang yang ditanya, akhirnya pertanyaan itu memberatkan juga yah… Walaupun sebenarnya pertanyaan itu cuma basa-basi saja, namun sudah tertanam di benakku (dan mungkin sebagian besar orang di Indo juga) kalau ditanya seperti itu langsung buru-buru buka koper dan nyari sisa oleh-oleh yang bisa diberikan ke si penanya, alasannya, ‘nggak enak kalau nggak dikasih, karna udah ditanyain sih.’

Gara-gara pengalaman itu aku berusaha untuk nggak lagi-lagi reflek bertanya, ‘Mana oleh-olehnya?’ Takut karma! hahahahahaha….

Instead of nanya oleh-oleh, aku nanya, ‘Bagaimana perjalanannya?’, ‘Lancarkah penerbangannya?’, ‘Tempat wisata apa yang menarik disana?’ Yah semacam itulah. Pokoknya bukan lagi nanya oleh-oleh. :)

Ngomongin ‘ngarep oleh-oleh’, dulu pas aku masih kecil, yah mungkin SD menjelang SMP, aku sering banget ngarep oleh-oleh dari Tante (adiknya Bapak). Kalau beliau pulang dari dinas di luar kota aku langsung lari main ke rumahnya yang kebetulan hanya berjarak 200 meter dari rumahku, dan bisa menebak kan apa yang ada dipikiran anak kecil sepertiku, tidak lain dan tidak bukan aku ‘ngarep oleh-oleh’ hahahahahaha… :D Kebangetan yah!

Aku siy nggak dengan polosnya meminta, cuma biasanya kalau aku dateng maka si Tante akan membagikan sedikit camilan khas atau pernak-pernik khas daerah yang baru beliau kunjungi. Si Tante tau kalo wajah ponakannya mupeng, pengen oleh-oleh hahahahahaha… Lucu yah, polos gitu, tapi kalo diinget-inget lagi saat-saat itu, rasanya malluuuuu banget hahahahahaha…

Eniwei, kayanya sekarang aku terlanjur kena karma. *lebay mode on hahahaha…*

Gimana enggak, setiap kali aku atau suami bepergian kami berdua selalu bingung dengan satu hal, bukan kegiatan acaranya, bukan tempat tujuannya, tapi satu hal saat kami berdua sudah sampai kembali ke rumah, tidak lain dan tidak bukan yaitu ‘oleh-oleh’. Sebenarnya keluargaku sama sekali nggak ada yang minta oleh-oleh, tapi ya kan nggak mungkin kita mudik dengan tangan kosong, betul kan?

Kalau keluarga kami masih menyenangkan, di sisi lain ada beberapa teman yang kerabatnya agak membuat mereka jengkel karna urusan oleh-oleh. Aku tahunya saat aku mo pulang dari Amrik dan mereka sedikit berkeluh kesah tentang excess-baggage dan oleh-oleh mereka.

Sebelum cerita tentang temenku, aku kasih gambaran dulu yah, kalau bepergian ke Amrik dari Indonesia dan sebaliknya, maka satu orang akan diberikan baggage allowance sebesar 100lb (pounds) yang setara dengan 46 kg. Ini harus ditaruh dalam 2 koper dengan berat yang masing-masingnya sama yaitu 23 kg. Jumlah ini cukup besar dibandingkan dengan baggage allowance saat bepergian ke Australia, ke Eropa, atau ke beberapa negara Asia lainnya, yang hanya diberikan satu koper dengan berat 23 kg untuk tiap orang.

Rasanya 23 kg itu besar kan?

Betul angka 23 kg itu besar, dan berarti koper yang untuk mengangkut barang kita juga besar kan?

Nah, pernah menghitung beratnya koper 30 inch dalam keadaan kosong nggak? Koper merk Samsonite misalnya, yang asli dan berbahan kain, biasanya berat kosongnya adalah 6 kg. Ada juga yang versi light-weight, tapi biasanya tetap saja bobotnya masih sekitar 4 sampai 5 kg. Kebayang dong, kalau angka 23 kg itu sebenarnya bukan 23 kg, tapi hanya antara 19 kg atau malah 17 kg saja. Cuma sedikit kan? (Tumpuk 15 baju jadi satu dan itu beratnya sudah jadi 10 kg)

Kasus pertama, temen Indo yang satu program. Di suatu pagi dua bulan sebelum kita pulang ke Indo, dia cerita kalo ada beberapa orang kerabat dan temannya yang awalnya nggak pernah BBM-an dengannya sama sekali, tiba-tiba menyapa dan menanyakan kabar. Setelah sedikit berbasa-basi ketauan kalau mereka ingin menitip barang untuk dibelikan di Amrik dan minta temanku untuk membawakannya. Tentu saja temanku jadi kesal, bukan kenapa yah tapi bayangkan deh, kami tinggal setahun di Amrik dan harus menge-pack ‘our one year life’ dalam dua koper saja dengan kuota terbatas. Nah lho, kalo dia dititipin sepatu, hand bag, atau gadget, kan tinggal dikit allowance yang tersisa. Jadi kata dia, ‘I say  No-No, to friends and relatives who are not really close to me, and I only give souvenir to my best friend and my family.’

Beberapa hari kemudian temen Indo-ku cerita lagi, ceritanya semalam dia diBBM-in sama salah satu paman yang cukup dia kenal baik. Dalam hati, sebelum si Paman mengutarakan niatnya, dia pikir kalau si Paman mo nitip maka dia akan mengiyakan. Tapi ternyata dia berubah pikiran, karena titipannya si Paman agak nggak masuk akal kata dia. Cerita dia…

Temenku: Paman mo nitip apa?

Si Paman: Aku mo nitip ini lho, vitamin ‘ini’ (aku lupa namanya). Kalo beli di sono lebih murah harganya, aku dah liat di internet.

Temenku: Oo, vitamin toh… berapa biji? *sambil temenku browsing di internet nama vitaminnya, dan dia ngeliat di internet kalo botolnya berukuran sedang karena isinya 100 kapsul*

Si Paman: Kalo beli 30 gimana? Soalnya kalo tiga puluh harganya murah banget cuma 10 dollar per bijinya.

Temenku: *speacless, nunggu dua menitan untuk menghilangkan kagetnya*, sorry Paman, kayanya nggak bisa kalo 30, terlalu banyak. (for your information 10 botol vitamin/obat isi 100 kapsul beratnya bisa mencapai 5 kilo)

Si Paman: Ya udah, 20 aja deh… Itu harganya jadi 15 dollar per biji.

Temenku: Kayanya koperku sisannya nggak sebanyak itu.

Si Paman: 10 gimana?

Temenku: Aku liat koperku dulu ya Paman, nanti kalo ada sisa aku hubungi Paman lagi. (berusaha untuk memutuskan pembicaraan)

Aku yang diceritain ketawa ngakak, hahahahahahahahaha… Tega nian si Paman, nitip apa nitip… :D

Cerita yang kedua dari temenku juga, tapi beda orang. Temanku yang ini sedang sekolah di Amrik tapi lain program. Pas kita kebetulan bisa online, dia cerita kalo masalah oleh-oleh dan titipan itu bikin dia bete setengah mati. Ada yang dikasih oleh-oleh ini eh maunya yang itu, dan setelah dikasih malah ngomel-ngomel ke orang lain atau ke orang tuanya temenku. Atau ada yang suka nitip barang dan barangnya yah sama aja kaya temenku sebelumnya, jumlahnya ajaib. Kata dia solusinya setiap dia pulang ke Indo dia nggak ngasih tau kesiapa-siapa. Jadi kalau ada sodara yang tau kalau dia udah sampe di Indo dia ngasih oleh-oleh seadanya, kalau ada sodara yang nggak tau kalo dia lagi pulang ke Indo ya nggak dia kasih.

Cerita ketiga dari seorang Ibu yang tinggal deket dengan kotaku, *and she was a really nice lady*, setiap dia pulang ke Indo, maka dua koper bagasi dan koper carry on-nya isinya adalah oleh-oleh dan titipan sodara-sodaranya dan ponakan-ponakannya di Indo. ‘Lantas nggak bawa baju Bu?’ tanyaku. Jawabannya, ‘Yaitu yang bikin anakku ngomel-ngomel, soalnya nanti kalo aku sampe di Jakarta, pertama kali dari bandara aku minta dianterin beli baju. Lha wong aku nggak bawa baju sama sekali…’ *bengong mode on* Segitunya yah… Cinta banget si Ibu ini dengan sodara dan ponakannya, sampe nggak bawa barang-barang yang dia butuhin. Kayanya aku nggak bisa segitunya deh. :)

Nggak jauh beda dilematisnya dengan cerita-cerita diatas, aku kadang suka bingung masalah oleh-oleh. Kalau si Mas ke luar pulau atau ke luar negeri dia biasanya menyempatkan beli oleh-oleh, tapi dasarnya cowo kadang kurang perhatian kalau kami punya sodara ini dan itu yang juga sebaiknya diberi, ini atas saran Ibuku. Ibuku adalah anak ke tujuh dari 13 bersaudara, dan Bapakku adalah anak pertama dari lima bersaudara.  Belum lagi, apalagi kalau Pakdhe-Budhe dam Om-Tante sudah punya anak-anak yang berkeluarga. Berarti jumlah penerima oleh-oleh bertambah, dan ini belum ditambah sodara dari pihak si Mas. Kalau saran Ibuku, paling tidak semuanya dikasih kenang-kenangan. *wajah sedih liat dompet dan liat sisa baggage allowance*

Setelah beberapa kali mengalami kerepotan yang sama, yaitu baggage allowance yang terbatas, maka kami mengerti kalau oleh-oleh itu bisa disiasati. Kalau sehabis bepergian dari negara-negara di Asia, maka oleh-oleh untuk sodara jauh kita cari di mangga dua sajjaah… Kenapa? Karena disana banyak yang jual gantungan kunci ‘I love Singapore’, ‘I love Bangkok’, dan ‘I love’ – ‘I love’ lainnya. Jadi instead of koper berat dengan oleh-oleh, koper si Mas bisa dimanfaatkan untuk membawa buku untuk kepentingan kerja yang dia beli disana.

Awalnya aku memang ngerasa nggak enakkan kalo ngasih barang yang kesannya pasaran gitu, tapi Bapakku bilang, ‘sometimes you have to put yourself first than other people, it reflects that you respect yourself.’ Bener juga, kenapa aku jadi mikir nggak enakkan, dan malah memaksa si Mas berkorban untuk nggak beli barang yang dia pinginin karena kopernya berat duluan gara-gara banyak oleh-oleh yang harus dia beli. Toh gantungan kunci, T-shirt, dan pernak-pernik yang dijual di negara itu dan yang dijual di Indo yah sama aja asalnya, dari China. So, what’s the difference? :)

Setelah si Mas, gantian aku yang berangkat ke Amrik. Serunya aku nggak cuma berangkat ke satu kota aja di Wausau, aku juga mampir ke Washington DC, Philly, New York, Hersey, Lancaster, Chicago, Madison, Minneapolis, Green Bay, dan San Fransisco (cuma nebeng transit pesawat aja hehehehehe…). Untuk menyiasati oleh-oleh, dari awal sampai di Amrik aku sudah mulai bikin list siapa aja yang akan aku kasih oleh-oleh, dan listnya ternyata sampai 45 orang lho! *pingsan*

Jadi biar nggak repot-repot pas deket-deket mo pulang, dari awal aku udah mulai ngumpulin oleh-oleh. Pas ke New York mampir ke Little Italy, di dekat situ ada satu blok penjual souvenir murah. Pas Thanksgiving, aku ngeborong lotionnya Bath and Body Works (yang so lovely itu) sampe 20 botol lebih, niat banget deh. Soalnya pas Thanksgiving dealnya kalau beli dua botol gratis empat free. Jadi totalnya dapet enam botol dengan harga dua botol. Lha gimana aku nggak kalap?! hahahahaha…

Kemudian pas lagi deket natal, waktu yang tepat buat ngeborong coklat. Selain itu aku juga menyebar-nyebarkan isu ke keluarga mentorku yang mau ngasih aku hadiah natal (walaupun aku nggak ngerayain), isu kalau aku mau gantungan kunci Wisconsin, coklat, dan beberapa hal lain yang bisa aku jadiin oleh-oleh, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan niy! Hahahahaha…

Yang bikin aku tenang buat belanja dari jauh-jauh hari adalah adanya ketentuan pembeli boleh mengembalikan barang yang sudah terbeli dan belum dipakai apabila pembeli berubah pikiran. Jadi aku yah santai-santai aja kulakan coklat dan pernik-pernik. Karena pikirku kalau udah deket dengan tanggal pulang, aku bisa review lagi dan mengembalikan barang yang aku pikir terlalu berlebih. *big grin*

Untuk orang-orang terdekat, aku beli oleh-oleh yang memang aku sengaja tanya keinginan mereka apa. Dan kebetulan karna aku bergabung sebagai member di outlet-outlet, ini agak memudahkan aku karna aku bisa belanja barang yang keluarga terdekatku ingini dengan diskon yang kadang diberikan sebulan sekali oleh outlet tertentu. *I felt so blessed since I took retail management when I was in US, so I know when is the right time to shop* hihihihihihi…

Nah akhirnya sampai akhirnya empat bulan sebelum berangkat pulang. Aku mulai simulasi packing, dan hasilnya untuk oleh-oleh itu kalau dijadikan satu udah abis satu koper aja hahahaha… *sutreess* Udah gitu, sampai akhirnya denger cerita temen yang nomer dua (yang di atas), gimana kalo ada yang iri-irian. Waduhh.. makin sutreess lah aku saat itu, nggak mo pulang aja rasanya… hahahahaha…

Roommate-ku yang anak Amrik asli bingung pas ngeliat aku punya banyak oleh-oleh. Dia heran karna di Amrik biasanya kalau memberikan oleh-oleh terbatas pada keluarga inti saja. Tidak yang lainnya. Pas aku jelasin kalo aku akan ngasih sodara-sodara dari ortuku juga, dia nanya, ‘What for? Are they all so close to you?’

Aku jawab, ‘Yes..”

Dia nanya lagi, ‘All of them?’

Dalam hati, ‘Nggak semuanya juga siy…’

Karna koper membengkak sedangkan tabungan menipis, akhirnya aku bener-bener review lagi listnya dan menyusun taktik. Untuk sodaranya Bapak dan Ibu, mertua, dan mertuanya kakak yang semuanya berdomisili di Malang aku undang untuk makan malem bareng di rumah ortu. Kemudian pas acara makan malem, salah satu suguhannya coklat yang aku borong itu. Daripada ngasih satu bungkus (isi setengah kilo) kebayang kalo kalau 45 orang di list itu masing-masing dikasih satu bungkus, oohhh… Nooo… Kan kalo disuguhin rame-rame paling aku butuh tiga atau empat bungkus aja. :)

Giliran ngasih oleh-oleh, untuk mencegah kekurang-puasan penerima oleh-oleh, aku dapet ide dari temenku yang nomer satu. Kata dia, dia punya Tante yang tinggal di luar negeri. Setiap pulang kampung, dia menyediakan banyak printilan kecil yang dia bungkus lalu dimasukkan ke dalam tas besar. Nanti saat pertemuan keluarga dia bawa tas besarnya itu kemudian masing-masing orang mengambil satu bungkus dari tas tersebut tanpa boleh melihat. Apa yang diambil maka jadi milik penerima oleh-oleh, dan nggak boleh protes, kan oleh-olehnya dipilih sendiri! Hehehehehe… :P

Ide yang bagus kan?

Dari ide ini, aku modifikasi sedikit karna aku masih muda, dan banyak kerabat yang umurnya jauh lebih senior dari aku. Jadi untuk menghormati mereka, aku bikin bingkisannya semenarik mungkin. Aku masukkan dalam kantong kertas daur ulang bermotif (yang aku pesan di Jogja pas aku masih di Amrik), dan tidak lupa dikasih tissue paper *bukan yang buat wajah atau di toilet itu yah hehehehehe…* jadi kelihatan cantik. Karna aku nggak tau dimana tempat buat beli tissue paper di Jakarta, jadi aku beli tissue paper di Walmart. Pas sampe ke Jakarta semua barang yang aku butuhin buat bagi-bagi oleh-oleh sudah siap.

bingkisan oleh-olehku tampilannya mirip seperti yang digambar hanya saja kantong bingkisanku dari kertas daur ulang yang bermotif

Sebelum pulang setelah acara makan malem bareng, yang kebetulan dibarengin juga dengan merayakan ultahnya Bapak yang beda beberapa hari sebelum kedatanganku, aku meminta sodara-sodara yang datang malam itu untuk mengambil souvenir a.k.a. oleh-oleh yang sudah aku bungkus. Sodara-sodaraku bisa memilih sendiri dari keranjang besar yang penuh berisi bungkusan, karena aku membagikannya tepat sebelum pulang, maka nggak ada yang tau apa yang mereka dapatkan sampai mereka tiba dirumah dan membuka bungkusannya. Jadi nggak bisa dibandingkan dengan yang lain, dan meminimalisir rasa iri atau kecewa yang mungkin timbul. Setelah prosesi oleh-oleh berjalan lancar rasanya seneng dan plong, hilang satu beban hahahahahaha… *lebay*

Oiya, kalau ada yang penasaran berapa koper yang aku bawa saat pulang ke Indo dari Amrik, aku bawa dua koper untuk ditaruh di bagasi, yang terbesar 30 inch isinya pas 23kg, yang 27 inch terpaksa lebih berat karna aku pingin membawa beberapa buku kuliah jadi beratnya mencapai 27 kg. Untuk carry on, aku punya koper 21 inch yang isinya *jangan kaget yah!* 25 kg hehehehehehe… *I know, I know…* isinya macem-macem mulai dari buku, oleh-oleh, dan baju. Koper ini sempet dibuka oleh petugas imigrasi di Amrik karena diduga ada barang yang mencurigakan, yah aku bilang aja, ‘silahkan dibuka, tapi nanti tolong tutupin yah…’ Soalnya pas aku packing koper ini aku butuh bantuan dua orang untuk neken koper biar zipper-nya bisa ditutup hahahahaha…

Selain koper kecil, aku juga bawa backpack yang bikin sakit punggung karna bawa lappy dan netbook, dan satu hand bag untuk alat crochet-ku, maksudnya biar nggak mati gaya selama berjam-jam dipesawat. Akhirnya siy selama penerbangan panjang dengan tiga kali transit, dan totally menghabiskan waktu lebih dari 24 jam di pesawat, aku cuma berhasil bikin satu scarf! *Sebagian besar waktunya dipake buat marathon nonton serial di pesawat siy hehehehehe…*

Yah jadilah ini post panjang mengenai oleh-oleh, ribet, tapi seneng kalau ada nerima, dan kadang kecewa kalau yang nerima malah nggak suka sama oleh-olehnya. Serba salah siy, tapi aku akhirnya cuek aja, kalo oleh-oleh sudah berpindah tangan maka aku nggak pingin tau reaksinya, kalau senang sukur, kalau nggak ya nggak papa. Intinya don’t sweat small things like ‘oleh-oleh’. ;)

Pengalaman Pertama Memasak Lidah Sapi

As some of my lovely friends already asked me about my first experience cooking a beef tongue, by this post I want to share it. Enjoy!

Walaupun aku bukan penggemar fanatik ‘jeroan’,  tapi aku dan si Mas punya kenangan indah dengan lidah sapi. Cuiitt..cuiitt… :p
Ceritanya dulu pas resepsi nikahan kami, salah satu menu yang melekat indah di benak kami adalah semur lidah sapi. Pas kami nyoba rasanya enaaakk… Entah apa ini karena kami makannya setelah acara jadi pas luaper buanget atau emang beneran enak hehehehe… Tapi walaupun kami nggak yakin mana yang tepat, tetep aja setiap kami ke Malang, kami nyempetin untuk makan semur lidah sapi di restoran tempat resepsi kami. Atau kalau kami ke rumah makan ‘Oen’ yang terkenal itu, menu yang dipilih pasti bistik lidah sapi mereka yang melegenda dan selalu dapet banyak bintang saat direview ahli kuliner.
Kemudian pas di Oz kami kangen sama lembut dan kenyalnya bagian sapi yang nggak bertulang ini. Beberapa kali ngomongin lidah sapi, dua minggu lalu si Mas nyletukin ide untuk masak lidah sapi. Whooaa… ngebayangin lembut seratnya udah bikin kami makin mupeng. Kebetulan kami punya langganan butcher yang memasok daging halal, dan kadang mereka ngejual ‘jeroan’ kambing atau domba juga, tapi nggak pernah aku liat mereka jual lidah, langsung aja aku punya ide untuk nanya ke mereka.
Hmm… dengan berharap banget aku ngirim e-mail ke butcher langganan, nanya apa aku bisa pesen lidah sapi halal. Biar si butcher makin tersentuh, aku agak ngerayu dengan bilang kalo masakan dengan lidah sapi adalah makanan favorit suami dan ini mo dijadikan anniversary gift.

Besoknya pas terima balesan emailnya, ternyata kata butchernya mereka selalu jual, eeennn yang bikin aku agak malu-malu pas ambil pesenanku, katanya banyak juga yang beli jadi nggak perlu special order. Wah kecele, malu deh… hehehehe :D

Si Mas yang ngebaca e-mail ku malah ngegodain kalo dy nggak akan bantuin masak, “Kan hadiah anniversary buat suami” sambil kedip-kedip mata.
Tiba lah hari dimana aku janjian ma butcher buat ngambil pesenanku, aku paginya nervous-nervous gimana gitu. Ini kan bakal jadi pengalaman masak lidah pertama kalinya, tapi yang keinget di pikiranku saat itu cuma repot proses persiapan dan memasaknya. Antara nervous dan males, aku mulai nyari-nyari resep di detik-detik terakhir, setelah googling dan membandingkan banyak resep. Diantara banyak resep yang sulit dan rumit, aku nemu satu yang mudah. Horrayyy!! Mungkin karna nervous, pas nemu resep yang mudah rasanya mendongkrak optimisme kalau aku akan sukses masak semur niy! *keliatan banget kalo beneran gagap dapur hahahaha… :D *
Setelah semua bahan terkumpul, dimulailah petualangan memasak lidah sapi!! Setelah ada sedikit argumentasi dengan sang juri master chef (baca: si Mas) yang katanya awalnya nggak mo bantuin masak tapi malah ngasih tips-tips aneh pas aku lagi berusaha ngulitin lidah, yang bikin aku makin mikir bahwa masak lidah sapi tuh repot.
Eh, baru sepertiga lidah aku kulitin, saking penuh konsentrasi sekali, jariku malah keiris! *ngambek, nggak mo masak lagi! huhuhuhu…* Si mas yang ngeliat istrinya jarinya berdarah ternyata lebih panik daripada korbannya, dan nyuruh aku untuk nggak nerusin. Akhirnya malah si Mas yang ngulitin ampe bersih. Aku ngapain? Aku yah duduk-duduk aja ngeliat si Mas ngulitin, sambil dengan bebas buka-buka facebook, kan lagi recovery hehehehe… *big grin*
Abis lidah terkuliti sampai bersih, aku rebus lidah yang udah dipotong menjadi empat bagian dengan air kurang lebih 1,5 literdi rice-cooker. Tambah dengan dua sendok garlic mince, sedikit garam dan merica. Kemudian rebus selama 3 jam atau sampai lidah mencapai tingkat keempukan yang diinginkan.
Aku masak di rice-cooker karna aku nggak punya pressure-pan, dan kompor di tempat kami ini nggak ada api kecilnya. Ngerebus air 2 liter di api kecil selama 15 menit udah gosong aja, saking panasnya. Jadi tempat yang paling pas buat slow-cooking ya rice-cooker tercinta. Love you, rice-cooker! You’re rock!! Hahahaha…
Nah setelah empuk, ada dua masakan yang aku bikin. Pertama bistik lidah sapi. Lidah sapi yang sudah empuk aku potong dengan ketebalan kurang lebih 1 cm, kemudian aku sauté (menggoreng dengan sedikit butter dengan api panas). Lalu disajikan dengan asparagus yang dimasak dengan cara yang sama, dan yang paling pas disajikan dengan mashed potato atau sweet corn atau nasi panas kalau punya suami yang masih terlalu cinta sama nasi. Huhuhu…enak…

Eeennn, masakan yang kedua adalah masakan yang paling penting, semur lidah!! *tepuk tangan*

Setelah lidah empuk dan sudah siap diolah, ternyata cara mengolahnya mudah sekali. Tinggal cemplung-cemplung aja. Ditunggu tiga puluh menit udah siap untuk disajikan. Syeedaapp…

Tapi jangan tanya butuh berapa lama buat ngabisinnya. Kan kalau based on alasan di e-mail yang aku karang-karang itu, maunya bisa awet sampai pas the day anniversary kami, walaupun aku sengaja masaknya tiga hari sebelumnya. Eh lha kok ternyata suamiku suka banget, akhirnya semurnya nggak bertahan lama. Tapi sukurnya pas the day kami masih ada sisa-sisa semur yang berhasil aku selamatkan beberapa hari sebelumnya yang pas porsinya untuk sekali makan.

Alhamdulillah, anniversary ke tiga, dapet hadiah yang pas di hati, dan makan makanan istimewa. Horray lengkap deh!! :)

Oiya, resep aku bagi di post selanjutnya aja yah. Biar post ini nggak kepanjangan hehehehe…

Kalau ada yang penasaran kira-kira abis ini aku dan si Mas mo masak lidah sapi lagi atau kami udah kapok, jawabannya alhamdulillah belum kapok. Rencananya siang ini kami mo kirim email buat pesen lidah sapi lagi. Hmm… enaknya dimasak apa yah kali ini, ada yang punya ide? bagi donk… :)  

Where are We Gonna be Next Year?

If I could fall Into the sky Do you think time Would pass me by ‘Cause you know I’d walk A thousand miles If I could Just see you Tonight (A Thousand Miles – Vanessa Carlton)



On the same day last year, I was in the United States and my husband, si Mas, was in Indonesia. Today, I am in Indonesia and he is in Australia. Hmmm, and what about next year, where are we gonna be?

Facebook, August 17, 2011.