Menghadapi Masalah Menjelang Pernikahan

Barusan ada temen yang IM-ing aq. Dy curhat kalau dy nggak yakin dengan calon suaminya. Keluarga masing-masing sudah saling bertemu, cincin pengikat sudah dipasang, tanggal sudah ditentukan. Tapi, bukan rasa yakin yang muncul tapi malah rasa tidak yakin kalau the-one-right-now is the-right-one.

Hmm… kebayang lah rasa gundahnya temenku ini. Takut mengecewakan orang tua dan orang tua si calon suami, tapi juga takut untuk mengecewakan diri sendiri kalau mengambil keputusan yang salah.
Pas chatting tadi, aq jadi inget dengan email yang aq tulis untuk temenku (yang lain) tahun lalu. She was jealous (katanya di email) ketika ngeliat aq dan si Mas yang hampir setahun married tapi si Mas masih yang so romantis. “Aq bilang lha emang masih setahun, ini kan masih masa hunimun.” Tapi tetep aja, dy merasa ada yang salah dengan calon suaminya. Dy nggak yakin kalau calon suaminya is the right-one.
Aq share disini yah emailnya… (sudah dengan ijin si penerima email)
———————————-
Sabar yah, say… Ketika mempersiapkan pernikahan kadang ada perasaan ragu yang muncul. Ini pinter-pinternya qta aja menelaah, apakah ini termasuk ‘godaan’ atau ‘pertanda’.

Kadang ‘godaan’ bisa berupa si calon suami terlihat buruk banget dari sudut pandang kamu. Kalau ketika masih pacaran kamu ngerasa dy sempurna buat kamu, tapi sekarang dy so annoying. Nggak ada bagus-bagusnya.

Tapi bisa jadi ini ‘pertanda’. Kalau dulu dy selalu tepat waktu ngejemput, sekarang malah suka ngebatalin janji di menit-menit terakhir. Telepon nggak pernah diangkat. Kesannya ingin menjauh dari kamu.

Masalahnya kadang ada beberapa pasangan yang melihat ‘godaan’ sebagai ‘pertanda’. Jadi yang sebenarnya mereka baik-baik saja, jadi nggak enak-an. Si calon istri jadi cemburuan, curigaan, dan akhirnya memutuskan untuk tidak menikah.

Tapi ada juga yang melihat ‘pertanda’ hanya sebagai ‘godaan’. Si calon suami yang sebenarnya perasaannya terhadap si calon istri sudah berubah, dan menunjukkan tanda-tanda ‘tidak ingin terikat’ malah tidak terbaca ‘tandanya’ oleh si calon istri. Dan mereka tetap memutuskan untuk menikah. Akhirnya setelah menikah bukan ‘selamat berbahagia’ yang didapatkan oleh mereka, tapi kebalikannya.

‘Pertanda’ ini penting banget.

Aq punya temen, dulu ketika dy akan menikah. Dy nggak peduli dengan ‘pertanda’ yang coba diberikan oleh calon istrinya. Mereka sudah beberapa kali merencanakan menikah dan batal, sampai akhirnya temenku berusaha meyakinkan si calon istri untuk menikah. Persiapan sudah hampir sembilan puluh persen, undangan sudah disebar, dua minggu sebelum pernikahan temenku tahu kalau si calon istri ini sedang hamil dengan orang lain. Karena dy nggak mau ngecewain orang tuanya dan orang tua si calon istri, dy memilih untuk tetap menikahi calon istrinya. Tapi bisa dibayangkan donk kehidupan rumah tangga mereka, si istri sudah nggak cinta dan punya anak dengan orang lain. Si suaminya merasa bertanggung jawab pada keluarganya, sehingga berusaha mempertahankan rumah tangga. It’s like living in hell.

Tapi jangan sampai juga melihat ‘godaan’ sebagai ‘pertanda’. Calon suami yang baik-baik saja, beberapa bulan menjelang pernikahan (tiba-tiba) terlihat sebagai orang yang careless, annoying, dan tidak berkepribadian dari dudut pandangmu. Sehingga kamu memutuskan untuk tidak mau menikah dan melepaskan salah satu calon suami potensial.

Dan kalau aq boleh ingetin sebagai temenmu jangan pernah membatalkan rencana pernikahan karena calon suamimu nggak cukup good-looking. Hooooohhhh, plis deh! Kalau kamu menikah satu-satunya yang paling penting adalah inner beauty, kalau kamu cuma peduli dengan foto pernikahan yang akan kamu pajang di tembok sepanjang masa, you will regret it!

Foto suami yang keren memang enak dipandang mata, tapi bukan jaminan kalau dy pasangan yang akan menyenangkan untuk berbagi hidup. Ingat, inner beauty first, outer beauty is a bonus.

Toh ketika kamu sudah menikah, nggak akan peduli dengan suami cakep atau nggak. Yang paling penting bagaimana dy menjadi pemimpin keluarga. Misal kalau kamu masih berpendapat dy nggak cakep, coba tanya ma calon suamimu apa kamu lebih cakep dari pada Kim Kardashian? :p
Bukan kamu aja yang punya hak untuk men-judge calon suamimu, dy juga punya hak loh… ^^

Jadi kalau boleh aq kasih saran, pertimbangkan baik-baik. Liat lagi calon suamimu…

Apakah memang dy nggak cukup pantas untuk jadi suami.

Apakah meragukan dy hanya sebagai suatu ‘godaan’.

Kalau masih nggak yakin coba tanya orang-orang terdekatmu, yang melihat dan berinteraksi dengan calon suamimu setiap hari. Apakah memang ada perubahan didirinya.

Coba juga (yang ini sulit, karena aq juga sering gagal melakukannya) untuk melihat masalah yang datang dengan kepala jernih. Karena masalah itu kadang asalnya bukan datang dari luar, tapi malah dari diri kita sendiri. Setiap kamu kesal dan merasa terganggu dengan masalah yang datang, ambil nafas panjang, tenangkan pikiran, dan coba rilex. Lalu pelan-pelan telaah lagi masalah yang datang ke kamu, pasti ada jalan keluarnya.

Yang terakhir yang paling penting adalah berdoa. Kadang ketika mempersiapkan pernikahan, calon pengantin hanya sibuk dengan pernak-pernik pernikahan. Tapi melupakan yang paling penting, pernikahan adalah ibadah. Jadi sebaiknya persiapannya juga diiringi oleh ibadah dengan intensitas yang lebih.

Kamu nanya ibadah apa aja yang aq lakuin yah?

Sebenernya nggak banyak berbeda dengan apa yang kamu lakukan. Kalau boleh berbagi pengalaman, suamiku dulu ketika akan menikah dy rajin puasa senin-kamis. Sayangnya aq nggak boleh ikutan, karena Ibuku dulu menyarankan aq untuk menaikkan berat badanku, dan sulit banget dicapai kalau bersamaan dengan puasa, jadi aq nggak ikutan puasa. Aq mengganti dengan lebih banyak berdoa dan berzikir. Then, aq dan suami juga rajin untuk sholat malam dan istikharah. Aq percaya kamu dan calon suamimu pasti udah ngelakuin semuanya, tapi kadang rasa ragu itu masih suka muncul, sama aq dulu juga gitu. Misalnya muncul cepet-cepet berdoa aja, agar rasa ragu itu dihapus dan diberikan jalan yang terbaik.

Lho kok jadi panjang yah ceritanya plus ada marah-marahnya lagi… Hehehe… maaf yah.
Kalau kamu ngerasa masih ada yang mengganggu pikiran please feel free to ask me, ok! ^^
————————————
Aq sendiri juga mengalami keraguan dan naik-turunnya emosi menjelang pernikahan (ceritanya aq post di sini). Walaupun menyebalkan, tapi rasanya lega banget ketika bisa melaluinya dan masuk ke tahap selanjutnya yang membahagiakan, berumah tangga. Jadi aq berharap bagi teman-teman yang akan menikah, mudah-mudahan bisa melalui masa-masa pernikahan yang ‘seru’ ini, dan melangkah ke tahap selanjutnya yang lebih membahagiakan dan lebih ‘seru’ pastinya.

Cerita dari Resepsi Ala Round Table

Kemarin aq datang ke sebuah resepsi pernikahan kerabat juaauuhh, bukan atas undangan tapi karena menemani salah satu Nte aq yang kebetulan mendapatkan udangannya. Rasanya siy kurang sreg untuk mengulasnya karena aq bukan seseorang yang diundang ke acara tersebut, but sayang juga kalo nggak di review.

Ok, dari kaca mata seorang Chita; acara kemarin yang digelar disebuah rumah makan terkenal di Surabaya berjalan dengan lancar, meriah dan menarik. Akan tetapi ada sedikit yang aq bikin kurang sreg dengan acara kemarin.

Sesuai waktu yang tertera di undangan, acara dimulai dari jam sebelas siang. Aq sendiri datang lima menit lebih awal, maklum aq tuh suka ngeliat bagian awal dari tiap-tiap prosesi upacara resepsi yang aq datengin. Ketika aq datang acaranya ternyata diadakan dengan model round table, bukan resepsi, wah makin menarik niy pikirku… tapi karena nggak semua orang tahu kalau acara yang diselenggarakan dengan model seperti itu, neither I did, coz tidak tercantum di undangan kalau acara akan diselenggarakan dengan round table, tamu yang hadir dalam acara datangnya bergiliran. Padahal kalau acara resepsi dengan round table maka acara akan dimulai ketika hampir seluruh meja penuh. Well, aq musti nunggu empat puluh lima menit sampai acaranya mulai. Sukurnya ada lasagna yang disajikan di meja, rumayan untuk killing time.

Kemudian tempat acaranya menurut aq kurang pas. Jarak antar kursi yah rumayan sempit, jadi terlihat penuh sesak. Dan posisi pintu masuk yang ada di bagian utara acara, sejajar dengan pelaminan agak mengganggu pemandangan. Yah, aq tau itu emang udah bawaannya gedung seperti itu, tapi ini membuat tamu yang datang agak belakangan harus berusaha menembus meja-meja yang sudah dipenuhi tamu yang lebih dulu datang dan agak sedikit sulit bagi mereka karena jarak masing-masing kursi yang sempit. Ini otomatis mengganggu tamu lain yang sudah duduk, karena harus menggeser kursi beberapa kali.

Setelah menunggu dan sempet bikin aq mati gaya, akhirnya acara dimulai. Prosesi masuk pengantin tidak dilakukan dari pintu masuk tapi melalui tangga dari lantai atas yang menghadap ke pelaminan. Menarik banget niy..

Setelah pengantin duduk di pelaminan, mulai keluarlah makanan pertama. Ada delapan menu yang akan disajikan di acara ini. So far, dari delapan menu aq dengar sebagian besar like it much, dan hanya pas menu ayam saus inggris saja yang kurang pas.
Para tamu juga kebanyakan duduk manis menunggu satu persatu menu disajikan, hanya beberapa saja yang memutuskan meninggalkan ruangan sebelum acara usai. Tapi dibalik menu makanan yang enak tersebut, ternyata ada yang juga sedikit kecewa. Ini karena ada satu waiter yang tidak ramah dan pelayanannya kurang berhati-hati, menuangkan minuman tapi tidak dilihat dan akhirnya tumpah. Nggak banget kan?! Walaupun manajer operasionalnya sibuk berkeliling dan melayani, she was nice, tapi kok anak buahnya kaya begitu? Dan mereka juga kurang perhatian dengan kebersihan meja. Contohnya ada beberapa gelas dan mangkok bekas yang dibiarkan dan tidak diambil, padahal itukan bikin meja penuh dan tamu jadi tidak leluasa untuk makan.

Back to prosesi acara, setelah pengantin duduk dipelaminan, kemudian pasangan pengantin turun untuk melakukan prosesi jawa lain. Dan ditengah-tengah acara mereka berdua melakukan acara potong kue pengantin. Kue pengantinnya bikin ngiler…huwhehehehe..

Setelah semua menu tersaji, akhirnya acara selesai. Ditutup dengan memberikan ucapan selamat kepada mempelai dan orang tua pengantin. Beliau-beliau berdiri didepan pintu untuk menerima ucapan selamat. Nah ada yang kurang pas lagi niy, tamu-tamu yang kayanya pingin buru-buru pulang, pada ngrumbul dan sedikit sikut-sikutan untuk antre menunggu giliran memberi selamat.

Kalau boleh memberi saran, untuk prosesi yang menggunakan model round table sebaiknya dikomunikasikan pada tamu yang hadir jadi acara bisa berjalan tepat waktu. Untuk tempat sebaiknya kapasitas disesuaikan dengan tamu yang hadir dan konsep acara, agar tiap tamu merasa nyaman. Yang tidak kalah penting adalah pelayanan dari waiters. Gimana-gimana tamu adalah raja, karna itu memberikan pelayanan yang baik is a must. Selalu ingatkan catering yang akan qta pakai untuk meminta para waiters mereka memberikan pelayanan yang baik.

Anyway, selamat bagi mempelai berdua dan keluarga. Semoga mempelai berdua menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warokhmah.

Godaan Sebelum Menikah



Beberapa hari yang lalu aq sempet ngobrol lama sama Vie, dan ada hal yang bikin aq tiba-tiba flash back pada saat-saat mempersiapkan pernikahan, yaitu godaan yang datang pada saat pra-marriage. Menghadapi permasalahan menjelang pernikahan itu memang antara mudah dan sulit. Contohnya aq ketika mempersiapkan pernikahanku.

Ketika keluargaku menetapkan tanggal pernikahan yang hanya berjarak tiga bulan dari hari penetapan, aq sempet mikir apa mungkin bisa married dengan persiapan yang kilat seperti itu. Tapi Alhamdulillah, ternyata bisa dan semuanya berjalan lancar. Malah sekarang aq bisa lihat hikmahnya. Dengan masa persiapan yang nggak terlalu lama, masa ‘godaan sebelum menikah’ juga nggak lama.


Di masa persiapan itu salah satu temen SMU aq sempet nanyain dan membagi nasehat,

“Chit, gimana udah siap menikah tah? Musti ngati-ngati lho sama ‘godaan menjelang menikah’. Dulu istrinya Masku menjelang pernikahannya godaannya banyak. Yang mantan cowonya tiba-tiba muncul minta balik, udah gitu ada juga temennya yang bilang kalo dy suka udah dari lama. Pokoknya aneh-aneh, kamu juga musti ati-ati lho.”

Saat itu siy aq ngejawabnya, “So far…kayanya nggak ada semuanya alhamdulillah lancar-lancar aja.” Karena saat-saat itu nggak ada mantan aq yang minta aq balik, dan gak ada temenku yang tiba-tiba memploklamirkan dirinya as my fans. So, I though everything was ok.

Namun, ternyata bentuknya ‘godaan menjelang menikah’ itu nggak cuma sekedar munculnya cowo yang ujug-ujug dateng dan bilang “I love you” ke qta, and minta qta mikirin ulang rencana married dengan cowo yang udah jadi pilihan qta. Naik turunnya emosi qta itu juga bisa menjadi salah satu godaan menjelang menikah lho!

Ok, contohnya aq, yang ternyata secara tidak sadar juga menghadapi godaan menikah. Bentuknya berupa godaan emosi yang naik turun. Aq saat itu sempat sangat terpengaruh melihat perbedaan dua keluarga aq dan hubby.

Keluarga hubby yang masih memegang nilai jawa ini berbeda dengan keluargaku. Masalahnya siy simple dan saat itu sebenernya juga sudah dipecahkan, bisa dibilang kami sudah menemukan win-win solution-nya lah. Akan tetapi entah kenapa beberapa kali saat bingung dan capek menghadapi persiapan yang sebagian besar aq kerjakan sendiri, masalah mengenai perbedaan itu secara nggak sadar muncul lagi dipikiran aq dan buruknya bikin aq ngerasa ragu-ragu apa aq bener bisa menikah, as I ever posted here.
Aneh kan?
Padahal kan masalah itu udah beres-selesai dan semua bisa berkompromi, cuma aq aja yang saat itu tanpa sadar membuka-buka masalah. Stress sendirilah intinya.

Emosi yang naik turun aq lainnya adalah bagaimana aq menghadapi ortuku. Secara sadar-tidak-sadar ketika qta akan mempersiapkan acara satu kali seumur hidup pasti akan tegang banget. Dan bagi keluarga terutama orang tua moment ini harus dipersiapkan dengan baik karena (mau nggak mau) peristiwa ini akan dinilai oleh orang lain, prestige.

Pertamanya aq nggak ngeh mengenai ini, aq akui agak kurang sensitif, dan inilah yang menyebabkan antara aq dan orang tua sering banget terjadi perdebatan. Ortuku merasa pendapat mereka tidak dihargai, aq merasa ini acara aq, jadi semuanya harus sesuai dengan kemauan aq.
Lucunya adalah kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya inti or tujuan yang kami inginkan sama, tapi yah kami saat itu sama-sama tegang jadi bukannya bisa saling mengerti tapi malah saling tidak percaya. Harusnya, aq saat itu sebagai yang muda bisa lebih jernih memandang tiap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu kami perdebatkan. Kalau udah begini rasanya pingin sesegera mungkin menikah, biar nggak sumpek-sumpek lagi mikirin persiapannya, padahal kan ya nggak mungkin gitu whehehehe…

Syukurnya sebelum terlambat aq segera sadar, bahwa nggak ada gunanya aq memaksakan keinginan aq yang sebenarnya nggak terlalu beda dengan ortuku, yang pastinya mengharapkan yang terbaik untuk acara sekali seumur hidupku, jadi harusnya aq nggak boleh nggak percaya dengan pendapat atau keinginan ortuku. Dan memang pada akhirnya, aq menyadari keinginan ortuku dengan aq tuh ternyata sama sekali nggak berbeda kok, cuma itu tadi kami sama-sama tegang. So, at the end aq lebih rilex and lebih pasrah.

Hubby yang kala itu ada diluar kota, we were having long distance relationship, merasa bersalah sekali karena nggak bisa membantu dan mendampingi aq.

Tapi hubby selalu setia dan bisa sekali diandalkan setiap saat untuk menerima telponku yang berkeluh kesah, marah dan cemas atas hal-hal sepele, selalu bilang “Yang sabar ya Say, aq percaya qta mampu kok melewati semua ini. Pernikahan kan adalah mimpi qta berdua, jadi Ay minta Chita selalu optimis bahwa qta akan berhasil melalui tantangan ini.”
Untuk saat itu aq bersyukur kami dipisahkan oleh jarak, bukannya kenapa tapi lebih pada masih ada salah satu dari kami yang bisa berpikir bijaksana dan melihat lebih jernih akan godaan yang kami hadapi, sehingga disaat-saat aq down, Ay selalu sigap untuk membesarkan hatiku.

Bayangkan aja ketika berada di satu kota yang sama, dan sama-sama bingung dan capek mempersiapkan pernikahan. Pasti kami berdua sama tegangnya dan sama sensi-nya, sehingga gesekan sedikit saja pasti sudah membuat kami berantem. Dan mungkin itu juga yang dialami oleh pasangan-pasangan yang membatalkan pernikahan mereka pada saat-saat menjelang pernikahan mereka. Sama-sama tegang dan berantem melulu, puncaknya mereka merasa nggak cocok sama lain dan ngebatalin renacana menikah mereka.

As myBro ever said—I was crying and sad on my family meeting—“Simpan air mata dan kesedihan kamu, karena ini hanya masalah prosesi sahari bukan sesuatu yang berat. Soalnya yang jauh lebih berat adalah bagaimana kamu melalui kehidupan kamu setelah menikah.” Aq pikir bener juga yah, kalau hanya untuk membuat acara sehari aja aq udah seperti ini gimana aq bisa menjalani kehidupan setelah menikah yang akan aq jalanin seumur hidup.

Nte aq juga bilang, “Sekarang banyak calon pengantin wanita terlalu sibuk dengan persiapan pernikahannya. Padahal seharusnya mereka juga nggak lupa untuk mempersiapkan diri dan mental untuk menjalani kehidupan setelah menikah. Dan akhirnya mereka malah tidak siap mental ketika menjalani kehidupan pernikahan mereka, dan banyak mengeluh mengenai pernikahan dan suami mereka.” Ya Allah, mudah-mudahan itu nggak terjadi sama aq.

Tips dari aq, tambahan aja, coba lihat bagaimana cara calon suami qta melalui ini. Karena saat-saat ini adalah gambaran apakah calon suami qta sudah cukup kuat untuk dijadikan sandaran seumur hidup qta atau tidak.

Pertama, dy harus peduli plus bersemangat dengan persiapan pernikahan. Kesannya memang simpel, peduli? Tapi ini harus donk, kan dy juga bagian dari pernikahan itu. Kalau dy cuek-cuek aja or malah nggak semangat kalau diajakin fitting baju or ketemu EO, hmm… make sure that he really want to get married!
Kedua, dy tidak mudah tersulut emosinya saat menghadapi masalah yang bertubi-tubi datang ketika masa persiapan pernikahan. Siapa siy yang suka punya pacar galak? Kalau jadi pacar aja udah galak, gimana nanti kalau jadi suami.
Ketiga, dy selalu bisa menanggapi positif dan membesarkan hati qta saat qta cemas dengan persiapan pernikahan. Suami adalah partner seorang istri. Kalau dulu istri yang ditekankan untuk bisa menenangkan suami, sekarang aq rasa posisi itu balance. Masing-masing memiliki peran untuk menenangkan pasangan.

Terakhir, kalau menjelang pernikahan wajar kalau ada berbagai godaan yang datang. Qta bukan hanya ditantang untuk bisa mempersiapkan pernikahan qta dengan baik, tapi juga mempersiapkan mental qta.

Karena menikah berarti komitmen seumur hidup dengan orang yang sudah qta pilih. Kalau qta bisa melalui tantangan pra-pernikahan qta dengan selamat, berarti qta siap untuk melangkah ke step selanjutnya.
Masa-masa ini hanyalah a small part of your journey, mau nggak mau ya harus dilewati. Jadi be rilex and banyak berdoa aja, insyaAllah semuanya akan berjalan lancar.