Mari Mudik!

Dulu ketika masih bujang, menjelang hari raya Idul Fitri biasanya perasaan aq campur aduk. Ada senang,ada sedih dan ada juga rasa bosan. Rasa senang, karena nanti di hari raya itu aq bisa berkumpul dengan keluarga besar di Malang, saling silaturahmi dan maaf-maafan. Sedih, ini karena bulan Ramadhan usai. Dan bosan karena aq nggak perlu mudik or berkunjung kemana-mana, ini karena Bapak dan Ibu adalah anak paling tua di Malang, jadi sodara-sodara yang datang ke rumah.

Jadi ketika ada teman yang cerita kalau setiap Lebaran harus mudik ke luar kota untuk berkumpul di rumah kakek-neneknya, I felt jealous. Pingiin juga…

Dan Allah SWT itu memang Maha Tahu, anyhow and anyway, sekarang setelah menikah I get what I wanted. Aq harus mudik ke Malang.

Well, ternyata yah mudik itu memang agak sedikit repot, at first. And sempet juga terlontar dalam hati, “Weh, ribet!” Tapi setelah dipikir-pikir, “Ya Allah, kan aq juga yang dulu mupeng ngeliat orang mudik.” Whehehehe… jadi malu sendiri.

Untuk mudik Lebaran kali ini, aq diberi banyak kemudahan oleh Allah SWT, selain ada beberapa pengalaman yang harus dijadikan pelajaran untuk kami berdua. Diawal Ramadhan kemarin aq udah diwanti-wanti oleh ortu untuk segera pesan tiket berangkat ke Malang. Tapi karena jadwalnya Ay belum bisa dipastikan, bisa ambil cuti atau nggak, aq jadi mikir-mikir untuk pesen tiket—menjelang Lebaran untuk pemesanan tiket biasanya harus dengan uang muka, yang nggak akan kembali kalau batal, or harus langsung beli, nggak bisa dengan sekedar booking.

Karena itu aq mikir, kayanya untuk mudik kali ini musti naik bus deh, kalo bus kan tiketnya bisa dibeli mendadak. Tapi ternyata ada kemudahan, Alhamdulillah, ketika Ay pulang dari abroad assign, kami janjian untuk ketemu di Gambir dan aq coba-coba nanya ke customer officer mengenai tiket kereta api yang tersisa. Dan ternyata ada beberapa kursi yang masih kosong untuk keberangkatan tanggal 10 September, yang kebetulan juga itu H-1 pemberlakuan tarif tuslah. Whohohoho… senangnya!

Kami masih memiliki sembilan hari puasa di Malang, it felt different. Kayanya lebih khusyuk..
Hari raya Idul Fitri juga makin bermakna, karena bisa berkumpul nggak hanya dengan keluarga inti tapi juga dengan keluarga jauh plus diajakin berkunjung ke rumah salah satu kerabat yang ada diluar kota oleh ortunya Ay.

Dan ternyata mudik itu bisa membuai, yah membuai kami berdua sehingga kami tidak segera pesan tiket untuk kembali ke Jakarta. So stupid.

Jadi rencana awal, bahwa kami akan tinggal di Malang sampai hari Sabtu, H+6, batal. Kami kehabisan tiket. Akhirnya kami harus pulang lebih awal, menyesuaikan dengan tiket yang tersisa untuk kami.

Well, ini jadi pelajaran yang berharga untuk kami, agar mudik Lebaran yang akan datang lebih matang dalam persiapannya. Ok!😉

Gambar diambil disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s