Jalan – Jalan dari Pantai Selatan sampai Kota Jogja Part 1

Pertamanya ketika denger ada rencana si mas akan ke Jogja untuk urusan kerja di awal bulan ini aq nggak ada pikiran untuk ikutan. Sampai akhirnya si mas pas Jumat malem maksa untuk aq ikut, padahal pas hari jumat siang aq agak flu. Jadi mikir untuk bepergian jauh tuh rasanya berrraaat banget. Tapi karena si mas menggunakan hak prerogative nya plus ngerayu dengan bilang nanti pas pulang dari Jogja nggak akan ada yang ngebantuin mas bawa barang-barang, so aq jadi kasihan and mengiyakan untuk ikut.

Day 1

Kami berangkat dengan kereta Gaya Baru Malam Selatan, jurusan Jakarta – Surabaya. Kami berangkat bertiga, si Mas, Mas Ucu (temennya si Mas) and aq. Tiketnya murah, karena qta naik kereta ekonomi, cuma 26 ribu/orang. Ini lebih murah beberapa ribu dari pada naik taxi dari kantornya si Mas ke stasiun kota yang tarifnya 30rb.

Kami berangkat hari minggu jam 12 dari stasiun kota. Keretanya ampun penuhnya, salah satunya karena ini hari terakhir libur dan besok senin anak sekolah udah mulai masuk sekolah.

Perjalanan yang kami tempuh untuk sampai ke Jogja dengan kereta ini kurang lebih 10 jam. Kami turun di stasiun Lempuyangan jam sepuluh lebih. Dan dijemput oleh salah satu teman kantor Mas, yaitu mas Adrian yang memang asli Jogja.

Karena kami udah kelaparan karena belum makan malam, kami diajak makan gudeg di jalan P. Diponegoro. Eeennyaaakk!

Makan gudeg telur cuma enam ribu per porsi ditambah dengan teh panas dengan gula batu. Energi langsung terisi full lagi.

Abis makan kami nyempetin untuk foto-foto di monumen Tugu. Btw, ternyata Mas Adrian yang asli Jogja belum pernah foto-foto di Tugu loh! Wah, kemana aja niy mas Adrian… hehehehe sok banget yah aq.

Day 2

Kami berangkat dari rumah mas Adrian di daerah Sleman setelah subuh. Kami masuk daerah Wonosari jam setengah tujuh.

Sebelum mulai kerja makan pagi dulu donk…

Dari awal kami sampai di Jogja mas Adrian mempromosikan tempat makan enak di daerah Pari Gogo. Tempat ini terkenal dengan nasi merahnya. Nasi merah?! Dalam hati aq agak mikir-mikir maklum aq ada sedikit trauma dengan nasi merah pas kecil, yang bikin aq agak males makan kalau harus makan dengan nasi merah.

Tapi karena promosinya mas Adrian tuh meyakinkan banget, jadi penasaran gimana makanan yang ada disana.

Lokasi warung ini tepat sebelum jembatan Jirak, kalau pernah nonton iklan Departemen PU di TV akhir-akhir ini jembatan Jirak ini beberapa kali muncul. Warungnya warnanya biru dengan bentuk bangunan yang masih kuno dan sederhana.

Tapi jangan salah, walaupun tempatnya kesannya biasa tapiii… itu terhapus ketika makanannya disajikan. Masakannya sendiri hanya lima macam, sayur daun ketela, sayur tempe dan cabe hijau, babat, empal dan ikan wader. Kelima masakan ini disajikan di piring-piring, kaya makan di restoran padang, dan kita bisa ambil semau kita. Karena kami nggak tahu gimana cara perhitungan mereka dan harga perporsinya jadi kami hanya makan kedua menu sayur dan ikan wader. Dan memesan teh poci untuk minumannya, sama seperti kemarin teh pocinya disini disajikan dengan gula batu. Hmmm…

Untuk kali ini kami makan berempat abisnya cuma 36rb. Udah enak, murah lagi!

Oiya, karena kami datang kesana sebelum jam sembilan maka kami nggak bisa menikmati nasi merah, yang ternyata baru mulai disajikan setelah jam sembilan. Overall, makanannya enak banget, two thumbs up! Sayurnya sedaap sekali, bukan karena penyedap tapi karena santan yang dipakai untuk memasak sayur ini dari santan kental. Pemiliknya sudah cukup tua lho, udah mbah-mbah gitu. Pakai kebaya dan jarit, berarti resepnya juga udah tua juga. Pantesan masakannya enak banget. Ga salah mas Adrian ngerekomendasiin tempat ini.

Di dinding warung nasi merah ini juga terdapat beberapa foto selebritis yang pernah mampir makan disini. Salah satu bukti kalau warung ini is a well-known restaurant.

Dan kalau bingung cari oleh-oleh khas daerah ini, disini juga terdapat berbagai macam “kletik-an” or kripik dan krupuk. Dan salah satu yang terkenal adalah “walang goreng” (belalang goreng). Belum pernah nyobain? Wah sama donk! Kata Mas rasanya mirip-mirip udang. Kata dy siy enak. Tapi aq ragu buat nyobain, kebayang aja kalo pas dimakan ada kakinya yang nyangkut-nyangkut di tenggorokan. Whoaa, syerem…

Sebelum membahas mengenai pantai yang kami kunjungi. Pasti ada yang menebak kalau ke pantai ini bukan bagian dari pekerjaan or just a leisure thing to do. No, no, no… berkunjung ke pantai sebenarnya adalah bagian terpenting dari pekerjaan si Mas dan kawan-kawan di DIY. Lantas apa yang aq kerjakan disaat mereka bekerja? Nah, yang aq kerjakan adalah jalan-jalan, maen pasir, foto – foto, baca novel (biar ga bosen) and kadang – kadang ngebantuin ngebawain barang.

Ok, ok back to the topic.

Abis maem kami melanjutkan perjalan kami. At first, aq nggak begitu ngeh ada berapa jumlah pantai yang ada di selatan DIY. Aq pikir kami akan ke pantai Parangtritis gitu, FYI aq nggak begitu semangat kalau harus ke pantai Parangtritis. Kebayang aja terakhir kali kesana pantainya ruame, banyak sampah dan banyak orang yang mintain duit. Tapi ternyata kami sama sekali nggak kesana, horray!!

Kesan pertama dari pantai pertama yang kami datengin sepi mungkin karena karena kebetulan ketika kami sampai cuaca disana sedang hujan dan kami berkunjung bukan dihari libur. Tapi ketika sampai di bibir pantai, dan ngeliat pantai ini – setelah perjalanan yang berkelok – kelok naik turun, muter-muter— rasa cape dibadan hilang ketika sampai di bibir pantai.

Pantai ini semacam teluk yang dibagian kanan-kirinya dibatasi oleh tebing yang tinggi. Dan menurut infonya mas Adrian ada beberapa bagian tebing yang patah ketika gempa Jogja terjadi beberapa tahun lalu. Kebayang donk betapa kuatnya gempa tersebut sampai bisa mematahkan tebing tersebut. Di pantai ini juga terdapat kolam alami, lucu deh. Ini biasanya digunakan oleh nelayan untuk menyegarkan diri setelah cape mengarungi lautan.

Kalau penasaran mengenai ombaknya, well, ini kan pantai selatan jelas ombaknya tinggi-tinggi dan cantik banget, pastinya.

Setelah dari pantai pertama, kami naik ke salah satu tebing untuk mencapai pantai selanjutnya. Karena medannya menguras tenaga, musti turun dari tebing untuk ke pantai dan naik lagi untuk kembali ke mobil,aq milih untuk stay diatas aja. Belum lagi hujan belum spenuhnya reda, jadi aq main aman aja. Duduk-duduk diatas sambil liat-liat pemandangan. Sempat ada kejadian menarik ketika kami akan pindah ke pantai yang tidak terlalu jauh dari pantai kedua. Yang membuat kami nggak jadi mengeksplore pantai tersebut.

Dari wilayah yang hujan kami beralih ke pantai yang lain. Diperjalanan kami menyempatkan untuk berhenti dan mengambil beberapa foto. Pemandangan disekitar kami saat itu bagus dengan tebing tinggi disisi kiri dan lahan pertanian penduduk disisi kanan.

Di pantai selanjutnya, aq ketemu beberapa anak-anak mahasiswa yang lagi liburan and sibuk foto-foto. Hmm… aq yakin foto mereka buat di upload di Facebook tuh whehehe… kaya aq nggak aja.

Dua pantai terakhir yang kami kunjungi adalah pantai-pantai yang memiliki bibir pantai yang paanjaang. Ketika kami sampai pantainya sudah mulai surut. Whohoho… ini menarik banget buat jadi obyek foto.

Selain foto – foto, aq juga sempet ngobrol dengan beberapa orang di pantai – pantai yang aq kunjungi. Ada mahasiswa UII, ibu-ibu pengumpul kerang, dan seorang bapak yang jualan jaring untuk menangkap ikan hias. It was totally fun!

Sore harinya kami kembali ke Wonosari dan makan malam di warung milik teman mas Adrian, Jong Java Bebek Crispy.

Makanannya enak dan (lagi-lagi) murah. Jumlah macam makanan yang dijual hanya tiga; bebek crispy, kepala bebek, dan ati ampela. Bebek crispy harganya hanya 10rb, untuk yang lain kalo nggak salah berkisar 5rb dan 3rb. Tapi yang menarik, untuk porsi kepala bebek, bagian paruhnya nggak dipotong. Jadi tetap panjang gitu. Whehehe lucu yah. Dan satu lagi, kalau macam makananya hanya ada tiga, macam minumannya ada beragam. Satu halaman folio gitu, contohnya ada macem – macem kopi. Kesannya bebek crispynya enak, sampai – sampai aq dan Mas kebayang – bayang bebek crispy pas kami udah balik lagi ke kota Jogja, whehehehe…

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s