Long Distance Relationship

Ada beberapa yang suka nanya pas ketemu aq pertama kali, “Is it hard to be away from your husband?” *Nggak usah ditanya lah… nangis bombay tiap malem kalee hehehehe…*

Weekend lalu aq (malah) ditanya sama istrinya Edgar High School’s principal, “What make you feel strong when you’re away from him? Give me some advice, probably, I will be in the same position like you.” *Suaminya mo pindah kerjaan di state lain, jadi mereka musti tinggal terpisah sampe anaknya lulus SMA*

Geezz… *speechless*

Yup, pertanyaan itu bikin aq speechless. Karena, honestly, aq nggak punya aji-aji or kalo kata lainnya jurus yang ampuh untuk bikin aq nggak nangis pas pisahan ma si Mas or nggak senewen berat saat kangen dan nggak bisa ketemu. Nop, aq nggak punya jurus untuk mengantisipasi perasaan itu. Kangen ya telpon, kangen banget sampe keluar air mata *terutama kalo lagi PMS* yah udah dikeluarin air matanya, or senewen karena kangen yah udah dijalani.

Jadi kalo ada yang bilang, “Nggak usah dipikir kalau pisah sama suami itu berat.”

*Lha berarti mudah donk?*

Kalo buat aq, aq nggak bisa bilang pisah dengan suami itu mudah, pisah dengan suami itu berat, berat banget malah. Kalau pasangan yang masih pacaran dan musti terpisah dengan jarak, kalo berantem or yang satu lagi senewen, bisa maen ‘putus deh kita’ dengan mudah. Tapi kalo tali pernikahan?! Nggak semudah itu bilang, “Aq nggak nyaman dengan jarak, kita putus aja yah”, ya kan? Itu salah satunya kenapa aq bilang nggak mudah.

However, walaupun nggak mudah bukan berarti nggak mungkin. Ada banyak pasangan yang terpaksa hidup terpisah karena tuntutan pekerjaan *menurut aq sekolah di LN tuh juga termasuk tuntutan pekerjaan, kalo nggak niat berkarier, pasti nggak akan dibela-belain belajar ke LN, setuju?* Dan pernikahan mereka terbukti awet dan baik-baik aja. Jadi peluang untuk sukses melewati cobaan untuk terpisah dari pasangan cukup besar, am I right?

Jadi setelah speechless selama satu-dua menit, mencari jawaban di otakku atas pertanyaan Mrs. Principal, akhirnya aq menemukan jawaban. Jawabannya sendiri sebenernya mudah. Well, banyak orang yang suka berfilosofi *tunjuk diri sendiri hehehe…* dan mencari jawaban yang rumit, tapi kadang kita butuh jawaban yang mudah agar lebih mudah bagi kita untuk mengaplikasikannya. *lha, malah berfilosofi sendiri*

Ok, jawabanku ke Mrs. Principal adalah, “Go through it and experience it, as you never know something before you do it. Then, you’ll know how to make yourself strong.”

Abis itu aq cerita kalo pas aq pingin nangis, aq nangis. Pas kangen berat, aq telpon si Mas *which is once a day*. Pas lagi senewen yah aq senewen. Aq nggak pernah 100% kuat dan menahan-nahan perasaan. Aq membiarkan diriku merasakan kangen, sedih, dan bete. Karena buat aq itu siklus yang normal, selama nggak berlebihan aja.

Kalo dipikir-pikir aq LDR-an ma si Mas tuh udah mulai dari kita kenal, pacaran sampe mo married. Masa pacaran kita cuma sebelas bulan, dan kita cuma ketemu sebulan sekali, or kadang dua bulan sekali. Then, pas menikah sering ditinggal si Mas, mulai dari yang seminggu sampai empat minggu. Udah gitu, belum genap dua tahun menikah, aq berangkat ke US. Nah, nanti pas aq balik ke Indo, malah gilirannya si Mas yang mesti ke negara tetangga selama satu setengah tahun. Amazed aja ternyata, kami tuh walaupun udah bersama sejak 2007, tapi kalau diitung-itung jumlah ‘kebersamaan-kami’ dengan ‘ketidak-bersamaan-kami’ rasanya mungkin lebih banyak ‘ketidak-bersamaannya’. *ngelap keringet fhiuuh…*

Then, mrs. Principal asked me again, “So, after your husband pursue his degree, are you gonna be together again then?”
I smiled and said, “Well, no one knows.”

2 thoughts on “Long Distance Relationship

  1. aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh….membayangkannya aku tak mampu…tapi tak ada air mata dan pengorbanan yang sia sia…smua buat masa depan keluarga dan anak yang lebih baik ..*ngelap mata yg berkaca kaca* i would not sure whether i could get through this phase if i were accepted to go there through this program…SEMANGAT!!!! – irni-

  2. Itu udah langkah yang bagus tuh dengan tidak membayangkan, cz kalo sibuk membayangkan biasanya bayangan yang jelek yang muncul. *pengalaman pribadi hehehe…*InsyaAllah, Irni pasti bisa melalui satu tahun dengan lancar! Semangat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s