Mabuk Beropini

Beropini adalah sesuatu aktivitas yang sangat mudah. Tinggal buka mulut, gerakkan bagian-bagian dari wajah untuk mengeluarkan suara, lalu keluarkan semua yang ada dipikiran. Bayangkan ketika tiba-tiba salah satu komponen yang dibutuhkan untuk bisa mengeluarkan suara tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Tulang rahang misalnya, tiba-tiba tidak bisa bergerak. Well, tidak ada suara yang cukup jelas untuk menggambarkan opini yang coba disuarakan. Tapi ini bukan berarti end of the story, masih bisa kok untuk beropini, tulis or ketik opini yang ingin disampaikan.

Sekedar mengeluarkan suara or sekedar menulis ternyata belum cukup bagi sebagian orang yang beropini. Opini butuh tanggapan, lebih-lebih kalau tanggapannya mendukung. Kalau tanggapannya menolak, wah makin semangat lah yang beropini untuk melawan. Lantas ini bagian dari beropini or untuk mengalahkan orang lain dan merasa diri paling benar?

Hmm, beropini kadang memang membuat orang terlena. Beropini bisa membuat orang merasa paling benar dan paling tahu.

Mendengarkan orang beropini kadang membuat aq tertarik untuk menanggapi, apalagi kalau aq melihat masalah yang dy bicarakan dari sudut pandang yang berbeda. Misal yang beropini tidak setuju dengan pandanganku maka aq akan semakin kekeuh untuk meyakinkan pandanganku…

Cukup sulit buat aq pribadi untuk menahan diri untuk tidak menanggapi orang yang beropini dan kebetulan berbeda pandangan dengan aq. Apalagi aq masih muda, masih merasa apa yang aq lihat, apa yang aq dengar dan apa yang aq pikirkan lebih berbobot dari pada orang yang beropini tersebut. Tapi itu dulu.

Suamiku suatu saat pernah mengatakan, “ketika seseorang mengeluarkan opininya dan bersikukuh bahwa opininya adalah yang paling benar, maka kamu harus benar-benar bisa memilah, apakah dy memang benar atau dy hanya merasa benar. Kalau dy hanya merasa benar, karena merasa benar adalah sesuatu yang paling mudah dilakukan, maka berhenti untuk menyangkal opininya. Karena dy merasa benar, dan orang yang paling merasa benar tidak akan pernah mau disalahkan. Dan kalau kamu memaksa dy untuk melihat sudut pandang kamu, dy tidak akan pernah mau dan kamu akan menyakiti perasaan kamu sendiri dengan tetap menyangkal opininya, atau malah jadi kamu yang terbawa dengan opininya yang salah itu. (Jadi) berilah dy kesenangan dengan (kamu) diam dan membiarkan dy merasa benar, dan biarkan waktu yang menunjukkan ke dy bahwa apa yang dy bangga-banggakan adalah sesuatu yang salah.”

Buat aq nggak mudah untuk menerima opini or pandangan dari suamiku. Karena aq berpikiran, kalau ada orang yang salah musti dikasih tahu yang benar. But, sekarang aq lebih banyak mendengarkan orang beropini, dan aq memberikan pandanganku. Kemudian ketika dy merasa pandangannya lebih benar, dalam pikiranku “Ok, aq sudah menyampaikan apa yang aq pikirkan, dan dy sudah mendengar dan menganggap itu salah. Cukup.”

Aq lebih banyak diam setelah itu. Apalagi ketika orang beropini berbeda dengan pandanganku, tapi aq tidak benar-benar memiliki keilmuan yang cukup untuk menanggapi opininya. Karena kadang orang yang beropini tidak pernah memandang masalah yang dy opinikan dari sudut pandang yang berbeda. Dan tanggapan selalu datang dipikiranku (sekarang) setelah mendengarkan orang beropini, “Apa dy benar-benar tahu mengenai masalah tersebut?”, “Apakah dy mengeluarkan opininya dengan penilaian objektif?”, or “Hahaha… ternyata dy nggak tahu apa-apa mengenai apa yang dy bicarakan.”

Well, kedewasaan, kebijaksanaan, dan keilmuan seseorang tercermin dari bagaimana orang beropini. Dan disaat yang tepat diam adalah emas.

Orang berhak beropini, aq tidak menyangkal hal itu. Kebebasan berpikir dan kebebasan berbicara dijamin oleh undang-undang. Walaupun opininya tidak benar-benar mengandung kebaikan, kebijaksanaan, dan keilmuan yang cukup. Yang penting baginya beropini, menunjukkan eksistensinya, dan menjadi sorotan karena opininya.

2 thoughts on “Mabuk Beropini

  1. Thank you, beropini tuh kadang memang memabukkan hehehe… membuat diri sendiri mabuk terlena karena merasa paling benar, dan membuat mabuk orang lain alias bikin orang lain eneg hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s