Happy Anniversary

dengan soundtrack lagu  yang aku pasang di side-bar kiri dari Woolworth… 

 

Photobox Tempatketiga

If some people think marriage is like an amusement park ride.
Some are roller coasters, taking you on an exciting but scary ride up and down and around and through loops.
Some are merry-go-rounds, turning around and around in circles but never really going anywhere.
Some are kiddy rides, easy, but kind of boring, and making you want something more.

However, I think ours is not as scary as roller coaster but not as boring as merry-go-rounds. It just simply fun, exciting, and full of surprise, joy, laugh, happiness, and love!

Happy fourth anniversary to my wonderful best friend ever and me… :)

Pengalaman Pertama Memasak Lidah Sapi

As some of my lovely friends already asked me about my first experience cooking a beef tongue, by this post I want to share it. Enjoy!

Walaupun aku bukan penggemar fanatik ‘jeroan’,  tapi aku dan si Mas punya kenangan indah dengan lidah sapi. Cuiitt..cuiitt… :p
Ceritanya dulu pas resepsi nikahan kami, salah satu menu yang melekat indah di benak kami adalah semur lidah sapi. Pas kami nyoba rasanya enaaakk… Entah apa ini karena kami makannya setelah acara jadi pas luaper buanget atau emang beneran enak hehehehe… Tapi walaupun kami nggak yakin mana yang tepat, tetep aja setiap kami ke Malang, kami nyempetin untuk makan semur lidah sapi di restoran tempat resepsi kami. Atau kalau kami ke rumah makan ‘Oen’ yang terkenal itu, menu yang dipilih pasti bistik lidah sapi mereka yang melegenda dan selalu dapet banyak bintang saat direview ahli kuliner.
Kemudian pas di Oz kami kangen sama lembut dan kenyalnya bagian sapi yang nggak bertulang ini. Beberapa kali ngomongin lidah sapi, dua minggu lalu si Mas nyletukin ide untuk masak lidah sapi. Whooaa… ngebayangin lembut seratnya udah bikin kami makin mupeng. Kebetulan kami punya langganan butcher yang memasok daging halal, dan kadang mereka ngejual ‘jeroan’ kambing atau domba juga, tapi nggak pernah aku liat mereka jual lidah, langsung aja aku punya ide untuk nanya ke mereka.
Hmm… dengan berharap banget aku ngirim e-mail ke butcher langganan, nanya apa aku bisa pesen lidah sapi halal. Biar si butcher makin tersentuh, aku agak ngerayu dengan bilang kalo masakan dengan lidah sapi adalah makanan favorit suami dan ini mo dijadikan anniversary gift.

Besoknya pas terima balesan emailnya, ternyata kata butchernya mereka selalu jual, eeennn yang bikin aku agak malu-malu pas ambil pesenanku, katanya banyak juga yang beli jadi nggak perlu special order. Wah kecele, malu deh… hehehehe :D

Si Mas yang ngebaca e-mail ku malah ngegodain kalo dy nggak akan bantuin masak, “Kan hadiah anniversary buat suami” sambil kedip-kedip mata.
Tiba lah hari dimana aku janjian ma butcher buat ngambil pesenanku, aku paginya nervous-nervous gimana gitu. Ini kan bakal jadi pengalaman masak lidah pertama kalinya, tapi yang keinget di pikiranku saat itu cuma repot proses persiapan dan memasaknya. Antara nervous dan males, aku mulai nyari-nyari resep di detik-detik terakhir, setelah googling dan membandingkan banyak resep. Diantara banyak resep yang sulit dan rumit, aku nemu satu yang mudah. Horrayyy!! Mungkin karna nervous, pas nemu resep yang mudah rasanya mendongkrak optimisme kalau aku akan sukses masak semur niy! *keliatan banget kalo beneran gagap dapur hahahaha… :D *
Setelah semua bahan terkumpul, dimulailah petualangan memasak lidah sapi!! Setelah ada sedikit argumentasi dengan sang juri master chef (baca: si Mas) yang katanya awalnya nggak mo bantuin masak tapi malah ngasih tips-tips aneh pas aku lagi berusaha ngulitin lidah, yang bikin aku makin mikir bahwa masak lidah sapi tuh repot.
Eh, baru sepertiga lidah aku kulitin, saking penuh konsentrasi sekali, jariku malah keiris! *ngambek, nggak mo masak lagi! huhuhuhu…* Si mas yang ngeliat istrinya jarinya berdarah ternyata lebih panik daripada korbannya, dan nyuruh aku untuk nggak nerusin. Akhirnya malah si Mas yang ngulitin ampe bersih. Aku ngapain? Aku yah duduk-duduk aja ngeliat si Mas ngulitin, sambil dengan bebas buka-buka facebook, kan lagi recovery hehehehe… *big grin*
Abis lidah terkuliti sampai bersih, aku rebus lidah yang udah dipotong menjadi empat bagian dengan air kurang lebih 1,5 literdi rice-cooker. Tambah dengan dua sendok garlic mince, sedikit garam dan merica. Kemudian rebus selama 3 jam atau sampai lidah mencapai tingkat keempukan yang diinginkan.
Aku masak di rice-cooker karna aku nggak punya pressure-pan, dan kompor di tempat kami ini nggak ada api kecilnya. Ngerebus air 2 liter di api kecil selama 15 menit udah gosong aja, saking panasnya. Jadi tempat yang paling pas buat slow-cooking ya rice-cooker tercinta. Love you, rice-cooker! You’re rock!! Hahahaha…
Nah setelah empuk, ada dua masakan yang aku bikin. Pertama bistik lidah sapi. Lidah sapi yang sudah empuk aku potong dengan ketebalan kurang lebih 1 cm, kemudian aku sauté (menggoreng dengan sedikit butter dengan api panas). Lalu disajikan dengan asparagus yang dimasak dengan cara yang sama, dan yang paling pas disajikan dengan mashed potato atau sweet corn atau nasi panas kalau punya suami yang masih terlalu cinta sama nasi. Huhuhu…enak…

Eeennn, masakan yang kedua adalah masakan yang paling penting, semur lidah!! *tepuk tangan*

Setelah lidah empuk dan sudah siap diolah, ternyata cara mengolahnya mudah sekali. Tinggal cemplung-cemplung aja. Ditunggu tiga puluh menit udah siap untuk disajikan. Syeedaapp…

Tapi jangan tanya butuh berapa lama buat ngabisinnya. Kan kalau based on alasan di e-mail yang aku karang-karang itu, maunya bisa awet sampai pas the day anniversary kami, walaupun aku sengaja masaknya tiga hari sebelumnya. Eh lha kok ternyata suamiku suka banget, akhirnya semurnya nggak bertahan lama. Tapi sukurnya pas the day kami masih ada sisa-sisa semur yang berhasil aku selamatkan beberapa hari sebelumnya yang pas porsinya untuk sekali makan.

Alhamdulillah, anniversary ke tiga, dapet hadiah yang pas di hati, dan makan makanan istimewa. Horray lengkap deh!! :)

Oiya, resep aku bagi di post selanjutnya aja yah. Biar post ini nggak kepanjangan hehehehe…

Kalau ada yang penasaran kira-kira abis ini aku dan si Mas mo masak lidah sapi lagi atau kami udah kapok, jawabannya alhamdulillah belum kapok. Rencananya siang ini kami mo kirim email buat pesen lidah sapi lagi. Hmm… enaknya dimasak apa yah kali ini, ada yang punya ide? bagi donk… :)  

Wedding Day Countdown; Langkah-Langkah Mempersiapkan Pernikahan


Malam ini aq nginep di rumah parent-mentor-ku, karena dorm tutup menyambut Thanksgiving. Kebetulan dua putri mereka di pertengahan tahun depan akan menikah, jadi kami tadi sempat ngobrol-ngobrol mengenai persiapan pernikahan dan ngintip wedding-gown mereka.

Dan pas baca koleksi majalah mereka, yang kebanyakan adalah majalah pernikahan, Brides, aq jadi teringat masa-masa persiapan pernikahanku yang singkat. Walaupun akhirnya berlangsung dengan sukses, persiapan singkat aq kala itu sempat membuat aq ‘keteteran’, karena aq harus mem-packing semua kebutuhan hari H ku di waktu yang singkat.

Kemudian, ketika aq membaca majalah Brides, di semua edisinya ada panduan persiapan pernikahan selama setahun.

Well, ini ide yang menarik untuk dibahas pikirku.

Dengan berbekal pengalaman beberapa teman yang menceritakan pengalaman persiapan pernikahan mereka di blog dan pengalaman singkatku, aq mengutak-atik countdown versi Brides, menjadi countdown yang lebih general, terutama untuk pasangan yang menikah di Indonesia.

Wedding day countdown yang aq share dibawah ini hanya garis besarnya yah. Untuk lebih detailnya bisa ditambah atau dikurangi sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasangan.

Wedding Day Countdown

12 months before;
- Susun anggaran pengeluaran dan tentukan siapa yang akan membayar masing-masingnya.
- Buat gambaran mengenai acara, tema, dan tempat pernikahan.
- Reserve tempat acara pernikahan.
- Mulai mencari ide untuk gaun pengantin atau kebaya yang diinginkan.

10 months before;
- Mulai mensurvei perias pengantin, caterer, florist, band, dan photographer.
- Mulai menyusun daftar undangan.
- Mensurvei wedding planner, bila perlu.

8 months before;
- Booking perias pengantin, caterer, florist, band, dan photografer.
- Mulai mensurvei percetakan undangan.
- Memesan gaun pengantin atau kebaya.

7 months before;
- Memesan undangan.
- Bertemu dengan vendor, dan merencanakan detail acara.
- Mensurvei souvenir.
- Mencari pembawa acara untuk acara pernikahan.
- Mensurvei menu.

6 months before;
- Mensurvei bahan seragam untuk keluarga dan teman.
- Mulai menyusun dan menghubungi keluarga dan teman yang akan berperan di acara pernikahan.
- Mulai mencari tempat untuk hunimun.
- Memesan cincin kawin.
- Memesan souvenir.
- Mulai menyusun seserahan.

4 months before;
- Membeli bahan seragam untuk keluarga dan teman, dan segera didistribusikan.
- Finalisasi daftar undangan.
- Fitting pertama gaun pengantin or kebaya.
- Booking tempat untuk hunimun dan pesan tiket pesawat.

3 months before;
- Menyusun daftar lagu yang ingin dimainkan oleh band dan detail lainnya.
- Mulai mengurus surat-surat untuk kebutuhan menikah.
- General check up
- Mulai melakukan perawatan tubuh.
- Memesan mobil pengantin dan kendaraan lain yang dibutuhkan selama acara.
- Menyusun wishlist, bila perlu.

2 months before;
- Membuat photo pre-wedding.
- Membuat buku panduan acara bagi keluarga dan teman yang akan berperan di acara pernikahan.
- Melakukan trial make-up dan hair-do dengan perias pengantin.
- Membuat e-invitation.

6 weeks before;
- Persiapkan hadiah untuk keluarga dan teman yang berperan di acara pernikahan.
- Bila ingin mengadakan dinner untuk keluarga dan teman yang berperan di acara pernikahan, tentukan tempat dan waktunya.
- Follow up pihak KUA, terutama penghulu.
- Mulai sebarkan ‘actual’ undangan.
- Menyebarkan wishlist.

3 weeks before;
- Follow up keluarga dan teman yang akan berperan di acara pernikahan.
- Bingkisan seserahan sudah siap.
- Fitting gaun pengantin atau kebaya terakhir.
- Menyerahkan menu final ke caterer.

2 weeks before;
- Mematangkan dan mereview seluruh kebutuhan dan memastikan bahwa semuanya siap (terutama dengan masing-masing vendor).

1 week before;
- Mempersiapkan baju dan kebutuhan untuk hunimun.
- Konfirmasi terakhir dengan masing-masing vendor.
- Memberikan script ke pembawa acara pernikahan.

1 day before;
- Melakukan relaksasi dan perawatan tubuh terakhir.
- Memeriksa tempat pernikahan, bila perlu.

Dan selama melakukan persiapan pernikahan, jangan sampai lupa hal yang paling penting dalam persiapan pernikahan yaitu berdoa. Karena usaha tanpa berdoa hasilnya akan tidak sempurna. Berdoa juga akan membuat pikiran menjadi lebih tenang, dan persiapan pernikahan pastinya akan lebih terasa menyenangkan.

Anyway, kalau aq tidak salah ingat, Brides Magazine ada versi Indonesianya. Jadi kalau ada yang penasaran versi Indonesia mereka, coba baca langsung di versi Indonesianya yah…