Bukan Tempat Berbelanja yang Recommended di Kota Malang

Kemarin di Twitter ada tip ‘berbelanja tidak impulsif’ di bulan puasa dari pakar keuangan syariah Ahmad Gozali. Biar belanja nggak impulsif (dan makin boros), kata Pak Gozali belanja sebaiknya dilakukan saat tidak lapar, tidak mengantuk, dan tidak capek. Jadi bisa disimpulkan yang paling pas adalah saat pagi hari.

Ngomong-ngomong belanja, aq barusan juga baru selesai belanja awal bulan. Well, walaupun kemarin tip nya sudah diinget-inget dan udah bikin list belanjaan, tapi hasilnya (jeng..jeng…) tetap impulsif! Hahahaha… Tobat deh.

Anyway busway on the way, dibalik belanja impulsifku diatas sebenarnya ada yang pingin aq ceritain di blog. Tepatnya mengenai tempat belanjanya.

As aq sekarang sedang menyepi selama bulan Ramadhan di rumah orang tuaku, jadi tadi aq belanjanya di toko grosir terkenal di daerah pusat kota, tepatnya di depan SMP Negeri 3, yang tinggal di kota Malang pasti tahu toko yang aq maksud. Bentuk toko tersebut adalah toko grosir yang menerapkan sistem supermarket, self-service. So you take what you want and you pay it at the cashier.

Awal ceritanya berbelanja di toko tersebut adalah ketika tahu aq mo belanja bulanan, Bapak menyarankan untuk pergi ke toko tersebut instead pergi ke retail besar. Maksud hati untuk tetap menggerakkan ekonomi lokal. Nice. Niat awal untuk berbelanja di salah satu retail besar aq urungkan dan menyetujui ajakan Bapak. Honestly, ini bukan yang pertama kali. Aq pernah berbelanja ke sana like about once or twice. Dan kesan yang aq tangkap dari toko tersebut adalah harganya yang ‘agak’ miring. Walaupun masih ragu untuk berbelanja di sana, karena aq ingat pelayanannya yang kurang OK, tapi karena niatan baik Bapak dan melihat bangunannya dari luar yang berubah sedikit lebih ‘wah’, dengan etalase kaca, akhirnya aq ke sana.

Dan ternyata sodara… Any luxury clothes will never ever change the person inside.

Ketika masuk dan mengambil keranjang belanja, ternyata keranjangnya banyak yang hanya tinggal satu handle (which should be two) aja. I have no idea how can the customer bring the basket if its only has one handle.

Setelah dapat keranjang yang ‘bener’, mulailah aq mengambil barang. And you know what? Aq nggak ngerti bagaimana toko sebesar itu menerapkan sistem display. Everything was not properly stoked. Beberapa feminine napkins ada yang di rak tengah kemudian lanjutannya ada di rak yang berjauhan. Demikian juga untuk penunjuk harga tiap barang. As I know, kalau sistemnya self-service maka harga barang akan tersedia di dekat barang tersebut. Tapppiiii… aq beberapa kali ‘kecele’. Pas lagi ambil produk makanan eh harga yang tercantum di rak malah harga untuk popok bayi. Lha?! Hmm… ini memang akhirnya benar-benar self-service, karena aq musti nyari SPG toko tersebut dan nanya langsung. Sukurlah aq nggak belanja banyak, selain karena memang ragam barang yang tersedia disana terbatas.

Theen, yang paling bikin aq semangat empat lima untuk menulis review ini adalah pelayananya. Inget pepatah ‘You pay peanuts, you get monkeys’? It was what I got. Dengan harga miring, kurangnya staffs (as si Mbak cashier bilang kalau ada beberapa temannya yang nggak masuk), dan banyaknya pengunjung, pelayanannya ‘jongkok’. Jadi di toko tersebut ada sistem pengecekan setelah bayar. Pembeli membayar di cashier, kemudian ada yang staf mengecek barang Anda sudah sesuai apa tidak, then baru pembeli boleh pergi dengan membawa barang belanjaannya. Aneh? Yah aq juga pertama kalinya ngerasa aneh, tapi yah begitu lah sistem toko tersebut. Dan yang aq bilang ‘jongkok’ tadi adalah saat proses pengecekan barang.

Saat pengecekan barangku, staff yang mengecek ternyata pelit tas plastik. Gosh! Ada seorang ibu sebelumku juga disodori wajah masam dan keluhan karena meminta barangnya ditaruh di dua tas plastik yang berbeda. Jadi semboyan ‘pembeli adalah raja’ di mata Mbak-staff ini tidak berlaku. Dan saat giliranku ternyata lebih parah. Ok, untuk lebih mudah menggambarkannya aq berbelanja satu tissue wajah yang berukuran 1000 gram, satu tissue wajah ukuran 250 gram, satu kaleng wafer, satu kaleng butter cookies, satu botol syrup, dan beberapa barang kecil lainnya yang mungkin jumlahnya sekitar 10 items.

Jadi si Mbak-staff mengambil kotak kerdus sabun, lalu memasukkan botol syrup dan items yang kecil. Saat si Mbak-staff akan memasukkan tissue wajah yang kecil, aq menolaknya karena barang itu harus aq bawa sendiri. Lalu, surprisingly, dia memaksa memasukkan kaleng wafer ke dalam kerdus, which is anak TK juga tau kalo itu nggak cukup. Aq bilang dengan baik-baik, kalau itu nggak cukup dan aq minta agar dimasukkan ke tas plastik, aq bilang begitu karena aq melihat tumpukan tas plastik didepanku, and you can guess what her answer was NO. Dy bilang, “Nanti Saya tali.” Well, ok. Then, aq jadi super bete saat dy selesai menali kerdus tersebut lalu menyuruhku untuk membawa barang lainnya dengan tangan tanpa tas plastik. WHAT?!

Aq ulang permintaanku dengan baik-baik, at least, tas plastik untuk tissue besar dan kaleng butter cookies. And she still said NO and told me dengan nada nggak enak, “Biasanya tissuenya dibawa langsung.” Aq nunjuk tas plastik di depanku yang masih banyak jumlahnya dan bertanya. Si Mbak-staff ini bilang bahwa barang yang aq beli nggak berhak akan tas plastik. WHAAATTT?! Sumpah kesel banget deh, baru ada sekali ini toko yang punya sistem penjualan barang dengan membedakan ini boleh mendapatkan tas plastik dan ini tidak.

Aq protes donk, I told her how difficult to bring a lot of stuffs with two hands. Kan nggak lucu lah kalo pembeli keluar dengan membawa barang bawaan ditangan. Akhirnya si Mbak-staff dengan bersungut-sungut plus bersikap marah memasukkan tissue besar ke tas plastik, and that’s it. So, karena aq udah feed up ma si Mbak-staf dan nggak mo marah karena sedang puasa jadi aq ambil kerdus tersebut dengan setengah tertutup (karena kaleng yang tidak masuk dengan sempurna), tas plastik berisi tissue wajah, dan kaleng butter cookies tanpa plastik.

Kebayang donk kalau naik sepeda motor dengan membawa banyak barang tanpa bantuan tas plastik. Aq pendukung penghijauan dan membatasi penggunaan tas plastik. Kalau beli dari toko dekat rumah aq selalu minta untuk tidak perlu diberi tas plastik. Tapiii kali ini benar-benar deh… (ngelus dada). Sukurnya ketika aq menghampiri Bapak yang menunggu di luar, Bapak tanggap saat melihatku dengan banyak barang ditangan, ternyata Bapak menyimpan satu tas plastik di sepeda motor beliau. Coba kalau nggak…

Kalau ada yang bilang keramahan kota kecil yang akan dijumpai di toko lokal, aq akan menjawab ini tidak akan terjadi di toko tersebut. Aq nggak recommend sama sekali. If you want to get a good service, you better go to a real store or to big retail chain and pay little bit more, as if you pay peanuts, you will definitely get monkeys there.

5 thoughts on “Bukan Tempat Berbelanja yang Recommended di Kota Malang

  1. Yuliana: Iya niy, pelayan tokonya agak nggak selaras ma semboyannya Indonesia di LN yang penuh dengan keramahan dan senyuman khas budaya timur. Sayang banget deh… Una: Hi, udah via mess yah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s