Jalan – Jalan dari Pantai Selatan sampai Kota Jogja Part 2

Day 3

Hari ketiga kami start dari rumah temen mas Adrian, pemilik Jong Java Bebek Crispy, yang ada di Wonosari. Ketika persiapan berangkat aq dalam hati mikir apa yang bagian masak di warung bebeknya udah mulai masak yah? Coz, kalo udah pasti enak banget kalo bisa ngebungkus buat camilan selama perjalanan, hehehe…

Untuk hari ini based on nguping mereka –mas – mas— ngobrol, kami akan mendatangi beberapa pantai yang sama dengan kemarin dan beberapa pantai yang belum kami kunjungi.

Pantai pertama adalah pantai yang aq pikir cukup sepi dan walaupun fasilitasnya lebih wah, ada penyewaan jetski, tapi nggak ada tempat parkir yang cukup luas dan nggak ada deretan warung seperti di pantai – pantai kebanyakan.


Then, pindah ke dua pantai yang sempat kami kunjungi kemarin. Di salah satu pantai tersebut aq sempet ngobrol ma bapak nelayan dan bapak pencari cacing.

Do you know?

Salah satu hasil pertanian yang terkenal di daerah ini adalah buah srikaya. Tahu bentuknya kan?

Jangan sampai ketuker ma buah sirsat lho! Ada kenalannya mas Adrian yang so sure mengatakan kalau dy tahu buah srikaya, tapi ketika dy menggambarkan ternyata dy menggambarkan buah sirsat as srikaya, kacau banget kan…

Nah sepanjang perjalanan banyak banget petani srikaya. Aq jadi ngiler. Kebayang dulu pas aq kecil di halaman depan rumah ada pohon srikaya. Kalau udah muncul bakal buah, aq dan kakak – adikku udah seneng dan semangat nungguin buahnya jadi besar. Maklum, walaupun ada pohon di halaman sendiri tapi untuk bisa ngerasain buahnya menjadi sesuatu hal yang priceless –sorry lebay dikit—, coz aq bersaudara mesti saingan, dan persaingan tambah ketat dengan saingan ma tangan jahil yang tanpa ijin ngambil di halaman kami, hehehe…

Kebetulan, disalah satu pantai yang kami kunjungi selanjutnya ada yang ngejual buah srikaya. Horray! Langsung aja aq minta masukan ahli buah untuk milih srikaya, aq cuma beli sekilo aja buat tombo kangen, empat ribu satu kilo. Tapi kata mas Adrian kalau kita beli ke petani langsung qta bisa dapet dua keranjang (motor) dengan hanya 25rb. Bisa makan sampai puas tuh!

Sayangnya aq nggak sempet aq ambil foto tentang makan srikaya.

Pantai terakhir yang kami kunjungi, kalau menurut aq, adalah pantai yang perjalanannya menuju kesana cukup mbulet. Naik, turun, dan belokan – belokan tajam. Dan ketika kami sampai, tempat parkir ada di atas, dan kami harus turun melalui tangga untuk mencapai pantai yang jauh di bawah. Impressive part of it was pemandangan yang kami lihat dari tempat parkir, a really beautiful beach!


Ketika kunjungan di pantai terakhir berakhir, waktu sudah menunjukkan waktu makan siang. Karena kami belum makan pagi properly, buat si Mas dan kawan – kawan yang sudah turun ke lapangan dari pagi sekali ini sudah saatnya nge-recharge energi. Karena kami akan lewat daerah yang sama ketika kami berangkat sehari sebelumnya, kami memutuskan untuk makan di warung makan Pari Gogo lagi.

Karena ini sudah jam makan siang berarti kali ini kami bisa nyobain nasi merahnya. Whohooo… Nasi merah we’re coming!

Untuk kali ini ketika Mas, mas Adrian dan Mas Ucu sedang bersih diri. Aq nanya tentang harga perporsi lauk dan cara mereka menghitung kalau qta nggak ngabisin satu porsi penuh lauknya. Karena sebenernya kemarin kami udah ngiler – ngiler gitu ngeliat babat dan empalnya, tapi nggak berani ngambil karena nggak tahu harganya.
Ini harga lengkap untuk makanan yang disajikan. Untuk nasi per porsi dihargai 3rb. Untuk satu piring, kalau kita habiskan sepiring penuh, harganya Babat 20rb, Empal 40rb dan Ikan Wader hanya 15rb. Dan yang menyenangkan sayurannya is free—yang ini dari awal kami sudah tahu.

Untuk teh poci satu cangkir dihargai 2.5rb, tapi jangan khawatir walaupun cangkirnya imut – imut tapi pocinya mereka isi penuh. Jadi nggak bakal kekurangan deh.
Kali ini dengan nasi merah, sayur, ikan wader full porsi, setengah porsi babat dan teh poci kami hanya habis sekitar 47rb. Whoooaaa… kalo gitu tadi diabisin aja sekalian babatnya, coz babatnya (dengan pengetahuan mengenai masak-memasak yang minim) yang kayanya dimasak ala “bacem” itu tuh enak banget. Sepanjang perjalanan pulang kadang kami masih menyayangkan babat yang nggak abis itu. Wah kalo babatnya enak gitu gimana empalnya? Pasti lebih mantep!

Abis makan, rencananya kami kembali ke tempat mas Adrian. Dan berakhirlah ekspedisi bapak – bapak ini. Tapi sebelum sampai ke Sleman kami nyempetin untuk ke stasiun Lempuyangan untuk beli tiket kembali ke Jakarta besok, untuk aq dan Mas.

FYI, kami nambah sehari untuk stay di Jogja setelah ekspedisi ini selesai, kebetulan kami masih ada satu hari bebas, yang harusnya dipakai untuk hari istirahat. Tapi kami ganti dengan kegiatan mengekslpor kota Jogja berdua.

Karena bawaan kami agak banyak, as saran dari mas Ucu dan mas Adrian kami sebaiknya menitipkan sebagian barang di stasiun Lempuyangan, biar nggak repot kalo mo jalan – jalan qta cuma perlu bawa ransel masing – masing. So, sekalian beli tiket Mas juga nitip barang di penitipan barang yang ada di mushola di stasiun Lempuyangan.

Unfortunately, ketika beli tiket Mas baru nyadar kalau ternyata atm-nya Mas ilang. Wahh… rencana kami berdua untuk nambah sehari tinggal di Jogja untuk backpack bisa gagal niy. Tapi sukurnya Mas masih tetap mo ngelanjutin rencana backpack qta dengan uang terbatas dan kami dapet bantuan sementara. Horray!

Dari Lempuyangan kami mampir bentar ke tempat pembuatan bakpia pathuk langganannya mas Adrian. Mas Adrian nganterin mas Ucu yang beli untuk oleh – oleh keluarganya dan ternyata tempat sentra penjualan bakpia ini ga terlalu jauh dari kawasan malioboro. Aq sendiri sibuk ngapalin jalan yang kami lalui, coz karena aq besok juga pingin beli bakpia buat oleh-oleh.

Beberapa jam kemudian kami berpisah di taman pintar. Mas Ucu ke Surabaya lalu ke Jember, mas Adrian ke Sragen, sedangkan aq dan Mas tetap tinggal di Jogja.

Aq dan Mas memulai kegiatan backpack kami dengan nyari penginapan dekat dengan stasiun Tugu, biar gampang kalau mo ke stasiun Lempuyangan. Agar tidak tersesat kami bisa naik kereta model krl jurusan Jogja – Solo dari stasiun Tugu untuk mencapai stasiun Lempuyangan, tips dari mas Adrian.

Untuk penginapan kami memilih di hotel Trim 2. Alasannya simple menurut kami yang udah kecapekan, karena ternyata jarak taman pintar ke dekat stasiun Tugu lumayan jauh, tempatnya bersih,murah (walaupun ada yang lebih murah) dan yang terpenting klosetnya duduk, kebanyakan hotel melati di Jogja klosetnya jongkok. Dan kan kami lagi backpack jadi harus di hotel melati donk biar afdol, maksa hihihi…

Setelah beristirahat sebentar dan sholat maghrib, mulailah kami menjelajahi kawasan malioboro. Tadi ketika kami berjalan sambil mencari penginapan kami sudah mulai memetakan beberapa tempat yang akan kami kunjungi.

Pertama, kami ke Mall Malioboro. Pertanyaannya pasti,”Ngapain?! Emang di Jakarta nggak ada mall?”

Hehehehe… kami kesini karena aq mo menyambangi salah satu kawanku. Jonny Andrean, whehehe sok kenal.

Yupz yupz yupz,maksudnya nyalon (bentar), kan rambutku udah kepapar panas-debu-keringat mulai dari berangkat dari Jakarta. Dan kayanya kalau keramas sendiri hasilnya nggak maksimal. Butuh bantuan ahli. Cuma keramas dan soft blow aja kok. Sambil nyalon, aq ngobrol ma staff-nya. Eh ternyata si Mbak yang ngebersihin rambutku rumahnya di daerah pantai selatan, tepatnya di pantai Parangtritis. Jadi dy cukup familiar pas aq cerita – cerita pantai yang aq kunjungi. Anyway, yang bikin aq little bit shock was harga layanan soft-blow di Jogja lebih murah dari pada di JA langgananku di Jakarta lho!

Setelah nyalon kami makan lumpia ayam di depan toko HaPe Samijaya. Lumpianya enak, dengan tiga macam pilihan isi. Sayur saja harganya 1rb, isi sayur – ayam 2rb dan sayur –ayam – telur puyuh 2.5rb. Dan dibagian atasnya diberi semacam cacahan or saus kental (yang kalau aq kira-kira) dari bawang putih. Porsinya sendiri cukup untuk ngeganjel sementara perut yang lagi laper. Ternyata Lumpia Samijaya memang terkenal, masuk ke beberapa buku panduan kuliner Jogja juga lho! Plus, yang beli aja sampai antre – antre, wah nggak salah niy pilihan kami.


Abis makan lumpia, kami jalan lagi ke arah pasar Bringharjo. Kata mas Adrian ada Gudeg Ceker yang murah meriah dan patut dicoba. Tempatnya di seberang jalan toko emas Kereta Kencana. Ga lama jalan kami ketemu gudeg yang dimaksud. Whoaaa… banyak pilihannya. Pertamanya kami mo pesen gudeg biasa kemudian mo nanya harganya kalau ditambah ini dan itu. Tapi si Mbah yang bagian ngitung harga bilang kalau kami santai aja dan maem dulu, harga belakangan. Waduh… padahal kan maksudnya kami pingin nambah tapi nggak mo tekor whehehehe… akhirnya karena si Mbah bersikeras begitu jadi kami nggak jadi nambah lauk. Aq maem gudeg biasa tambah ceker dan tahu bacem. Mas gudegnya nambah telur dan ceker plus minum teh anget.


Coba tebak kami abis berapa? Kami ternyata cuma abis enam belas ribu lima ratus rupiah. Porsiku enam ribu dan mas delapan ribu dan tehnya dua ribu lima ratus.
Whooo?! Coba kalo tahu dari awal kami cuma abis segitu, kami pasti nambah lauk.

Energi udah full, nah waktunya melanjutkan perjalanan. Menurut info dari mas Adrian malam ini ada pasar malam sekaten di alun-alun. Hmmm… kayanya menarik tuh untuk dikunjungi. Dan kebetulan jarak tempat kami makan malam barusan juga nggak terlalu jauh dari alun – alun.

Tiket masuknya 2rb per orang. Kebetulan jam sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam, jadi ada beberapa stan yang sudah mulai tutup. Untuk tahu apa saja yang ada di acara ini kami memilih untuk naik kereta keliling, biar menghemat waktu dan tenaga. Jadi kami nanti langsung tahu stan mana saja yang ingin kami kunjungi.


Setelah naik kereta keliling, kami memutuskan untuk masuk. Pasar malamnya nggak begitu berbeda dengan pasar malam di Malang yang pernah aq kunjungi sama Bapak pas aq kecil. Ada beberapa stan produk baju, produk elektronik, aksesoris, makanan dan mainan. Dan yang agak berbeda disini juga ada lumba – lumba yang didatangkan dari Sea World Ancol dan banyak penjual baju bekas. Kami berdua hanya mampir di stan bom-bom-car, aq offered Mas untuk maen dan dy mau.


Anyhow, pas aq mo ngambil foto gerbang depan pasar malam, kami bertemu dengan salah satu abdi dalem keraton. Kami ngobrol bentar, tentang kapan acara sekaten dilaksanakan dan minta foto bareng donk! Btw, look at his pin! The sign that he is one of the abdi dalem.


Dalam perjalanan pulang kami mampir ke depan Istana Negara. Duduk – duduk sambil ngeliatin anak – anak muda (weh?! Kok jadi ngerasa tua) yang bersliweran dan sebagian berfoto-foto dengan pose ngerayap-manjat-pura-pura kecepit di pagar istana, halah… pose foto aja kok aneh – aneh.

Day 4

Jam setengah delapan pagi kami mulai jalan – jalan lagi. Untuk menghemat tenaga dan waktu kami naik becak ke arah pasar Bringharjo. Nyari sarapan,tapi karena pasar belum buka maka aq menawarkan untuk ke Wijilan. Kayanya aq pernah baca di suatu tempat, kalau ada sesuatu yang terkenal di jalan Wijilan dan kalau nggak salah makanannya berupa pecel. So, jalan lagi lah kami kea rah alun-alun kemudian belok dikit dan belok dikit lagi. Kemudian menemukan plengkung yang di depannya tertulis jalan Wijilan. Nah, ternyata di depan nama jalan terdapat juga tulisan Sentra Makanan Gudeg. Lho? Kok gudeg lagi tho…

Whehehehe kayanya aq salah baca, dan ketika kami melewati plengkung kami disambut oleh buanyaknya warung gudeg. Oalah, padahal maunya maem pagi yang selain gudeg kok dapetnya gudeg lagi. Yasud, dari pada balik kucing dan kebetulan kami udah cukup laper dan males nyari yang lain jadi kami memilih untuk makan di warung Ny. Lies.


Well, ternyata warungnya cukup terkenal as ada beberapa foto dari orang terkenal yang pernah berkunjung plus udah buka cabang lagi. Kali ini pas tengah – tengah kami makan si Mas nyeletuk, “Maemnya jangan buru – buru. Dinikmati aja. Kan gudegnya enak.” Memang bener gudegnya lumayan enak dan mungkin karena aq maemnya buru – buru jadi gudegnya kerasa eneg. Slow down baby.

Untuk makan pagi ini kami habis dua puluh enam ribu rupiah. Yah wajarlah tempatnya kan diruangan berpendingin jadi agak mahal wajarlah.

Abis maem kami jalan lagi ke depan benteng Vredeburg. Nggak masuk kok, kami duduk – duduk dikursi yang banyak disediakan disana sambil cerita – cerita dan nurunin makanan. Karena masih jam delapan pasar Bringharjo, tujuan kami, belum buka jadi kami memilih untuk ke kantor polisi sambil mengisi waktu. Whehehe sangar yah, ngisi waktu malah maen ke kantor polisi.

Masih inget Mas kehilangan kartu atm-nya kan? Nah kami kesana untuk ngurus surat kehilangan, jadi nanti pas di Jakarta kami tinggal ngurus ke bank saja. Ternyata kantor polisi cukup dekat dari benteng. Pas kami menuju kantor polisi kami nyempetin foto – foto bentar ditemboknya wisma Negara.


Sampai di kantor polisi kami ternyata musti ngambil buku rekening yang tertinggal di kamar hotel. Kami memilih untuk naik becak, dan kami ngelewatin daerah pembuatan bakpia. Wah nggak begitu jauh dari kantor polisi ternyata!


Setelah dari kantor polisi kami berjalan kaki ke tempat penjualan bakpia pathuk, yang kemarin kami datangi dengan mas Adrian dan mas Ucu. Kebetulan ketika kami datang bakpia-nya baru aja matang. Dan kami dipersilahkan icip-icip bakpia yang masih panas – fresh from the oven. Rasanya enak bow! Bakpia yang masih anget itu pas gigitan pertama tuh seperti meletus di mulut and kacang hijaunya alussss banget sampai – sampai terasa lumer. Wehhh… enak. Awalnya kan kami mo beli buat oleh – oleh aja, kami nggak beli buat kami sendiri. Tapi setelah icip – icip, kami malah beli hanya untuk kami makan sendiri. Maaf yah nggak kami bagi – bagi🙂

Abis beli bakpia, kami akhirnya ke pasar Bringharjo. Perburuan singkat menghasilkan kemeja batik pria seharga 30rb, daster batik seharga 15rb dan tas batik 25rb.
Dari pasar kami kembali ke penginapan, istirahat dulu.

Kami memperpanjang penginapan kami setengah hari karena jam check out disini jam 12 siang. Untuk perpanjangan waktu dikenakan tarif 50rb. Setelah kami beristirahat sebentar kami mencari makan siang yang nggak terlalu jauh dari penginapan kemudian sempat online sebentar sebelum akhirnya kembali ke hotel. Kami check out jam setengah empat sore dan menuju stasiun Lempuyangan untuk keberangkatan kereta kami jam 16.45.

Di stasiun Lempuyangan as info from mas Adrian, gerbong untuk penumpang dari Jogja sudah disiapkan sambil menunggu kereta yang datang dari Klaten. Nanti ketika akan berangkat baru gerbong disambung. Untuk keretanya walaupun kelas ekonomi tapi kami jauh lebih bersih dari pada kereta ekonomi lain. Malah,kamar mandinya kata Mas bersih dan tidak berbau. Penumpangnya juga lebih sopan.

Oiya, kami juga nyempetin nyoba pecel kereta yang makannya pake sumpit dan dengan alas daun pisang and aq juga sempet beli udang lapis tepung yang dijual keliling. Whehehe, kami kaya anak kecil yang pergi tanpa pengawasan ortu, jajaaan aja kerjaannya! Walaupun kami jajan-jajan tapi kami tetap memperhatikan kebersihan dari penjual dan barang dagangannya – jaga–jaga kalo ortu ngebaca post ini😉 –.

Akhirnya perjalanan kami berakhir di stasiun Pasar Senen, waktu menunjukkan jam 2.45 ketika kereta kami tiba. Alhamdulillah perjalanan berjalan dengan menyenangkan dan berakhir dengan selamat. Pas di taxi Mas sempet ngusulin, “Lain kali qta jalan – jalan kaya gini lagi yuk!” aq mengangguk penuh semangat sambil bilang, “Ayuuuk!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s