Golongan (terpaksa) Putih


Hari ini adalah hari perayaan demokrasi di Indonesia, dengan diselenggarakannya PEMILU 2009. Aq sendiri mulai mengikuti prosesi ini dari awal banget. Mulai dari ditetapkannya 38 partai nasional lolos dalam putaran pemilu sampai detik-detik terakhir kampanye.

Unfortunately, dengan persiapanku yang begitu matang ternyata malah berakhir dengan anti-klimaks. Aq kali ini dipaksa untuk menjadi golongan putih. Artinya aq tidak bisa menyalurkan suaraku. Kecewa? Pasti.

Hal ini bisa terjadi karena yah, you know lah alasan klasik yang memang menyebalkan –brirokrasi penyelenggara pemilu di daerah (KPUD)– ini yang bikin aq gagal mendapatkan formulir A5 yang menjadi bekal aq untuk bisa mencontreng di Jakarta.

Dan satu hal yang membuat aq miris adalah, ada beberapa teman yang ternyata memilih untuk golput dengan senang hati malah cenderung bangga. Miris kan?!
Salah satunya menulis dengan bangga di Facebook untuk menganjurkan pada semua caleg untuk sekalian saja menghancurkan negara ini hingga titik nol kemudian baru dibangun kembali. So arogan!!

Pertanyaannya adalah;

  • Buat dy yang masih bisa enak-enakkan maen facebook jelas saja negara ini seems to be negara yang menyenangkan buat dy, tapi dy emang nggak liat apa banyak orang yang untuk makan sekali aja sulit dan tidur di kolong-kolong jembatan. Lha kalo negara ini dilebih-hancurkan emang dy mikir apa kalo hidupnya orang tersebut malah akan seperti apa?
  • Dy bilang setelah negara ini hancur maka akan dibangun lagi. Lagi? Emang ini permainan Lego yang bisa dihancurin dan dibangun dengan begitu mudahnya?! Atau mungkin dy merasa dirinya cukup handal untuk bisa membangun negara sendiri? Bisa jadi.
  • Ini adalah tipikal orang egois, sorry for being rude, he is educated but acts as uneducated person. Ini mengingatkan aq akan aktivis dari Malang yang ikut The Candidate di Metro TV. Dy dengan bersemangat -setengah berteriak dan diulang-ulang- mengatakan kalau dy mau memperbaiki negara ini, tapi ketika ditantang untuk untuk menjadi pejabat pemerintah dy bilang nggak mau dan bersikeras mau jadi oposisi. Lho?! Kacau kan! Dimana-mana oposisi itu tugasnya mengkritik. Nah gimana dy bisa merubah dengan bertreak-treak? Baru kalau dy masuk ke pemerintahan dy bisa melakukan perubahan yang dy gembor-gemborkan.

Anyway, thanks to my parents karna udah mengajarkan aq-bersaudara untuk aware ma apa yang disebut pemerintahan dan bernegara. Intinya mereka mengajarkan untuk tidak membiarkan orang-orang goblok (sorry for being rude) untuk memimpin negara ini. Kamu nggak akan bisa membantu semua orang yang kesusahan hidupnya satu persatu, nggak akan cukup waktu seumur hidup yang kamu punya. Tapi dengan memilih wakil yang kompeten dan amanah kamu bisa menyelamatkan bangsa ini. Satu suara menentukan.

Aq sendiri banyak liat di TV banyak orang yang ngomong mereka golput karna mereka merasa nggak ada yang pantas dipilih. Pertanyaannya emang mereka sendiri cukup pantas dipilih?! Nah, inilah yang bikin negara ini masih aja berkubang ditempat yang sama. Ketika banyak orang memilih karna dibayar, otomatis mereka nggak tau kalau apa yang mereka pilih itu buruk dan ketika orang nggak mau milih karna mereka merasa diri mereka benar.

Harusnya kalau mereka tahu yang buruk maka seharusnya mereka mau mencari yang benar, nggak cuman bersikap apatis dan membiarkan lagi dan lagi orang-orang yang buruk menduduki kursi legislatif dan pemerintahan. Kan sekarang ada internet, TV dan banyak media lainnya. Malah banyak partai dan caleg membuka kesempatan untuk berkomunikasi langsung. So? Masih berpendapat mereka untouchable? Atau malah orang-orang itu yang merasa dirinya ekslusif dan merasa terlecehkan untuk mencari wakil yang baik? Who knows.

Last, even aq masih menjadi ahli maksiat (baca: belum sempurna) tapi aq yakin kalau qta tuh bertanggung jawab atas orang-orang disekitar qta, terlebih lagi yang tidak mampu. Aq sendiri selalu berusaha untuk berzakat tiap bulan dan terlebih lagi familiku lainnya, tapi ternyata itu hanya bisa merubah sebagian kecil masyarakat disekitar kami. Dan ada cara yang kami percaya bahwa hal ini dapat merubah jauh lebih besar dari pada yang kami lakukan, yaitu dengan memilih caleg dan presiden yang berkualitas dan amanah. Aq bersyukur bahwa aq berada ditengah-tengah keluarga besar yang memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap bangsa ini, karena seperti lima tahun yang lalu menjelang hari PEMILU, sejak kemarin kami saling bertukar sms untuk saling memberikan dukungan untuk mengikuti PEMILU. Rasa sedih karna nggak bisa ikut mencontreng agak sedikit terkikis lah. Does your family doing the same thing?

gambar diambil dari http://www.habibieafsyah.com/

2 thoughts on “Golongan (terpaksa) Putih

  1. whehehehe… Sabar ya say…Banyak tipe orang dlm mengambil sikap. yang penting kita bisa ambil pelajaran, that’s the point.Btw, istriku yang so sweet ini trnyata punya pandangan politis yang cukup tajam, jgn2 mw masuk partai or jadi caleg…?ikut partainya Ay aja..Partai Untuk Persatuan Semua Aktivis dan Pendekar Internasional(disingkat: PUP SAPI)whehehehe… becanda koq🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s