Invitation by Email

Pertamannya siy nggak kepikiran, tapi pas kemarin browsing dan nemu gambar ini, lupa dari site mana.

Jadi lah kepikiran untuk bikin undangan via email, jadi yang via email nggak cuman sekedar teks aja, tapi ada gambar qta. Nah abis nyari-nyari foto yang sekiranya cukup pas dengan mau-qu, nah dipilih lah foto ini. Dan voila… hehehehe lumayan-lumayan..

Curhat Tentang KUA dan Cara Ngurus Persyaratan Menikah

Kemarin liat di blognya Anggi and blog lain juga (lupa punya sapa) isinya siy ngebahas mengenai “mengurus surat di KUA”. Ceritanya yah gitu nggak jauh-jauh dari hal yang bikin qta males banget untuk berhubungan dengan hal-hal yang berbau birokrasi (bener ga yah tulisannya). Yah walaupun emang rumit and costy (hehehehe, istilah ngawur niy) aq and Ay agak bersyukur qta nikah di Malang. Selain karena KTP qta masih KTP Malang, di Jakarta qta kan manusia-manusia pendatang, ternyata biaya menikah di Malang tuh masih murah.

Dari ceritanya blog-blog sebelah, ternyata biaya menikah di Jakarta tuh bisa mencapai 1.5 jt. Weleh… aq jd ngelus dada. Untuk administrasi musti bayar 500,000 IDR, then buat penghulunya tuh 1 jt. Nah, coba kalo qta itung-itungan.. kata kepala KUA di tempat aq, “Bulan Dhulhijjah itu biasanya yang paling rame. Sebulan bisa ada sekitar seratusan lebih pasangan yang menikah, penghulu bisa menikahkan sampai lima orang sehari.” Whuiih… kalau di Jakarta yang bisa dibilang lebih luas wilayahnya plus lebih padat, yang berarti lebih banyak orang dan kemungkinan pasangan yang menikah juga otomatis lebih banyak, penghulu disana bisa panen besar tuh. I do understand kenapa makin banyak aja orang yang milih ikut menikah masal.

Then, how about in Malang? Di Malang yang note-bane nya adalah kota kecil, biaya menikah tidak terlalu semencekik di Jakarta. Kemarin setelah Lebaran aq ma Ay nyempetin untuk ngeberesin KUA. Untuk urusan administrasinya qta kemarin musti bayar 300,000IDR katanya siy sesuai dengan “Perda Pemkot Malang”, nggak ngerti beneran ada apa nggak. Plus untuk biaya ini itu qta tambahin lagi 50,000IDR. Setelahnya qta dioper ke kepala KUA-nya yang ternyata tuh ada hubungan sodara tapi juaaaauuuuhhh banget. Dan setelah ngobras (ngobrol sana-sini) si Bapaknya bilang yang akan jadi penghulu pernikahan qta.

Nah mengenai biaya penghulu, honestly aq nggak tau. Kata Om-ku yang dah biasa ngurusin masalah-masalah seperti ini qta biasanya ngasih amplop aja, isinya terserah qta. Ouw..gitu toh. Berarti ini masih lebih “njawani” karena kalau di Jakarta biaya penghulu udah dipatok dari awal. Ampun deh…

Itu tadi mengenai biaya di KUA, hal yang paling penting ketika ke KUA selain bawa uang, ini penting karena kemarin pas aq follow-up penghulu-ku ada sepasang calon pengantin yang datang mengurus tapi nggak bawa uang cukup, yah akhirnya mereka disuruh balik lagi besoknya dan baru bisa melanjutkan pengurusan setelah uang administrasi dipenuhi. Ok, balik ke hal penting selain uang administrasi adalah berkas-berkas pengurusan.

Pertama qta musti ngurus di RT dan RW, bikin surat bahwa akan menikah.

Kedua, goes to kantor kelurahan. Bawa surat dari RT/RW bersama fotokopi KK, fotokopi KTP dan pas foto 4×6 dan 3×4 sebanyak 6 lembar. Untuk jaga-jaga biar nggak bolak-balik bawa fotokopi KK, KTP dan pas foto calon suami kita juga dan KK kita yang asli, karena biasanya mereka butuh untuk mengisi salah satu dari formulir N1-N4 itu. Oiya, yang patut diingat adalah foto yang dibutuhkan adalah foto yang berlatar-belakang warna biru.
Di sini qta akan mengisi formulir N1-N4. Dan setelahnya jangan lupa siap-siap buka dompet untuk biaya administrasi.

Ketiga, goes to KUA. Bawa semua berkas yang qta dapat dari kantor kelurahan. Kebetulan aq dan Ay di satu kelurahan yang sama, namanya juga tetangga :) , jadi lebih mudah buat Ay karena nggak perlu mengurus surat numpang menikah. Bawa juga ijasah terakhir dari masing-masing mempelai dan surat keterangan bahwa sudah pernah suntik TT bagi CPW.

Biasanya penghulu yang mengurusi berkas-berkas ini akan menawarkan paket cepat, jadi tidak perlu ikut kelas preWed or semacam pembekalan pernikahan. Kalau mau, maka qta akan segera dibuatkan sertifikat bahwa telah mengikuti pembekalan dan setelah difotokopi selesailah proses pengurusan ini. Setelah itu biasanya qta akan diarahkan ke penghulu yang akan menikahkan.

Ketika dikasih tau penghulu mana yang akan menikahkan, mending langsung kenalan aja. Basa-basi dikit and minta no HP dan alamat rumah si Bapak penghulu qta. Dan jangan lupa untuk follow up, tanyain jadwalnya ketika hari menikah qta. Apa ada yang akan menikah sebelum jam qta atau nggak. Dan kalau ada tanyain dimana dan hitung waktu perjalanan dy dari tempat sebelumnya ke tempat qta.
Saran satu lagi, kalau menikah di bulan-bulan yang rame, baiknya daftar ke KUA sejak dini. Ini penting untuk booking waktu, jangan sampai acara yang udah direncanain dan di arrange waktunya musti ke-re-arrange gara-gara nggak ada penghulu yang jadwalnya kosong.

Ini tadi sedikit mengenai bagaimana ngurus persyaratan menikah di KUA dan curhat juga siy mengenai KUA. Kalau ada yang lagi ngurus persyaratan menikah, met ngurus and yang sabar yah! :)

Perijinan untuk Foto Pre Wedd di Stasiun Kota Baru dan Confetti

Tadi ada temen yang ternyata sering baca blog ini (tx a bunch, tinggalin comment donk… biar makin rame) and nanya tentang hasil preWedd. Hehehehe… maaf belum ada, masih di Mas Aan dalam proses pemolesan, nanti kalau udah ada pasti aq post.
Anyway, kemarin ada juga yang tertarik untuk foto di dua tempat yang aq pakai dan nanya tentang gimana teknis minta ijinnya. Here they are…

1. Stasiun Kota Baru Malang
Karena ini merupakan instansi yang menangani transportasi massal dan cukup vital di kota Malang, dan cukup bersejarah – ini yang bikin aq pingin banget foto disini, untuk mendapatkan ijin melakukan pemotretan di Stasiun Kota Baru Malang qta harus membuat surat permohonan.

Kemarin atas petunjuk dari Bu Din –staff Stasiun—Ay bikin satu lembar permohonan. Dan alhamdulillah langsung disetujui. Besoknya ketika qta akan mulai, qta harus confirm ke pihak keamanan stasiun –Pak Tommy—untuk koordinasi lebih lanjut. Kalau mau ambil moment yang banyak penumpang hilir mudik, berarti ambil ketika pagi (jam 7-9) di hari Sabtu.

Kalau mau ambil kereta yang kelas bisnis berarti fotonya pas sore-sore aja. As easy as that. Oiya, untuk stasiun aq siy nggak ngasih uang perijinan, karena mereka juga nggak minta. Yang paling penting siy, prosedurnya diikuti –bikin surat dan koordinasi ma petugas keamanan- dan mereka akan menyambut qta dengan tangan terbuka.

2. Confetti

Kalau yang ini jauh lebih mudah. Untuk memakai restaurant mini yang ada di Jl. Galungung ini cukup via telpon aja, dan nanti akan dijelaskan oleh pak Tyo gimana teknisnya. Mereka siy ngebebasin kapan aja mau ambil foto, tapi biasanya disarankan sekitar jam 10 pagi, selain masih belum masuk jam makan siang –yang berarti masih sepi dan lebih leluasa— sinar mataharinya juga pas untuk pengambilan foto.

Di Confetti, qta juga nggak bayar untuk pengambilan foto. Cuma qta musti pesen makan or minum aja, jumlahnya terserah nggak pake limit minimal.Pingin liat dekorasi restaurant ini, liat di post aq sebelumnya pas meeting ma mas Aan yah…