My First Ice Skating; Gagal dengan Sukses

Tinggal di Wisconsin rasanya tidak lengkap kalau tidak mencoba Winter sport. Nah ini juga yang aq berusaha lakukan, mencoba salah satu Winter sport yang diadakan oleh dorm yaitu Ice Skating Night. Selain fun karena mainnya bareng teman-teman, acara yang diselenggarakan oleh dorm biasanya gratis. Sebagai pecinta ‘gratisan’ ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, hohoho…

Setelah ramai-ramai mendaftar dengan teman-teman beberapa hari sebelumnya, hari Rabu malam aq dan teman-teman pergi ke ice rink yang terletak tidak jauh dari dorm, tinggal kepleset aja sampai deh.

Pertamanya ketika ngeliat ice rinknya, aq masih berani. Ketika memakai bootnya level berani dan percaya dirinya masih tetap, tidak berubah. Kemudian, level ini agak sedikit menurun ketika aq mulai masuk ke ice rink.

Ya Allah, ngeerriii… takut jatuh.

Then, akhirnya beneran. Nyoba jalan sedikit bareng roomie-ku, yup, aq beneran jatuh. Saakkiiittt…

Gara-gara jatuh, semangat dan keberanianku udah diambang batas minimal. Aq dengan segala daya upaya berusaha minggir ke pintu keluar. Eh, malah ketemu salah seorang pelatih tim hockey lokal. Si Bapak ini nanya apakah aq pernah main ice skating sebelumnya, aq bilang belom. Lalu dengan semangat empat lima, wait, semangat tujuh enam (tahun kemerdekaan Amerika 1776, kan si Bapak orang Amerika) dy ngajarin aq.

Aq digeret ketengah pelan-pelan, daannn… jatuh lagi. Sumpah, yang ini sakit banget. Kemudian karena semangatnya si Bapak masih tinggi (nggak perlu aq sebutin level semangatku, yang pasti lebih menurun dari pada sebelumnya), si Bapak masih belum menyerah. Aq yang udah trauma dengan jatuh (dan pantat yang sakit) ikutan bertahan karena pas aq bilang ‘may I give up?’ si Bapak nggak ngasih ijin. Pasrah lah aq. Pas menit-menit latihan tersebut aq sempat nyaris jatuh beberapa kali, sukurnya ditahan ma si Bapak.

Si Bapak pelatih hockey, teman-temanku yang sedang asik main ice skating (pelan-pelan karena yang ditengah masih baru belajar), kami berfoto ramai-ramai, dan si dedek bayi yang latihan main ice skating ma ibunya

Sampai akhirnya kami udah di tengah ice rink. Aq putus asa, kebayang gimana caranya untuk balik ke tepi. Sambil ngedengerin si Bapak, aq sambil ngebayangin options untuk bisa balik ke tepi dengan selamat, ‘Jalan pelan-pelan, pasti jatuh lagi. Oh, merangkak aja, lebih aman.’

Nggak lama, sambil latihan (ini masih dipegangin yah ma si Bapak, dan masih nyaris jatuh-jatuh) aq mengarahkan diri ke arah tepi, lebih tepatnya pintu keluar. Sampai akhirnya beberapa menit, yang terasa seperti hampir setahun, si Bapak itu sadar kalau aq mo melarikan diri. Dan kejadian terburuk itupun terjadi. Aq bergerak ke arah pintu keluar, si Bapak bergerak ke tengah lagi, daaaannnnn…. yup saudara, Anda benar. Aq jatuh lagi, kali ini lebih keras, dan si Bapak ikutan jatuh, dan sepertinya jatuhnya lebih parah dari aq, hehehehehe…

Kenapa aq yakin kalau si Bapak lebih sakit dari pada aq, aq punya beberapa alasan. Pertama, si Bapak reflek bilang, ‘Auuucchh, it’s hurt.’ sambil ngusep-ngusep pinggangnya. Kedua, si Bapak menyarankan aq untuk pegangan ma tembok instead pegangan ma dy. Ketiga, pas aq bilang aq nyerah aja lah, si Bapak mengiyakan. Horray!!!

Honestly, aq tuh agak ngerasa bersalah sama si Bapak pelatih itu, maaf yah Pak… Tapi dari pada jatuh lagi dan sakit yang lebih parah, mending aq duduk-duduk di tepi sambil foto-foto aja, hehehehe…

Roomieku sempet ngajakkin aq berkeliling dengan dipegangi dua orang, aq nggak akan cerita gimana posisinya, karena itu sama aja mempermalukan diri sendiri. Pertamanya aq nggak mau, tapi dengan ‘jahatnya’ huaaa… (love you, roomie) roomieku menggunakan kalimat yang suka aq lavalkan, ‘Experience USA’.

‘Ayo donk, katanya kamu mo Experience USA, ini tuh salah satunya!’ Akhirnya, aq mau mencoba lagi dengan syarat hanya setengah keliling ice rink. Memang nggak jatuh siy, tapi setengah ice rink dengan dua orang yang memegangiku plus posisi yang tidak enak dilihat sudah cukup memberikanku ‘experience’ hahaha…

Oiya, pas aq latihan ada adek kecil umur dua tahun yang latihan ice skating dengan ibunya, aq naksir sepatu ice skating-nya yang cute banget!

O-oo, don’t dare you compare me with the baby!

Aq punya alasan kuat, pertama si dedek bayi itu belum ngerti rasanya sakit, sedangkan aq paham sekali kalau sakit itu nggak enak. Kedua, si dedek bayi tingginya masih dibawah satu meter, yang mana posisi pantat si dedek pasti lebih dekat dengan tanah, dan mengakibatkan ketika jatuh dengan posisi terduduk sakitnya nggak akan sesakit yang aq rasakan. I am right, aren’t I? :p

Intinya, malam itu adalah pengalaman pertamaku main ice skating dengan hasil memar-memar dan mungkin akan menjadi pengalaman satu-satunya untuk beberapa saat (yang tidak ditentukan, tapi aq yakin ini pasti akan lebih dari sepuluh tahun, mengingat tahun depan aq sudah kembali ke Indonesia). So, my first experience of playing ice skating is enough, please no more!

4 thoughts on “My First Ice Skating; Gagal dengan Sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s