Jalan-Jalan Dengan Atsushi


Kemarin aq dan Mas ke Bogor naik krl dari stasiun kota. Ketika sampai di stasiun kota kami nyadar ternyata tidak seperti biasa di hari libur, rasanya kemarin semua orang sedang ingin ke bogor. Jadilah yang namanya stasiun kota tuh penuh dengan (buanyak) orang yang sedang menunggu di jalur krl arah ke Bogor. Full! Aq langsung siap-siap kalau-kalau nggak kebagian tempat duduk, aq nyari orang yang biasanya jual kursi lipet tapi nggak ada, akhirnya aq beli koran murah buat siap-siap kalau mo duduk di lantai (Fiuuhh..).

Nah tengah-tengah menunggu aq ngeliat ada cowo masih muda bawa ransel dan pake topi, aq pikir remaja gitu, menghampiri cewe di deketku. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata dy nanya kereta ekspres (pakuan) apa udah dateng. Si cewe juga ngejawab sebisanya, dengan nunjuk rel yang masih kosong dan banyak orang sambil bilang “no.” Si cowo rasanya ngerti apa yang dimaksud si cewe jadi aq cuek aja, karena aq rasa jawabannya si cewe udah jelas.

Tapi aq juga nggak tega-tega amat ada orang get lost di negeri bukan asalnya, aq berkesimpulan gitu karena dy nanya pake bahasa Inggris. So, aq tanya tujuannya. Dy bilang dy mo ke Bogor. Ok, aq liat tiketnya, ok sama-sama naik pakuan. Aq bilang ke dy untuk ngikutin kami berdua aja (aq dan Mas) karena kami juga naik kereta yang sama.
Then, aq nanya asal negaranya, ternyata dy dari Jepang.

Kami ngobrol-ngobrol sebentar sebelum kereta, yang ternyata telat, datang. Sambil ngobrol ternyata ada seorang bapak-bapak yang tertarik dan ikutan ngobrol dengan si cowo Jepang. Pas si Bapak ini sibuk nanya-nanya aq sibuk memperhatikan kereta yang datang dan pergi. Tapi sekilas aq sempet denger ketika si Bapak nanya nama si cowo Jepang ini, namanya Atsushi. Nggak lama si Bapak pergi, balik ke rombongan keluarganya dan aq ngeliat ada kereta dateng. Kami menyarankan ke Atsushi untuk ngikutin kami, mendekati jalur kereta datang.

Pas nunggu ini kami sempat nerusin ngobrol dan tahu kalau dy ternyata anak kuliahan dari Tokyo, ngambil e-commerce, mo ke Bogor untuk lihat bunga Bangkai di Kebun Raya Bogor.
Nggak lama, setelah kereta lain datang akhirnya datanglah kereta yang akan kami naiki. Kami buru-buru naik dan sukurnya dapet tempat duduk. Tapi setelah berhenti di beberapa stasiun kereta ini makin penuh dan penuh. Si Mas yang awalnya duduk jadi berdiri ketika ada sepasang suami istri dengan dua anak kecil yang naik dari Gambir, Mas ngasih tempat untuk dua anak itu. Dan banyak juga orang yang berdiri dan sampai duduk di depan pintu (karena setelah beberapa stasiun nggak akan berhenti lagi sampai di Bogor, jadi cukup aman untuk duduk).

Sambil keretanya jalan, Atsushi banyak ngobrol ma suami yang kebetulan punya beberapa kenalan profesor di Jepang. Dan ada beberapa hal lagi yang aq ketahui, jadi dari Bogor dy akan maen ke beberapa kota di Indonesia baru balik ke Jepang. Then, dy tuh ke Indonesia cuma berbekal buku panduan aja. Wehh… hebat banget, aq ngerasa dy hebat cz dy backpack nya ke Indonesia, kalau ke Eropa or Amerika dimana semuanya sudah serba teratur dan tingkat kriminalitasnya rendah itu mah jadi sesuatu yah yang nggak hebat-hebat banget, yah hebatlah karena dy punya banyak duit.

Nah kalau yang ini beda, dan bener, Atsushi cerita kalau dy pas di Jakarta beberapa kali ada orang yang mencoba untuk mencurangi dy. Yah, sadly, ini Indonesia. So aq dan Mas beberapa kali ngingetin dy untuk berhati-hati, not everybody who is nice is trully nice, maybe he just acts and wants to trick or hurt you.

Sepanjang perjalanan dy nanya banyak hal, mulai dari makanan yang enak di Indonesia selain nasi goreng. Then, dy berusaha menghafalkan pengucapan nasi timbel. Dan masih inget sepasang suami istri dengan dua anak mereka, ternyata si suami punya gambarnya nasi timbel di HPnya dan dengan baik hati menunjukkan seperti apa bentuk dan isi satu porsi penyajiannya.

Dy juga sempat bilang kalau dy ngeliat perbedaan yang mencolok antara masyarakat Jakarta yang kaya dan yang miskin, mukanya sedih ketika ngeliat banyak pemukiman kumuh di sekitar rel. Tapi dy kagum, karena walaupun banyak dari mereka yang tidak mampu tapi mereka tetap membaca koran. Kami menjelaskan ke Atsushi kalau koran adalah salah satu sumber berita yang terjangkau oleh masyarakat, selain TV. Dan kebanyakan orang Indonesia tertarik dengan perkembangan politik, khususnya kaum pria.

Lalu Atsushi sempat bertanya apa yang dilakukan orang Indonesia for fun, kalau di Jepang sebagian orang suka berkaraoke. Pertamanya aq agak nggak ngeh, karena apa yah yang biasanya dilakukan orang Indonesia nggak ada yang spesial. Well, aq bilang kalau kami berdua, biasanya suamiku suka main game online di waktu senggang, kalau aq suka baca. Tapi banyak juga yang suka karaoke dan banyak juga yang suka jalan-jalan ke mall, sightseeing. Or ada juga yang suka nonton TV, karena di TV Indonesia punya banyak serial TV yang disebut sinetron.

Aq bilang Atsushi ini cukup beruntung, bukan arti sebenarnya, karena dy naik krl yang puenuh plus merasakan rasanya naik krl dengan ac mati. Ini serius loh, air conditioner-nya di gerbong kami mulai mengecil sejak melewati stasiun ui, lalu benar-benar mati ketika masuk depok lama. Kebayang dong, dengan gerbong yang penuh orang dan banyak balita, ac-nya mati. Orang tua dengan balita yang akan pindah ke gerbong lain juga nggak bisa karena gerbong lain juga sama penuhnya. Akhirnya yah kami berusaha menikmati saja, apalagi setelah stasiun UI, kereta tidak berhenti lagi langsung ke Bogor.

Sampai di stasiun Bogor, aq menawari Atsushi untuk ikut dengan kami dulu, yang akan makan pagi, tidak langsung ke Kebun Raya Bogor. Dan dy dengan senang hati menerima ajakan kami. Jadi kami ajak dy untu naik angkot ke Sawojajar untuk makan Es Sekoteng dan siomay.



Sesampai di Sawojajar, Atsushi kesenengan gara-garanya dy ngeliat banyak gerobak penjual makanan yang beraneka ragam. Ketika aq pesan es untuk kami bertiga, Mas menerangkan apa saja makanan yang dijual di gerobak lainya. Gak lama pesanan kami datang, tiga es dan satu porsi siomay. Maksudnya biar Atsushi bisa icip-icip dulu, kalau suka dy bisa ikut pesan. Ternyata dy suka tapi dy pingin coba yang lain, dy ingin coba sate ayam. Nah sambil menunggu sate ayam datang, kami resmi berkenalan, aq nanya namanya dy dan kami menyebutkan nama kami.

Oiya, ditengah-tengah makan dy nanya, “Are you married with love to each other?”
Aq ngejawab dengan senyum, “Of course, we do love each other.”

Dy menjelaskan kenapa dy nanya seperti itu, karena banyak di Jepang yang married with no love or mereka kesannya setelah menikah hanya sebagai orang yang tinggal satu rumah.

Aq bilang, “Di sini juga ada kok yang seperti itu dan banyak juga yang seperti kami”

Jadi mungkin saja Atsushi belum banyak ketemu pasangan yang seperti kami di Jepang, karena aq yakin pasti ada.

Berjuanglah Atsushi, temukan pasangan hidupmu yang Kau cintai!! (dengan gaya komik whehehe)

Oiya, karena kemarin hari Jumat, kami berdua, Atsushi dan aq yang berangkat duluan ke Kebun Raya Bogor. Mas menyusul setelah sholat Jumat.


Dan ternyata sampai di kebun raya, bunga Bangkai belum berkembang, masih berupa daun dan batang saja. Yahhh… sayang. Tapi Atsushi bilang, “It’s ok if I can’t see the flowers, because I am lucky today by meeting you and your husband, and being too much lucky is not good.” Wah, yin-yang teori nih! ^^

Sambil jalan di kebun raya, Atsushi ga habis-habisnya mengungkapkan keheranannya dy dengan pohon-pohon yang tinggi-tinggi dan tua-tua. Dy bilang di Jepang nggak ada yang seperti ini, lebih-lebih di Tokyo. Disana tanaman di taman diatur sedemikian rupa agar terlihat cantik, tidak seperti disini pohon-pohon dibiarkan tumbuh dengan alami. Dan dy senang sekali melihat pohon-pohon yang tumbuh alami.

Nggak lama, Mas datang menyusul. Well, ini waktu bagi kami berpisah. Aq dan Mas musti meneruskan perjalanan kami untuk ke rumah Budhe, dan Atsushi akan meneruskan jalan-jalannya di kebun raya lalu pergi ke kota lain.


Kami berharap mudah-mudahan Atsushi menikmati perjalanannya di Indonesia, bertemu dengan orang-orang yang baik dan tulus sehingga bisa kembali dari Indonesia dengan selamat dan memiliki kesan yang baik tentang Indonesia.

Posting ini aq tulis minggu lalu, tapi nggak segera aq post karna aq nunggu ijin dari kawan baru kami, Atsushi. Dari email yang aq terima dy menulis bahwa dy terkesan dengan perjalanannya ke Indonesia🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s