Balada Oleh-Oleh

Kali ini mo curhat, kaya posting sebelum-sebelumnya bukan curhat aja, hehehe….

Salah satu temenku bilang posting seperti itu lebih tepatnya dibilang ‘nyampah’, psoting sesuatu yang nggak penting. Yah kalau dilihat dari sisi sebagian pembaca mungkin posting ini nggak ada gunanya, tapi bagi sebagian pembaca lain posting ini mungkin bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya (cieee… kaya ceritanya bakal ada hikmahnya aja). Kemudian kalau dilihat dari sisi penulis wah ini bermanfaat sekali, selain bikin hati plong karena uneg-unegnya udah diceritain, ini juga membuat penulis bisa merefleksikan apa yang pernah dy alami saat dy membaca posting ini beberapa bulan yang akan datang.

Ok, cukup dengan pembelaannya, sekarang waktunya curhat.

Sesuai dengan judul yang aq tulis di post ini aq mo curhat mengenai oleh-oleh.

Kenapa dengan oleh-oleh?

Oleh-oleh itu adalah big things, aq ulangi yah BIG THINGS. Apalagi kalau kita dari luar negeri.

Untuk mempersiapkan ‘big things’ ini persiapanku udah mulai dari sebelum berangkat. Dan dua minggu setelah tiba di USA, aq udah mulai nyicil beli oleh-oleh. Well, ini bukan bagian terhorornya dari ‘balada oleh-oleh’ku.

(salah satu) Bagian terhoror dari oleh-oleh menurutku adalah saat aq bikin list siapa aja yang musti aq kasih oleh-oleh. Dari list tersebut ketauan kalau ada sekitar 45 (empat-puluh-lima) orang or keluarga yang musti aq kasih oleh-oleh. OMG!

Bagian paling horor dari semuanya adalah belanja oleh-olehku itu kalau ditotal sudah melebihi montly living allowanceku! OOOOMMMMGGG!!! MasyaAllah…

Pas aq ceritain ini ma si Mas, si Mas bilang ‘Stop beli oleh-oleh. Kalau Chita masih tetep belii oleh-oleh, nanti Mas akan kirim uang tambahan untuk Chita.’
Ini konteksnya mengancam, karena aq dari awal selalu bilang ke si Mas kalau aq mo berusaha mencukupi kebutuhanku disini dengan uang yang aq terima dari program, dengan niatan belajar mengelola keuangan. Jadi ketika si Mas bilang, ‘Mas akan kirim uang.’ berarti usahaku dari awal Juni lalu untuk bisa mengelola keuanganku sendiri akan sia-sia.

Dengan berbagai excuse, such as kan oleh-oleh tuh udah jadi tradisi dan sebagainya, si Mas tetap nggak terbujuk untuk ngasih ijin tetap beli oleh-oleh. Nggak mo ngalah begitu aja, aq telpon tanteku yang dulu pernah kuliah master di luar negeri. Rencana awalnya adalah untuk mencari pendukung opiniku, dan yang ada malah aq dimarahin hahahaha…

Sumpah deh aq nggak berkutik pas itu. Selama tanteku ngasih petuah aq cuma bisa bilang, ‘ya Nte’ dan ‘baik Nte’. Intinya tanteku tidak mendukung belanja oleh-oleh yang akan aq lanjutkan. Kata tanteku, ‘Stop’.

Ya sudah…

Beberapa minggu lalu aq sempet simulasi koper, aq berkemas-kemas untuk melihat berapa banyak sisa dari koper yang masih bisa dipenuhi nantinya. Hasilnya dua koper besarku penuh, tidak bersisa. Mirisnya dari limit maksimal berat yang hanya 24.5 kg, oleh-oleh ternyata mengambil jatah hampir 22 kg. Goosssshhhh!!!!

Kalau ditanya itu oleh-oleh buat siapa aja? Jawabku sedih itu kebanyakan buat sodara-sodara jauh or temen yang nitip, keluarga inti or si Mas aja oleh-olehnya belum terbeli. Huuuaaaaa….

Jadi saat kemarin ada yang nanya (lagi), ‘boleh nitip nggak?’ aq terpaksa bilang nggak. Apalagi yang nitipnya barang yang mahal-mahal, nggak berani deh. Selain nggak ada celah di koper buat ngebawanya, aq juga nggak ada duitnya. Lha mereka yang yang nitip barang mahal-mahal mo ngeganti duitnya pas di Indonesia, kan berarti aq yang rugi, walaupun kursnya udah dijadiin dua puluh ribu satu dollarnya (lebay mode on). Ruginya karena berarti aq nggak bisa beli barang yang aq pinginnin gara-garanya uang yang aq punya malah terpakai untuk ngebeliin barang untuk orang lain or celah di koperku yang tinggal sedikit akhirnya terpakai untuk barang titipan itu. Belum lagi nanti kalau apes, dan diminta bayar pajak bea masuk, jadi rugi dobel donk.

At last, list oleh-oleh aq simpen dulu nggak aq buka-buka lagi, biar nggak stress sendiri ngeliat kolom-kolom kosong itu. Berhenti belanja oleh-oleh. Mulai cari barang-barang yang aq pinginnin, dan nggak mikir orang lain. It’s time for me, my self, (and si Mas)!

5 thoughts on “Balada Oleh-Oleh

  1. OMG Chitttaaaaaaa… aku iseng googling judul postku. Ehhh nongol post mu ini. Ahahahaha. Sehati ya kita, judulnya. Sama :p Baru baca post iniiii.

    Soal oleh-oleh ini, kita mirip lagiii.. Maybe karena kita tipe orang yang ingin bikin orang senang, kita selalu mikirin orang lain. Aku juga gituuuuu. Pengin semua orang aku kasih oleh-oleh, walopun ga bisa. Karena uang cuma segitu2nya. Ahahahahahaha.

    • Wah bisa yah sehati, padahal kan ini udah setahun yang lalu hahahahahaha…

      Iya, pinginnya semua seneng dan kebagian apa daya dompet nggak cukup tebal hehehehehe…😀

  2. Pingback: Balada Oleh-Oleh ke Dua « Tempat Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s