My Money, Your Money, or Our Money?


 

*Mumpung post yang lalu aku posting tentang uang yang cuma bisa dilihat, sekarang ngomongin uang yang ada didompet masing-masingπŸ˜€ *

Si Mas yang ngintip aku nulis judul ini bilang, “Eh nggak papa tuh nulis begituan, kan masih banyak yang menganggap itu tabu?”

I guess, it’s not a taboo topic anymore.

Logically, we work everyday to earn money. We are happy when the money we earn transferred to our bank account. So why do we have to be shy when we talk about money?

πŸ™‚

Ok, lets talk about money.

Kalo pas kita single, urusan uang pasti mudah mengaturnya, uangku ya uangku. Sisihkan dua setengah persen untuk zakat *untuk yang muslim*, sisanya terserah kita mo diapain.

Nah pertanyaannya setelah menikah gimana?

Hmm… dari beberapa cerita pasangan yang aku kenal, ada banyak sekali cara mengatur keuangan mereka. Ada pasangan yang suami bekerja dan istri tidak bekerja, dan uang dibagi dua, separuh suami – separuh istri.

Ada pasangan yang sama-sama bekerja, tapi keuangan masing-masing terpisah, suami dan istri berbelanja sendiri-sendiri. Bepergian ke sesuatu tempat, tagihan juga terpisah. Kewajiban iuran ini itu dibagi pembayarnya, siapa bayar listrik, siapa yang bayar telepon, dan sebagainya. You do that one, I do this one.

Ada juga yang berbeda, *cerita ini aku dapat dari beberapa teman yang kebetulan berada di Aussie (mungkin ini juga terjadi di Indo dan di negara-negara lainnya)* suami istri bekerja, akan tetapi gaji istri langsung masuk ke rekening suami. Sang istri hanya diberi kartu kredit yang disetting tidak bisa mengambil uang tunai (no cash out). Kalau ingin uang tunai sang istri harus minta ke suami langsung. Misalnya akhirnya hubungan suami istri berakhir dengan perceraian, sang istri berpisah dengan tanpa tabungan sama sekali, dan tidak bisa memperoleh sedikitpun dari uang yang dia peroleh saat bekerja. It’s so unfair!

Cerita yang terakhir itu agak mirip dengan sebagian besar cara mengelola uang pasangan di Indo, tapi dibalik. Sebagian besar gaji suami diberikan ke istri dan suami diberikan sejumlah uang untuk keseharian. *Nggak pakai kartu kredit, karna belum semua orang di Indo familiar dengan penggunaan kartu kredit* Dari nguping cerita suami-suami di kantor si Mas, banyak suami-suami yang keuangannya dikelola dengan cara seperti ini suka main sembunyi. Kalau ada uang bonus disembunyikan dari istri, karna takut diminta sang istri. *Pasti yang cowo-cowo akan bilang, “It’s so unfair too!”πŸ™‚ *

Ada juga yang mengikuti yang disarankan secara Islami, misal suami istri bekerja, uang suami menjadi uang keluarga dan uang yang diperoleh istri menjadi hak istri. Walaupun dalam kenyataannya banyak istri yang tidak bisa menutup mata untuk menggunakan sebagian uangnya sebagai uang keluarga juga. Disini suami harus terbuka terhadap istri, dan sebaliknya, berapa uang yang diperoleh masing-masing. *Babe, I can see your moneyπŸ™‚ *

Nah mana yang paling ideal? Pastinya itu berpulang lagi dengan masing-masing pasangan. Ada dua cara yang digabung dan diterapkan, Β atau malah cara pengelolaan uangnya tidak sama dengan cara-cara diatas. Terserah masing-masing pasangan. Tiap pasangan memiliki kehidupan rumah tangga yang berbeda, tidak pernah ada yang sama persis, maka pengaturannya pasti juga berbeda.

Lantas bagaimana dengan yang masih ‘single dan berbahagia’?

Saranku saat akan menikah jangan lupa untuk membahas masalah pengaturan keuangan bersama, bagaimana pandangan kita dan bagaimana pandangannya calon suami/istri kita mengenai pengaturan uang yang ideal *not only about the happy things in the futureπŸ˜‰ *. Apabila ada perbedaan didiskusikan dan dicari win-win solution-nya. Jangan sampai pengalaman beberapa temanku yang ‘terkaget-kaget’ Β dan kecewa dengan pasangangannya setelah menikah karna masalah keuangan, happens to you. Mereka menyesal karna tidak dari sebelum menikah membahas mengenai pengaturan keuangan, menurut mereka saat itu tabu untuk membicarakan uang dan mereka menganggap pasangannya memiliki cara pengelolaan keuangan bersama yang sepaham *yeah, everybody always wish that eachΒ partner is a mind readerπŸ˜€ *. Unlucky them, ternyata tidak.

Jadi jangan malu-malu, saat sudah merasa bahwa he/she is the one, maka sedikit-sedikit mulailah disinggung masalah mengelola keuangan yang pas untuk bersama. Walaupun banyak yang bilang cinta yang akan membuat rumah tangga bahagia, tapi kesepahaman mengenai uang bersama akan membuat rumah tangga lebih bahagia, ya kan?πŸ˜‰

35 thoughts on “My Money, Your Money, or Our Money?

  1. Hahahaha.. aku sama si bubu dari jaman pacaran udah bahas masalah duit..πŸ˜› abis kayak yang kamu bilang, kalo ga nanti ujung2nya bisa jadi masalah. Apalagi kami berdua dateng dari budaya yang berbeda.

    Kalau sekarang sih keuangan semua yang ngatur si bubu. Aku tinggal ngasih proposal mau beli ini itu ke dia. Kalau belanja juga selalu bareng2 dan dia yang bayar. hihihihi.. Tapi yang pasti ngomongin duit di rumah udah bukan hal tabu sih. Apalagi kantornya si bubu kalo ngirim slip gaji langsung ke rumah lewat pos, jadi ga bisa deh dia sembuyiin dapet berapa secara aku pasti yang liat duluan.. muhahaha

    eh… replynya panjaaaaaaaaang… >__<

      • Wah sama tuh, aku juga ma suami ngomongin masalah keuangan mulai dari kita sebelum nikah, mencegah timbul masalah.πŸ™‚

        Hihihi… enak dong kalo yang ngatur suami, istri nggak ikut pusing ngebagi-bagi pos-pos kebutuhan. Ikutan masukkin proposal ke Bubu juga dong Be, sapa tau disetujuin juga… hahahahahaha… *minta dikeplak* πŸ˜›

  2. hah hah hah itu serius ada yg duit istri masuk ke rekening suami semua??? waahh itu tidak bisaa
    dan itu ada yg duit lakinya dijatah?? oh ya ampunnn, kasian banget udah cari duit ehhh malah yg nyari duitnya dijatah lagih, itu juga tidak bisaaa

    wahh ternyata banyak macemnya yah ngatur uang setelah menikah, dan aku ngga menemukan yg ideal di sini

    terima kasih chita sharingnya, jadi catatan besar kalau suatu saat nanti aku akan menikah, mesti dibahas baikbaik nih soal keuangan

    • Sama-sama darling!
      Pengaturan keuangan bersama yang ideal insyaAllah nanti akan ketauan saat berdiskusi dengan si calon, namanya juga keuangan bersama. Berarti ada dua pikiran yang disatukan.πŸ˜‰

  3. hi Chita, salam kenal yahπŸ™‚

    klo aku yang baru (atau udah?) 2 taon nikah, kami mengelola keuangan bersama2, mungkin karena mencarinya pun sama2 yahπŸ˜€
    walaupun uang tunai aku yang pegang, dan buku bank + atm dia yang pegang.
    setiap pengeluaran pasti rembukan dulu,

    jadi ga abis pikir deh kalau sampai ada jatah2an hehehe

    • Salam kenal Nique!

      Selamat yah udah dua tahun menikah, mudah-mudahan langgeeng terus, sampai kakek nenek!πŸ˜‰

      Caranya Nique dan suami, mirip dengan aku dan suamiku, kami kalau mo belanja-belanja selalu rembukan dulu. Untuk tahu opini masing-masing, dan mufakat.πŸ™‚

  4. Postingnya Chita kueeereeen! (^_^)b

    Keuangan kami pernah mengalami dua fase, dulu saat aku bekerja dan sekarang saat aku totally jadi ibu rumah tangga.
    Justru yang sangat sangat sangat sulit bukan awal2 menikah tetapi ketika masa transformasi ketika aku berhenti, krn pasti ada tagihan2 bulanan yang biasanya aku yang bayar, skrg harus nge-push dari pendapatan suami.

    Keterbukaan suami istri itu yang paling penting dalam mengelola keuangan, aku rasa. Setiap pengeluaran per bulan dicatat, jadi suami gak bertanya-tanya uang yang diberikannya kemana. Dan itu membuat si istri makin dipercaya sang suami, apalagi jika istri mampu pula menabung ^_^

    • hahahaha… bisa aja. Bukannya tabu yah Jeung…πŸ˜›

      Aku bisa ngebayangin masa transformasi itu Mayy, coz aku juga pernah ngalamin hal yang sama. Lucky you, you passed it very well!!! Mayya kuereeen udah baik hati, ramah dan rajin menabung pula!πŸ˜‰

      Aku juga setuju kalau keterbukaan itu nomor satu, namanya juga berumah tangga, semua hal baik dan buruk kan dibagi bersama. Kalau satu pihak sudah nggak percaya dengan pasangannya, it will effect their marriage, less or more.πŸ™‚

  5. Dulu waktu masih kerja keuanganku sama suami digabung trus kita bagi, gajiku buat belanja sehari2 n gaji suami buat nabung pendidikan anak, tabungan masa tua dan emergency thing. But being Indonesian yah, keluargaku terutama yg tante2ku juga smuanya kerja pada gak suka. Mereka bilang harusnya uangku gak usah dipake sama sekali, buat aku aja trus uang suamiku yg harus memenuhi smua2nya. Hadeeeh repot bgt deh. Kesel juga sih. Apalagi kalo pas ada keluarga butuh duit trus kitanya gak bisa bantu langsung deh bawel bilang makanya duitnya disimpen dong bla bla…yeeee…duit digabung aja udah empot2an ngaturnya apalagi kalo gak digabung. Kalo skrg sih karena gak kerja ya duit suami smuanya jadi duit gw hahahaha…gak pake sembunyi2an juga soalnya slip gaji kan dikasih plus kita suka buka bareng rekening masing2 hehe Tapi dulu di Indo temen2 cowok biasanya di dompet paling banyak 20ribu buat bensin…katanya jatah dari istri segitu wakakakak…

    • Ouuchh… Sometimes it’s good to have some people around who give some advice, but when it turns out into controlling, it’ll be a nightmare.😦

      Sabar ya Rina…πŸ™‚
      Aku juga bakal nggak betah deh kalo ada yang ngasih sindiran-sindiran begitu. Padahal kan tiap rumah tangga itu berbeda. Sukurnya belum pernah ada yang ‘baik hati menasehati’ kami berdua.

      20ribu doang?! Kasian banget yah suami-suami yang dapet jatah terbatas seperti ceritamu.πŸ™‚

  6. Kayaknya pembahasan ini udah ga tabu lagi sejak artis-artis di infotainment pada berkoar-koar bikin perjanjian pra-nikah gitu deh hahaha…
    Idealnya sih yang kyk Mba Chita bilang, uang suami buat keluarga uang istri buat diri sendiri. Tapi jaman sekarang (kalo dari pengamatan aku di jakarta ini ya) hidup konsumtif kayak gini, plus segala-gala mahal apalagi klo dah punya anak, kayaknya dalam rumah tangga ga cukup kalo cuman dari satu dapur yah… hehehee…
    Tapi yang bagus sih dikelola bersama kayak Mba Chita gitu, jadi jelas yah pemasukan dan pengeluaran konsolidasi nya *halah*πŸ˜€

    • Prenuptial agreement yah? Iya tuh lagi trend sekarang, sah-sah aja sih kalo mo melindungi aset masing-masing. Takut kalo pasangan married karna alasan keuangan, dan akan berusaha untuk dapet tunjangan besar setelah bercerai. Well, jangankan artis, ada loh orang biasa yang nyari duitnya dengan cara ini. *cara cari duit yang aneh*πŸ™‚

      Hehehe, kebetulan aja metodenya pas dihati aku dan suami. Mungkin kalo pasangan lain punya metode ideal lainnya. Tergantung preference-nya masing-masing pasangan.πŸ˜‰

      Milaaaa, jangan manggil ‘mbak’ donk… kan aku nggak tua-tua amat, yah…yah…yah.. *kedip-kedip mata*

  7. Iya Mbak, bener tuh, sama seperti nasehat ibu saya, nanti kalo saya mau nikah, harus direncanakan dulu matang2 mau seperti apa pengelolaan ekonomi keluarga saya.πŸ™‚ Makasih ya Mbak, udah diingatkan kembal.πŸ˜€

    Dan saya rasa, saya lebih memilih cara islami, saya sebagai pria yang menanggung biaya rumah tangga.πŸ™‚ Kalo istri mau kerja, silakan. Tentunya, saling pengertian itu penting.

    Last but not least, saya juga harus cermat memilih calon istri.πŸ˜† πŸ˜†

    • Betul-betul… setuju dengan Ibumu Sop. Menikah itu one big-huge step, bukan di acara pernikahannya tapi kehidupan setelahnya.

      Wah pilihannya udah bagus tuh, tinggal nunggu pendampingnya. InsyaAllah nanti dapat yang terbaik, aamiin.πŸ™‚

    • Iya kalimatnya memang mirip dengan anjuran di agama Islam. Sehingga diharapkan ada tanggung jawab dari pihak suami sebagai kepala keluarga untuk mencari nafkah untuk keluarganya. Tatpi tetap saja dilandasi dengan keterbukaan masing-masing pihak.πŸ™‚

      Untuk poin yang kedua, aku rasa kalau memang sudah dibicarakan baik-baik dan memang suami setuju kenapa tidak? InsyaAllah rejeki bisa datang dari berbagai sumber.πŸ™‚

  8. kenalan dong mbak..πŸ™‚ aku baca bagian duit ini baru aja aku sama suami meng – audit keuangan di keluarga.. dan ternyata memang harus dibicarakan, jujur sejak nikah aku bikin masalah uang ga tabu dibicarakan…. kesini – sininya klo ada yang mengganjal tentang ‘our money’ gampang deh ngomongnya… dan InsyaAllah masalah gara2 uang gak berkepanjangan…hehehe…

    • Siip, setuju-setuju. Kalo ada masalah berdua dan saling nggak enak diomongin pasti jadi berkepanjangan masalahnya ya…

      Betewei, jangan dipanggil ‘Mbak’ donk, panggil Chita ajaπŸ˜‰

  9. seru ya ngomongin duit. dulu banget sekitar thn 2003an pernah di curhatin bos, istriku nelpon, katanya “Anakmu arep mbok kei pangan opo?”. saat itu kami merantau di jakarta dan anak istri kami masing2 di bandung. si bos istrinya gak kerja, dan dia ngasih uang tunai ke istrinya. giliran kekurangan uang dan suami ada di luar kota. pantes ya istrinya ngomong gituπŸ™‚. case ini, istri loose.

    kalo aku, pernah dulu semua uang dipegang istriku yang kerja juga. dan istriku yg ngasih ‘jatah’ di dompet. suatu waktu isi dompet habis, begitu juga bensin. case ini, suami alias diriku loose. ganti cara. sekarang istriku pegang kartu ATM-nya, aku pegang buku tabungan. kebetulan bank-nya baek bisa narik pake buku tanpa kartu ATM. terus buka rekening terpisah untuk tabungan, kartu ATM-nya aku yg pegang.hasil kerja istriku masuk bukunya sendiri, dan dia ‘laporan’, meski gak rutin, dapat berapa. sebagai dokter di RS swasta, penghasilannya nggak tentu tentu.πŸ™‚

    kuncinya emang bener, trust & openness. caranya sih terserah kesepakatan suami istri aja. yg pasti harus win-win.

  10. enakan pake cara islami ya,uang istri uang istri pribadi,suami yg nafkahin rumah tangga,oke fair….tp jgn salahkan jg suami punya istri banyak kl mampu membiayainya,bagaimana perempuan setuju???wkakkakaka……namanya keluarga uda ga ada tuch namanya uang ku uang mu semua uang bersama,sama2x membangun keluarga tidak menghina satu sama lain tujuan hanya satu membahagiakan keluarga…..kl penghasilan suami besar atau boss besar,ngapain istri dikasi kerja lagi,toch kl suami nya penghasilan pas2xan apa ga bisa dibantu oleh istri nya,dalam keluarga jangan lah saling perhitungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s