Godaan Sebelum Menikah



Beberapa hari yang lalu aq sempet ngobrol lama sama Vie, dan ada hal yang bikin aq tiba-tiba flash back pada saat-saat mempersiapkan pernikahan, yaitu godaan yang datang pada saat pra-marriage. Menghadapi permasalahan menjelang pernikahan itu memang antara mudah dan sulit. Contohnya aq ketika mempersiapkan pernikahanku.

Ketika keluargaku menetapkan tanggal pernikahan yang hanya berjarak tiga bulan dari hari penetapan, aq sempet mikir apa mungkin bisa married dengan persiapan yang kilat seperti itu. Tapi Alhamdulillah, ternyata bisa dan semuanya berjalan lancar. Malah sekarang aq bisa lihat hikmahnya. Dengan masa persiapan yang nggak terlalu lama, masa ‘godaan sebelum menikah’ juga nggak lama.


Di masa persiapan itu salah satu temen SMU aq sempet nanyain dan membagi nasehat,

“Chit, gimana udah siap menikah tah? Musti ngati-ngati lho sama ‘godaan menjelang menikah’. Dulu istrinya Masku menjelang pernikahannya godaannya banyak. Yang mantan cowonya tiba-tiba muncul minta balik, udah gitu ada juga temennya yang bilang kalo dy suka udah dari lama. Pokoknya aneh-aneh, kamu juga musti ati-ati lho.”

Saat itu siy aq ngejawabnya, “So far…kayanya nggak ada semuanya alhamdulillah lancar-lancar aja.” Karena saat-saat itu nggak ada mantan aq yang minta aq balik, dan gak ada temenku yang tiba-tiba memploklamirkan dirinya as my fans. So, I though everything was ok.

Namun, ternyata bentuknya ‘godaan menjelang menikah’ itu nggak cuma sekedar munculnya cowo yang ujug-ujug dateng dan bilang “I love you” ke qta, and minta qta mikirin ulang rencana married dengan cowo yang udah jadi pilihan qta. Naik turunnya emosi qta itu juga bisa menjadi salah satu godaan menjelang menikah lho!

Ok, contohnya aq, yang ternyata secara tidak sadar juga menghadapi godaan menikah. Bentuknya berupa godaan emosi yang naik turun. Aq saat itu sempat sangat terpengaruh melihat perbedaan dua keluarga aq dan hubby.

Keluarga hubby yang masih memegang nilai jawa ini berbeda dengan keluargaku. Masalahnya siy simple dan saat itu sebenernya juga sudah dipecahkan, bisa dibilang kami sudah menemukan win-win solution-nya lah. Akan tetapi entah kenapa beberapa kali saat bingung dan capek menghadapi persiapan yang sebagian besar aq kerjakan sendiri, masalah mengenai perbedaan itu secara nggak sadar muncul lagi dipikiran aq dan buruknya bikin aq ngerasa ragu-ragu apa aq bener bisa menikah, as I ever posted here.
Aneh kan?
Padahal kan masalah itu udah beres-selesai dan semua bisa berkompromi, cuma aq aja yang saat itu tanpa sadar membuka-buka masalah. Stress sendirilah intinya.

Emosi yang naik turun aq lainnya adalah bagaimana aq menghadapi ortuku. Secara sadar-tidak-sadar ketika qta akan mempersiapkan acara satu kali seumur hidup pasti akan tegang banget. Dan bagi keluarga terutama orang tua moment ini harus dipersiapkan dengan baik karena (mau nggak mau) peristiwa ini akan dinilai oleh orang lain, prestige.

Pertamanya aq nggak ngeh mengenai ini, aq akui agak kurang sensitif, dan inilah yang menyebabkan antara aq dan orang tua sering banget terjadi perdebatan. Ortuku merasa pendapat mereka tidak dihargai, aq merasa ini acara aq, jadi semuanya harus sesuai dengan kemauan aq.
Lucunya adalah kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya inti or tujuan yang kami inginkan sama, tapi yah kami saat itu sama-sama tegang jadi bukannya bisa saling mengerti tapi malah saling tidak percaya. Harusnya, aq saat itu sebagai yang muda bisa lebih jernih memandang tiap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu kami perdebatkan. Kalau udah begini rasanya pingin sesegera mungkin menikah, biar nggak sumpek-sumpek lagi mikirin persiapannya, padahal kan ya nggak mungkin gitu whehehehe…

Syukurnya sebelum terlambat aq segera sadar, bahwa nggak ada gunanya aq memaksakan keinginan aq yang sebenarnya nggak terlalu beda dengan ortuku, yang pastinya mengharapkan yang terbaik untuk acara sekali seumur hidupku, jadi harusnya aq nggak boleh nggak percaya dengan pendapat atau keinginan ortuku. Dan memang pada akhirnya, aq menyadari keinginan ortuku dengan aq tuh ternyata sama sekali nggak berbeda kok, cuma itu tadi kami sama-sama tegang. So, at the end aq lebih rilex and lebih pasrah.

Hubby yang kala itu ada diluar kota, we were having long distance relationship, merasa bersalah sekali karena nggak bisa membantu dan mendampingi aq.

Tapi hubby selalu setia dan bisa sekali diandalkan setiap saat untuk menerima telponku yang berkeluh kesah, marah dan cemas atas hal-hal sepele, selalu bilang “Yang sabar ya Say, aq percaya qta mampu kok melewati semua ini. Pernikahan kan adalah mimpi qta berdua, jadi Ay minta Chita selalu optimis bahwa qta akan berhasil melalui tantangan ini.”
Untuk saat itu aq bersyukur kami dipisahkan oleh jarak, bukannya kenapa tapi lebih pada masih ada salah satu dari kami yang bisa berpikir bijaksana dan melihat lebih jernih akan godaan yang kami hadapi, sehingga disaat-saat aq down, Ay selalu sigap untuk membesarkan hatiku.

Bayangkan aja ketika berada di satu kota yang sama, dan sama-sama bingung dan capek mempersiapkan pernikahan. Pasti kami berdua sama tegangnya dan sama sensi-nya, sehingga gesekan sedikit saja pasti sudah membuat kami berantem. Dan mungkin itu juga yang dialami oleh pasangan-pasangan yang membatalkan pernikahan mereka pada saat-saat menjelang pernikahan mereka. Sama-sama tegang dan berantem melulu, puncaknya mereka merasa nggak cocok sama lain dan ngebatalin renacana menikah mereka.

As myBro ever said—I was crying and sad on my family meeting—“Simpan air mata dan kesedihan kamu, karena ini hanya masalah prosesi sahari bukan sesuatu yang berat. Soalnya yang jauh lebih berat adalah bagaimana kamu melalui kehidupan kamu setelah menikah.” Aq pikir bener juga yah, kalau hanya untuk membuat acara sehari aja aq udah seperti ini gimana aq bisa menjalani kehidupan setelah menikah yang akan aq jalanin seumur hidup.

Nte aq juga bilang, “Sekarang banyak calon pengantin wanita terlalu sibuk dengan persiapan pernikahannya. Padahal seharusnya mereka juga nggak lupa untuk mempersiapkan diri dan mental untuk menjalani kehidupan setelah menikah. Dan akhirnya mereka malah tidak siap mental ketika menjalani kehidupan pernikahan mereka, dan banyak mengeluh mengenai pernikahan dan suami mereka.” Ya Allah, mudah-mudahan itu nggak terjadi sama aq.

Tips dari aq, tambahan aja, coba lihat bagaimana cara calon suami qta melalui ini. Karena saat-saat ini adalah gambaran apakah calon suami qta sudah cukup kuat untuk dijadikan sandaran seumur hidup qta atau tidak.

Pertama, dy harus peduli plus bersemangat dengan persiapan pernikahan. Kesannya memang simpel, peduli? Tapi ini harus donk, kan dy juga bagian dari pernikahan itu. Kalau dy cuek-cuek aja or malah nggak semangat kalau diajakin fitting baju or ketemu EO, hmm… make sure that he really want to get married!
Kedua, dy tidak mudah tersulut emosinya saat menghadapi masalah yang bertubi-tubi datang ketika masa persiapan pernikahan. Siapa siy yang suka punya pacar galak? Kalau jadi pacar aja udah galak, gimana nanti kalau jadi suami.
Ketiga, dy selalu bisa menanggapi positif dan membesarkan hati qta saat qta cemas dengan persiapan pernikahan. Suami adalah partner seorang istri. Kalau dulu istri yang ditekankan untuk bisa menenangkan suami, sekarang aq rasa posisi itu balance. Masing-masing memiliki peran untuk menenangkan pasangan.

Terakhir, kalau menjelang pernikahan wajar kalau ada berbagai godaan yang datang. Qta bukan hanya ditantang untuk bisa mempersiapkan pernikahan qta dengan baik, tapi juga mempersiapkan mental qta.

Karena menikah berarti komitmen seumur hidup dengan orang yang sudah qta pilih. Kalau qta bisa melalui tantangan pra-pernikahan qta dengan selamat, berarti qta siap untuk melangkah ke step selanjutnya.
Masa-masa ini hanyalah a small part of your journey, mau nggak mau ya harus dilewati. Jadi be rilex and banyak berdoa aja, insyaAllah semuanya akan berjalan lancar.

3 thoughts on “Godaan Sebelum Menikah

  1. wah.. just like I feel.. belum ada penetapan sih, tp udah ada niat kesana..tp bener2 deh ampun bimbangnyaaa..kebetulan td pagi br aja posting ttg hal2 yg hrs dimantapkan menjelang pernikahan.. huaa thanks for sharing yaaa

  2. Tann: Thank you for your visit. Yup, yup, bimbang menjelang hal penting dalam hidup adalah suatu yang biasa, it helps you discover yourself when you finally pass that moment.Anonymous: Your welcome. It happens to everyone :)But good news-nya, biasanya setelah menikah dan menyadari ternyata 'persitegangan' dengan ortu itu nggak penting banget, hubungan kita dengan ortu malah lebih kuat😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s