Lain Ladang Lain Belalang, Lain Negara Lain Bahasa

Walaupun aku udah belajar bahasa Inggris mulai dari sekolah dasar, tapi ternyata masih aja sering mengalami kejadian awkward kalo lagi ngomong sama bule. Awal tinggal di Aussie, karena tidak terbiasa dengan aksen Aussie yang berbeda dengan aksen Amerika yang biasa aku dengarkan, beberapa kali aku suka bengong kalo ditanya.

Misalnya saat makan di restauran di pulau Magnetic. Ketika aku ditanya oleh waitress mau minum apa, dan aku bilang aku nggak pesan minuman, dia bilang, ‘Do you want some water?’ yang kata ‘water’ dilafalkan dengan bunyi [wata] (seperti ‘ta’ dalam kata ‘tangga’). Sukses bikin aku bengong, sukurnya ada si Mas yang sigap menjelaskan kalo yang dimaksud si mbak waitress itu ‘air putih’, oalaah…

Orang Australia juga menggunakan banyak kata yang berbeda dengan orang Amrik. Salah satunya saat beli kentang goreng. Kalau salah sebut penjualnya jadi malah bengong, ini biasanya sering dialami sama temen-temen dari Amrik yang tinggal di sini. Kalo di Amrik saat kita ingin pesan kentang goreng, kita bilangnya ‘fries’. Tapi kalo di Aussie kita musti bilang ‘chips’. Di Amrik ‘chips’ hanya berlaku untuk makanan macam keripik atau kerupuk aja. Sedangkan di Aussie, ‘chips’ digunakan untuk keduanya, kentang goreng dan makanan sejenis keripik juga. Sama juga kalau di Amrik aku terbiasa dengan kata shrimp, di Aussie mereka pakai kata prawn. Ada banyak lagi yang berbeda di cara pengucapan dan penggunaan kata antara dua negara tersebut.

Satu lagi, ada kebiasaan orang Aussie yang suka menyingkat kata dalam pengucapan, seperti nama negaranya yang disingkat jadi Oz, karena mereka melafalkan nama negaranya dengan [oz-tra-lia]. Dan orang Australia, yang dalam bahasa Inggris tertulis sebagai Australian, biasa diucapkan singkat menjadi Ozzy. Contoh beberapa kata lainnya adalah good day jadi g’day, McDonald jadi Macca, kata barbecue jadi barbie, breakfast jadi breakkie, football (rugby) jadi footy, biscuit jadi bekkie, Brisbane jadi brissy, dan masih banyak lainnya. Dengar-dengar *based on gossip* kebiasaan menyingkat ini muncul karena ‘stereotype’ orang Aussie yang terkenal sebagai ‘laid-back person’. Kalau diartikan adalah orang dengan pribadi yang santai. Jadi kalo ngomong nggak mo yang panjang-panjang, kalo bisa disingkat-singkat aja, biar praktis hahahaha… :D

Bagiku kadang kesal juga sih saat lawan bicara nggak ngerti apa yang dia maksud atau apa yang aku maksud, tapi selebihnya jadi sesuatu yang menyenangkan, karena kalau diingat-ingat lagi bikin ketawa juga akhirnya. Lama-kelamaan akhirnya aku terbiasa juga, dan aksen yang aku pakai jadi agak campur-campur. Aku mulai sadar kalau aksen Amrik yang aku poles mati-matian saat aku kuliah dua tahun lalu mulai tercampur aksen Aussie, saat aku ngobrol online dangan salah satu keluarga mentorku. Karena di akhir obrolan kita, si keluarga mentorku memuji kalo aksenku mulai terdengar seperti orang Aussie, hahahahaha… yeee…*orang Aussie sering sekali mengatakan kata ‘yeee’ dengan pengucapan [e] dalam kata enak, dengan arti yang sama saat orang Amrik mengatakan, ‘yeah’, ‘yup’, atau ‘yes’*

Kesimpulannya, lain ladang lain belalang, lain kolam lain ikannya. Sama-sama bahasa Inggrisnya tapi berbeda. *Kenapa bahasa internasionalnya bukan bahasa Indonesia aja sih… Kan gampang, nggak ada ‘time difference’ pula… hehehehe… *

Nah giliran salah ucap nih sekarang. Saat masih belum terbiasa dengan pengucapan bahasa Inggris aku sering salah ucap seperti saat mengucapkan kata ‘salmon’, aku baca [sal'mon], harusnya dibaca dengan pengucapan [sal'men] dengan huruf ‘e’ yang dilafalkan seperti dalam kata ‘mendadak’.

Atau cerita salah satu teman Indonesia yang sudah lama tinggal di Aussie, saat dia mudik ke Jakarta. Salah satu keponakannya bertanya tentang maskapai penerbangan apa yang digunakan. Saat dia bilang dia menggunakan Qantas, si ponakan yang merasa super-pro berbahasa Inggris mengkoreksi pengucapannya, ‘Tante, bukan itu begitu, harusnya Qantas [ken'tes].’ (kedua ‘e’ dilafalkan sama seperti kata ‘enak’)

Si Tante berusaha memberitahu bahwa pengucapan yang benar adalah Qantas [kuan'tes], tapi si ponakan tetep keukeuh pada pendiriannya. Lha yang tinggal di Oz siapa yah? Hahahaha…

Sama juga saat kebanyakan orang Indonesia yang terbiasa dengan anggapan apabila ada kata dalam bahasa Inggris yang menggunakan huruf vokal ‘u’ di tengah kata maka akan diucapkan menjadi ‘a’. Maka semua kata yang mengandung huruf vokal ‘u’ di tengah dilafalkan dengan ‘a’, akan tetapi itu tidak berlaku untuk semua kata. Salah satu pengecualiannya adalah kata ‘butcher’. Beberapa kali aku mendengar teman-teman dari Indonesia yang baru datang ke Aussie mengucapkan kata butcher dengan pengucapan yang salah, kata ini dibaca [ba-cher] padahal harusnya dibaca [bu-cher] (dengan pengucapan saat kita mengucapkan kata ‘ibu’) .

Ayoo… apa ada yang pernah punya pengalaman salah ucap kata? Kalo ada, sama dong! *toss dulu* hihihihihi… :p

Greek Festival and International Rugby Match

Hari Sabtu kemarin bisa dibilang hectic banget, karena aku dan si Mas punya dua kegiatan yang nggak pingin kami lewatkan. Yang pertama Greek Festival yang diadakan local greek community, dan yang kedua adalah pertandingan rugby antara Australia dengan New Zealand.

Greek Festival

Karena Australia pada dasarnya adalah negara imigran (sama seperti Amerika Serikat dan Kanada), maka banyak komunitas-komunitas yang terbentuk di negara ini berdasarkan negara asal pendatang. Ini terjadi pula di Townsville, terlebih karena Townsville adalah kota pekerja, maka banyak pendatang-pendatang dari negara lain pindah ke kota ini sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Untuk mempertahankan budaya mereka sekaligus memperkenalkannya pada masyarakat luas di kota ini, masing-masing komunitas setiap setahun sekali mengadakan festival budaya mereka di Townsville. Kali ini adalah giliran komunitas yang datang dari Yunani (Greece, orang Yunani = Greek).

Sejak sebulan yang lalu di beberapa tempat di Townsville sudah mulai terpasang pengumuman tentang festival ini. Saat melihat iklannya dua hal yang membuat aku tertarik untuk datang, pertama tempatnya bisa kami jangkau *maklum busmania* dan yang kedua ada tulisan di highlight ‘free of entry’ *siapa coba yang bisa nolak gratisan? hehehehe…*. Setelah browsing jadwal acara festival ini di internet, kami berdua sengaja berangkat sebelum dhuhur, karena kami berencana untuk tidak berlama-lama di sana dan hanya berada di sana saat acara budaya dan hiburan yang ingin kami tonton dimulai.

Saat kami sampai di tempat festival, kami berkesimpulan ternyata cukup banyak orang Yunani yang bermukim di Townsville, terbukti dengan meriahnya festival yang mereka adakan. FYI, bosku, si pemilik perusahaan tempat aku memburuh juga orang keturunan Yunani lho! *berarti banyak kan?*

Ada beberapa venues di acara festival kemarin, ada amusement park kecil-kecilan untuk anak-anak *kaya pasar malem gitu*. Ada Agora Market yang merupakan pasar yang menjual sayuran dan barang-barang khas Yunani. Ada beberapa toko makanan, mulai dari pasar makanan Yunani, sampai stand untuk minum kopi. Dan yang terakhir adalah tempat yang kami tuju, panggung hiburan, yeay!

*mmm… sebenernya ada arti dibalik kata ‘yeay’…*

Ketika kami sampai di sana, pas banget dengan acara yang kami aku tunggu-tunggu, selain kami ingin melihat tarian khas Yunani, aku pingin liat Alvin and the Chipmunks!!! hehehehehe…

Si Mas pas ngeliat aku buru-buru cari tempat duduk agak ke depan, kemudian si Alvin dan teman-temannya keluar, langsung paham kenapa istrinya pingin cepet sampe di tempat acara, yo’i si Istri pingin liat Alvin Cs nari Macarena hehehehehe…

Mari kita skip cerita tentang trio chipmunks yang imut-imut itu dan berkonsentrasi pada hal yang khas Yunani. Setelah Alvin Cs nari dan nyanyi-nyanyi selama lima belas menit, kemudian kami disuguhi tarian Yunani yang ditarikan oleh anak-anak. Setelah itu gilirannya penari dari komunitas Yunani di Sydney yang menampilkan tarian tradisional Yunani.

Karena secara geografis Yunani terletak di Eropa bagian selatan dan berdekatan dengan jazirah Arab (Asia Barat dan sebagian negara Afrika Utara) maka musiknya mirip dengan musik dari negara Arab. Dan ada pula beberapa gerakan yang ditarikan oleh penari prianya yang mirip dengan tarian Arab. Tariannya sendiri sepertinya gabungan dari beberapa tarian karena kemarin mereka menari kurang lebih tiga puluh menit. Sukurnya tarian mereka adalah tarian rancak, jadi aku nggak ketiduran pas nonton hehehehehe…


Selain panggung hiburan yang diisi oleh tarian dan Alvin Cs, di festival ini mereka juga menampilkan band Yunani dari Sydney *yang otomatis bikin kami berdua agak bosen, karna nggak ngerti apa yang mereka nyanyiin*, acara masak-memasak, dan berbagai lomba. Seperti kompetisi olive spitting (ngeludahin buah zaitun), grape stomping (nginjek-nginjek anggur dalam tong), Greek dancing (nari Yunani), dan nggak ketinggalan yang paling khas adalah plate smashing (mecahin piring) hahahaha…

Karena si Mas ada janji sama temen-temenya untuk bikin video menyambut hari guru, maka setelah menonton tarian Yunani dan berkeliling-keliling sebentar di tempat makanan dan pasar Yunani, kami memutuskan untuk pulang.

Kanggaroos VS Kiwis

Sorenya kami punya rencana untuk menonton pertandingan rugby antara Australia (Kanggaroos) dengan New Zealand (Kiwis). Kalo boleh cerita dari awal, sebenernya aku yang piingiiin banget nonton pertandingan rugby secara langsung di stadion di kota kami, karena ada team nasional yang bermarkas di Townsville. Jadi sejak kompetisi NRL (National Rugby League) Australia dimulai awal tahun ini aku sudah mulai nyari-nyari tanggal yang pas buat nonton. Sayangnya sampai kompetisi ini berakhir aku belum bisa merasakan asiknya nonton langsung.

Kemudian di pertengahan tahun, aku dengar akan ada pertandingan Australia versus New Zealand yang akan berlangsung di sini. Awalnya nggak optimis untuk dapet tiketnya, karena tiket untuk pertandingan ini sudah mulai dijual sejak bulan Juli. Dan hari senin minggu lalu saat aku ke front-desk mall deket rumah yang kebetulan juga menjual tiketnya, kata mereka tiket untuk pertandingan tersebut sudah habis. Tapi di hari Selasa, setelah pulang dari kerja, aku ngeliat di Facebook page mall tersebut kalau mereka mengadakan giveaway, yaitu dua tiket gratis bagi tiga orang pertama.

Si Mas nanya ke aku apa aku tertarik untuk ikutan giveaway mereka. Aku jawab, ‘Iya.’ Setelah sholat ashar, kami buru-buru ke mall tersebut dan saat sampai di front-desk, aku bilang kalo aku liat pengumuman di facebook dan nanya apa tiket gratisnya masih ada. Dan ternyata masih ada!! Woott..wooott…!!

Akhirnya kami nonton pertandingan langsung di stadion kota kami!

Jadi kemarin setelah si Mas selesai bikin video dengan teman-temannya, kami berangkat naik taxi ke stadion. Kami nggak bisa naik bis khusus untuk penonton karena waktu sholat magrib yang berdekatan dengan waktu dimulainya pertandingan.

Daaan sama seperti ceritanya si Bebe di Paris, kayanya momen penting itu biasanya disertai ‘out of mind-stuff’. Silly thing yang terjadi kemarin adalah kami nggak bisa masuk stadion karena si Mas membawa kamera DSLRnya plus lensa panjang. Oohhh my…

Kesalahannya kami nggak membaca peraturan yang tercantum di balik tiket sebelumnya. Ugghh… sebagai orang yang rajin ngebaca surat kontrak dan perjanjian, lha ini kok bisa aku kelupaan ngebaca… Akhirnya kami balik lagi ke rumah kemudian kembali lagi ke stadion, karena bis penonton baru akan jalan setelah pertandingan usai, maka kami harus naik taxi. Huhuhuhu… Biaya naik taxinya mahal euy… :(

Tapi itu semua pikiran mengenai biaya taxi yang mahal terhapus saat kami masuk stadion, karena kami ternyata dapet kursi enak. Tempat kami duduk ada tribun yang deket dengan lapangan dan sisi yang ‘ekslusif’. Sampai-sampai supervisor di bagian kerjaku pas aku kasih tau kalo aku dapet tiket di sisi ini, dia bilang kalo aku dapet sisi yang enak banget *dan mahal*.

Pertandingannya seru banget, apalagi saat tim Kanggaroos bisa ngalahin tim Kiwis, 18-10. Horray!!

Nah ada yang sempet nanya kenapa aku seneng nonton rugby, jawabannya panjang kalo dijelasin hehehehe… Kalau disingkat, dulu pas di Amrik, keluarga mentorku seneng banget nonton american football, yang mana sekilas mirip dengan rugby. Jadi pas aku nonton rugby pertama kali aku bisa mengerti cara main mereka. Tapi jangan nanya apakah rugby dengan american football mirip pada masing-masing pendukung olah raga ini, karena mereka akan spontan ngejawab, ‘Noooo!!’ dengan nada tersinggung. Intinya mereka nggak mau olah raga yang dicintai disamakan dengan olah raga lain hehehehe… *padahal ya mirip-mirip lho…*

Di pertandingan seru ini semua tiket ludes terjual dan totalnya ada 26.479 orang yang datang malam kemarin, padahal kapasitas maksimal stadion ini adalah 26.500 orang. Kebayang kan penuhnya…

Dan kebayang pula ngantri busnya untuk balik pulang, yang paaaaaaaaannnnjjjaaaaaaaanggg dan laaaaaaammmmmaaaaaaaa…

Kemarin malam mungkin lebih dari dua pertiga orang mengantri bus dan taxi. Ada beberapa alasan yang menyebabkan. Pertama, minum beer sambil nonton pertandingan olahraga seperti ini adalah biasa, dan ada larangan menyetir bagi orang yang memiliki kadar alkohol di atas ketentuan yang berlaku. Sehingga banyak orang lebih memilih naik bus atau taxi daripada membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain dengan menyetir dalam keadaan yang tidak fit. Alasan lainnya adalah karena tempat parkir yang terbatas di area stadion, hanya untuk 2000 mobil. Nggak akan cukup kan untuk 26 ribu orang?! :)

Ada beberapa jalur bus yang disediakan, ada yang gratis (untuk rute dekat) dan berbayar (untuk rute jauh). Tempat tinggal kami termasuk rute jauh, jadi kami harus mengantri panjang.

Saat melihat antrian panjang si Mas mulai deh menggerutu, aku rasa dia kecapekan karena nggak berhenti beraktifitas dari pagi sampai malam (kami keluar stadion jam 9 malam), jadi dia agak mudah menggerutu. Mulai pingin antri di tempat taxi, dan aku tolak karena antriannya panjang dan taxi nggak selalu datang, sedangkan bus bisa mengangkut banyak orang sehingga aku pikir lebih kami akan lebih cepat sampai, dan menggerutu di banyak hal lain hehehehehe… *kasian si Mas…*

Aniwei, setelah kami mengantri selama empat puluh menit, akhirnya kami dapet bus dan sampai di halte terdekat dengan rumah. Eh di perjalanan ke rumah, aku bingung cari toilet terdekat. Akhirnya kencan malam itu kami habiskan dengan minum hot choco di McCaffe yang buka 24 jam dan ada toiletnya! Perut hangat, hati tenang, perjalan pulang ke rumah sudah dengan mood yang lebih baik, malah bisa ketawa-ketiwi hihihihi… What a night day! :)

Hai, hai…

Honestly, bingung mo nulis apa hehehehehe… :)

Tapi yah kalo dibiarin rasanya sayang juga blog yang udah dibikin dari empat tahun lalu nggak terurus. Jadi setelah menunda-nunda-nunda-nunda sebegitu lamanya, akhirnya hari ini dengan niatan penuh berusaha untuk duduk di depan komputer dan buka halaman wordpress, bukan yang online store hahahaha…

Anihou, kalo diliat-liat lagi ternyata sejak bulan Maret udah banyak draft posting yang aku bikin, tapi ya itu, malesnya kumat. Setengah nulis posting, udah gitu berhenti. Abis itu lupa kalo udah pernah nulis, dan itu berulang-ulang. Mo dipublish sekarang kok ya rasanya aneh, lha topiknya udah nggak up-to-date lagi sih… *alesan*

*Hhhmmm… bingung, tadi mo nulis apa ya sebenernya*

Recent up date aja kali yah, sapa tau ada yang penasaran dengan kabarnya yang punya blog *GR tingkat tinggi*. Kabar baik, Townsville – Aussie yah gitu-gitu aja, musim dingin yang nggak dingin sudah berlalu dan sekarang sedang menyambut musim panas yang tinggat humidity-nya ampun-ampunan. Sukur alhamdulillah udaranya jauh lebih bersih daripada Jakarta, jadi walaupun panas dan gerah, tapi masih enak buat jogging atau sekedar jalan-jalan.

Mulai sutress karna abis ini back for good ke Indonesia, aaahhh… *ngeliat kamar yang kayanya setahun lalu masih lega, sekarang kayanya makin sempit aja* Banyak yang musti diberesin dan siap-siap dikirim. Bakal kena reverse culture shock untuk kesekian-kalinya nih… *drama queen mode on*

Tapi serius deh, kalo yang udah biasa berpergian dan berpindah-pindah tempat tinggal dari negara satu ke negara lainnya, atau mudahnya dari daerah dengan adat yang berbeda ke daerah yang adat dan kebiasaannya jauh berbeda, pasti merasakan kalau culture shock itu nggak sesulit saat mengatasi reverse culture shock. Bepergian, atau terutama tinggal di negara dengan kebudayaan yang berbeda dalam jangka waktu yang lama dan berinteraksi dengan orang asli negara tersebut, it is a life changing experience, trust me!

Saat terdampar di Amerika, dua tahun lalu dan berinteraksi dengan orang-orang setempat hampir setiap waktu karena jumlah orang Indonesia di kota yang aku tinggali hanya bisa dihitung dengan satu tangan, banyak memberikan pengalaman dan membuka pikiran dan cara pandang. Kadang kalau dilihat dari pengalaman saat aku dan teman-teman masih di Amerika dan tinggal di kota yang memiliki jumlah orang Indonesia yang terbatas, kami mau tak mau bersosialisasi dengan komunitas setempat dan kami banyak terlibat di kegiatan sosial yang ada. Karena keterlibatan dan keikut-sertaan dalam komunitas setempat (volunteer work) tidak hanya membantu komunitas tersebut tapi juga memberikan manfaat tersendiri bagi pelakunya. There is a time to be given and to give. Volunteer work adalah salah satu cara bagaimana kita memberikan sesuatu pada komunitas setempat, karena tanpa kita sadari kita telah diberikan ‘acceptance-attitude’ dari komunitas tempat kita bertempat tinggal.

*aduuh… kok jadi ceramah…*

Balik ke tema-sutress, belum juga balik ke Indonesia, aku dan si Mas udah mulai ditanya-tanya tentang tempat bernaung kami nanti ketika kembali ke Indonesia. Nah lho, nah lho, nah lho… Memang awalnya sejak kami menikah, kami berencana untuk beli rumah, tapiiii… semenjak menikah si Mas sudah ambil ancang-ancang untuk kuliah ke luar, jadi rencana beli rumah ditunda dulu, berubah jadi nge-kost. Surat penerimaan sudah ditangan, tapi karena urusan brirokrasi yang rumit *pe-en-es, pe-en-es…*. Jadi rencana awal yang kita mo nge-kost-ceria sambil siap-siap mo berangkat jadi mundur sampai… sampai aku malah dapet beasiswa ke Amerika, sampai selesai masa sekolahku, sampai aku udah kembali ke Indonesia… si Mas belum juga berangkat, akhirnya nge-kost-ceria berubah jadi nge-kost-terus. Sukurnya nggak lama, *buat yang belum baca curhatanku setahun lalu* karena dua bulan setelah aku sampai ke Indonesia, urusan kuliah si Mas akhirnya beres dan si Mas berangkat juga.

Nah, akhirnya kami berdua yang setahun ini santai-santai beibeh, nggak mikir rumah *nunjuk diri sendiri, soalnya si Mas pasti mikirin ini, hopefully, ya kan Mas?*, sampai pada bulan-bulan terakhir sebelum back for good dan bertanya-tanya, ‘Nanti pas balik ke Jakarta mo tinggal dimana?’

Dimana coba? Beli rumah di Bogor, Bekasi, Depok, atau Tangerang, atau beli satu Ancol Mansion aja kali yah? Jadi si Mas kalo ke kantor tinggal lompat aja… tanpa lupa mengucapkan aamiin… *ngiimmmpppiiii kali yeee…*

Oiya, sambil ngetik-ngetik ini kayanya aku menemukan ‘clues’, petunjuk kenapa serangan malas menulis blog itu sering kambuh. Karena pertama, aku nggak bisa berbahasa Indonesia yang benar dan nggak fasih berbahasa Inggris juga, akhirnya kalo nggak salah ketik, biasanya malah *atau masih aja* suka campur-campur bahasanya, padahal mo sok keren tapi kayanya malah norak yee… Anndd *ini pasti udah kena coret kalo ketauan guru bahasa Inggris, nggak boleh naruh ‘and’ di depan kalimat, maaf Bu Guru. Tapi entah kenapa naruh kata ‘and’ di depan itu kok selalu berasa pas banget deh hehehe…* untuk nulis posting tidak penting seperti ini dan yang ternyata panjang juga, itu aku butuh waktu lebih dari sejam. Oou-Em-Ji. Serius lho ini, soalnya tadi pas baru nulis dua paragrap eh timer 10 menit yang aku pasang udah bunyi aja. Hadduuhh… ini salah siapa coba, salah si apel yang kerjanya lambat ato si kepala yang dasarnya lambat?Hahahahaha… *nggak usah dijawab yah, apalagi kalo ada yang mo ngejawab faktor kepala, awaasss ya! hahahaha…*

Akhir kata, *karena udah bingung mo nulis apa hahahaha…* selamat berakhir pekan!