Berpikir Maju, Bukan Berpikir Dangkal

Ada status FB dari seorang teman si Mas yang menggelitik atau dalam kata lain membuatku ingin posting malam ini.

Statusnya bukan sesuatu yang salah menurutku, hanya sedikit berbeda dengan pemikiranku. Well, beda pandangan kan boleh.🙂

Inti dari statusnya adalah memprotes kebijakan MENKOMINFO yang meminta provider BB di Indonesia untuk mem-block situs porno di BB, kebijakan yang tidak penting katanya.

Sedangkan menurut aq, peraturan ini penting.

Kebijakan ini aq ibaratkan seperti seseorang yang sedang menderita beberapa penyakit, ambil contoh tiga penyakit yang simple, batuk, sariawan, dan sakit kulit yang disebabkan jamur. Untuk sebagian orang penyakit ini kesannya ‘penyakit anak bawang’ bukan penyakit penting sekaliber kangker atau penyakit berat lainnya. Tapi bayangkan misalnya penyakit ini tidak diobati dan sesesorang yang sakit tersebut tidak ada kemauan untuk kembali sehat.

Karena ada sariawan di mulutnya makan jadi malas, sampai akhirnya kehilangan selera makan dan kehilangan berat badan. Berat badan yang semakin berkurang, mempengaruhi tubuhnya sehingga tubuhnya semakin renta dan batuk yang dialami semakin parah. Penyakit kulitnya juga semakin melebar karena tidak diobati.

Bagaimana keadaannya misal sampai beberapa bulan dy masih tetap tidak mau memperhatikan dirinya, badan makin lemah dan penyakit makin menjadi-jadi. Kemungkinan terburuk penyakit yang hanya sekedar batuk bisa berubah menjadi penyakit paru-paru yang lebih sulit penyembuhanya. Di mulut muncul infeksi karena sariawan yang berlarut-larut. Dan penyakit kulit yang dialami berubah menjadi luka terbuka dan muncul nanah. Ini akhirnya mempengaruhi orang disekitarnya untuk menjaga jarak, karena takut tertular. Akhirnya selain sakit fisik, secara mental dy juga sakit.

Well, ‘penyakit anak bawang’ akhirnya menjadi penyakit yang berat ketika tidak diatasi. Dari yang ‘no make sense’ menjadi ‘very very important’ kan?

Sama dengan isu ‘pornografi’. Banyak hal mengenai ‘pornografi’ yang menurut aq memang tidak penting dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Walaupun banyak pro dan kontra, yang menurut aq memang definisi mengenai ‘pornografi’ sebaiknya dijabarkan dengan jelas. Dengan sangat amat mengerti mengenai banyak peraturan di Indonesia yang tingkat ambiguitasnya lebih tinggi dari pada benefit dari tujuan peraturan itu dibuat.

Anyway, lantas kenapa menurutku peraturan ini adalah sesuatu hal yang penting, ada banyak alasan menyertai ini. Pertama, selalu ada langkah pertama dalam memberantas pornografi (yang sebenarnya), walaupun ada yang bilang kalau nggak bisa lewat BB kan bisa lewat komputer lihatnya. BB bisa jadi satu langkah pertama, sebelum menuju langkah berikutnya. Sama seperti perandaian diatas. Mau dibiarkan hingga menjadi sesuatu yang parah, atau sedikit demi sedikit disembuhkan.

Kedua, pernah sadar nggak akan angka korban pelecehan seksual dan perkosaan dari tahun ketahun angkanya terus bertambah? Nggak kan. Sedihnya di Indonesia angka tersebut dari tahun ketahun makin meningkat. Mau disadari atau tidak video-video or klip-klip porno yang ‘suka’ dipelototin banyak orang tersebut adalah salah satu pemicu. Wanna say no? Look at the background of the rapists!

Masih beranggapan itu nggak penting? Coba bayangkan kalau si korban adalah adik or kakak perempuanmu atau seseorang yang kamu kenal dekat! Aq maklum apabila bagi orang yang tidak menjadi korban mungkin akan sulit membayangkan bahwa hal ini adalah penting. Tapi bagi korban yang harus mengatasi traumanya dan berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, mereka mungkin berandai-andai si pelaku tidak terpengaruh pikiran buruk dari pornografi dan si pelaku menjadi orang baik-baik maka hal buruk yang menimpanya tidak akan terjadi.

Ketiga, bisnis pornografi ini juga mempengaruhi banyak hal, seperti human trafficking dan meningkatnya jumlah korban meninggal karena aborsi.

Kesimpulannya, bisnis pornografi adalah sesuatu yang sepele tapi berpengaruh. Mau dibiarkan begitu saja atau diambil tindakan adalah dua pilihan yang berbeda tapi jelas efeknya. Masing-masing orang punya pendapat masing-masing.

Terakhir, ada yang bilang ‘Pornografi bukanlah isu yang penting saat ini, kenapa pemerintah tidak memikirkan hal yang lebih penting lainnya.’ Pertanyaanya adalah yang mengeluarkan peraturan tersebut MENKOMINFO kan? Lantas apa masalahnya, kan bidang pekerjaan yang dy tangani memang seputar masalah komunikasi dan informasi, yang salah satunya hal itu. Menurutku hal ini baru bisa dijadikan masalah yang tidak penting apabila yang mengeluarkan peraturan adalah menteri perekonomian or menteri dalam negeri, karena jelas bidang pekerjaannya bukan mengenai hal itu.

Kadang untuk mencerna sebuah tindakan dibutuhkan pemikiran yang dua, tiga, atau sepuluh langkah kedepan, karena tidak cukup bisa menilai sebuah tujuan sebernarnya dari tindakan tersebut hanya dengan pemikiran satu langkah kedepan.

Begitu pula dengan masalah ini, dibutuhkan pemikiran beberapa langkah lebih maju untuk mencerna tujuan dan sisi positifnya. Bukan hanya pemikiran dangkal semata. Hal ini memang terkesan tidak penting karena tidak berefek masal yang dengan mudah terlihat, tapi apabila dilihat angka korban ‘tidak langsung’ yang cukup tinggi dan terus bertambah tiap tahunnya, menurutku sudah waktunya diambil tindakan untuk mengatasi dan mencegah hal ini makin berkembang. Sekali lagi, berpikir maju bukan berpikir dangkal.

5 thoughts on “Berpikir Maju, Bukan Berpikir Dangkal

  1. menurut saya nih, masalahnya karena yang mengeluarkan itu adalah MENKOMINFO, dan ini lebih kepada sosok pribadi nya menteri itu, yang dengan sangat bangga mengharamkan salaman kepada wanita manapun yang bukan istrinya, tetapi giliran Michelle Obama,eh langsung disalam tuh. Bahkan hal tersebut sampai menjadi lelucon diantara menteri luar negeri di konferensi tingkat Internasional. Ketidak-konsistenan telah terjadi pada diri seorang Menkominfo, yang berakhir kepada crisis of trust dari rakyat terhadap dirinya, sehingga apapun yang dikatakan oleh pihak pemerintah akan sangat susah diterima oleh masyarakat… belon lagi soal Gayus yang kabur ke Thailand, Malaysia padahal saat itu ia sedang dalam masa tahanan. my assumption, people now worry that pornography issue is just a medium to change people's attention from the huge mistakes done by government. sehingga mereka selalu terkesan memberontak.mungkin analisis saya diatas bisa menjadi sesuatu untuk dipertimbangkan

  2. waahhh… seru nih tanggapan dari Pas-pas, bagaimana tanggapan penulis….ayo kita diskusi dg ajukan fakta dan analisis rasional. Asik nih…sebab kalo penilaiannya person to person dan subjektif, malah amburadul jadinya….sedikit nimbrung:FAKTA 1:ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD menyatakan bahwa pornografi merusak jaringan otak. (cek aja, di google banyak yg bahas)FAKTA 2: Data dari peneltian oleh sejumlah mahasiswa di Universitas Airlangga terhadap 300 responden, mencatat remaja usia 15-19 tahun hampir 60 persen diantaranya pernah melihat film porno dan 18,4 persen remaja putri mengaku pernah membaca buku porno. .(http://www.untuksemua.com/lounge/anak-indonesia-rentan-pengaruh-pornografi-5764/)FAKTA 3: Pornografi mudah diperoleh dari banyak media. Maka perlu pembatasan terhadap arus masuknya pornografi.dari fakta-fakta diatas, aq rasa penting untuk melakukan kontrol terhadap arus pornografi, terutapa proteksibagai generasi muda Indonesia.

  3. eh, Mas Bayu suaminya Mba Chita kan? wah pasti bangga banget ya punya Istri bisa mewakili Indonesia di USA. Semoga pernikahan-nya Sakinah Mawaddah Warrahmah :)Sebagai alumni Airlangga, mengucapkan terima kasih banyak sudah di-publish hasil penelitian almameter saya! Hehehe.. :Dsaya mendukung kok pornografi itu diberantas (dalam batasan yang jelas tentunya, kalau gak ada batasan, suku asmat yang asli Indonesia ikutan diberantas lagi :D). Nah saya cuma membahas, jangan sampai pornografi ini hanyalah "politik pengalih perhatian" dari masalah2 pemerintah lainnya yg belum beres-beres hingga saat ini🙂

  4. Hmmm, jadi makin seru niy ^^Menanggapi 'kesalahan' dari MENKOMINFO mengenai salaman, aq rasa banyak pihak yang tidak menyukai pribadi beliau. Jadi 'kesalahan' yang menurut aq kecil (dan aq mengetahui latar belakang kasus itu terjadi), aq masih tidak paham kenapa media membesar-besarkannya. Well, kembali lagi ke budaya dan pola pikir kebanyakan media di Indonesia mungkin yah yang suka mem'bombastis'kan suatu masalah…(anyway, masalah 'salaman' itu hanya terpublish di AP -Associated Press, yang hanya dipakai sebagai sumber berita online-, aq sama sekali nggak membaca berita mengenai 'salaman' di Wall Street Journal -aq tahu karena aq langganan- dan koran besar Amerika lainnya. Seringnya berita yang sampai ke Indonesia lebih 'bombastis' dari pada berita aslinya.)Then, pemerintah dan media. Tidak bisa disangkal pemerintah memiliki kontrol terhadap keluarnya berita bombastis yang ada di Indonesia. Kapan waktunya mengalihkan perhatian masyarakat dari isu yang sebenarnya lebih penting. Ini terjadi dimana saja, even di Amerika (tapi cara mereka lebih halus). Nah tinggal dilihat saja nanti apakah pemerintah dalam waktu yang masih tersisa beberapa tahun lagi akan bisa memperbaiki citranya. (mudah-mudahan bisa, amiin)Terakhir, aq setuju peraturan mengenai pornografi harus didefinisikan lebih jelas. Based on my post above, "Walaupun banyak pro dan kontra, yang menurut aq memang definisi mengenai 'pornografi' sebaiknya dijabarkan dengan jelas. Dengan sangat amat mengerti mengenai banyak peraturan di Indonesia yang tingkat ambiguitasnya lebih tinggi dari pada benefit dari tujuan peraturan itu dibuat."Dan aq rasa kekhawatiran akan suku asli Papua yang akan hilang karena peraturan pornografi itu tidak perlu. Masih ingat beberapa tahun lalu mengenai peraturan pemerintah mengenai pornografi, peraturan tersebut memberikan keluasaan kepada tiap-tiap daerah untuk memodifikasi sehingga sesuai dengan budaya dan tradisi masyarakat daerah tersebut. ^^@Robin: Ooo, alumni Unair toh! Wah kereen…Thanks yah atas doanya dan pujiannya. Tapi sebenernya suamiku sepak-terjangnya (dalam hal mewakili Indonesia) lebih banyak dari pada aq loh! ^^ Oiya, kamu kelahiran tahun '85 yah? Kalau yah, jangan manggil 'mbak' yah… thanks🙂

  5. Wah kok tau nih tahun '85…Anyways, Sekedar menambahkan dan mengingatkan, bahwa media memang mungkin, terlalu membesar-besarkan tetapi media juga memiliki peranan yang besar dalam melakukan koreksi atas kinerja pemerintah dan para wakil rakyat :)Amien, semoga optimisme dari beberapa orang seperti saya, Chita (uda gak pake mbak lagi nih :D) dan Mas Bayu terhadap kinerja positif pemerintah dan wakil rakyat di tanah air kita ini, akan segera menjadi kenyataan.Terima kasih atas pujian dan sharingnya. Great words from you guys!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s