Exploring Townsville Part 1 (Queens Garden and Palmetum)

Menikmati Townsville

Ide awalnya datang karena aku ngerasa kurang bisa bersyukur *nah lho…*. Iya, walaupun sudah terdampar di Townsville hampir setahun tapi wilayah jajahanku masih terbatas, rumah-tempat kerja-mall satu-mall dua-mall tiga-rumah-jogging track-rumah. Baru-baru aja nambah stadion kota dan galeri seni itu juga kebetulan, karena ada tiket gratis dan acara festival yang ada Alvin cs nya hehehehe…

Kemudian kalo ditanya sama temen yang di lain kota tentang apa yang menarik di Townsville, suka gelagepan kalo ngejawab. Lha, emang nggak pernah kemana-mana hahahaha… Soalnya kalo diajakin jalan pasti alasanku satu ‘paanniiaasss’ dan cape kalo jalan kaki. Padahal nanti kalo udah balik ke Indo nyesel karna nggak sempet jalan-jalan *serba salah*

Si Mas yang dicurhatin ini sama istrinya cuma bilang, ‘ini namanya kurang bersyukur, nggak menikmati yang sudah dikasih Allah SWT’. *jleb*

Sooo, sebelum aku dan si Mas jalan-jalan ke Melbourne dan Sydney bulan depan, aku punya ide untuk ‘Exploring Townsville’ (menikmati Townsville). Setelah nyari-nyari informasi apa yang ‘must to do in Townsville’ di internet, akhirnya nemu petunjuk di TripAdvisor tentang beberapa tempat yang menarik untuk di kunjungi di kota ini. Ternyata dari beberapa tempat yang disebutin ada beberapa yang sudah pernah aku datengin, cihuy! *bukan mall kok hihihihi…* Dan pastinya masih banyak yang belum pernah aku datengin hahahahaha…

Ayo, mari kita mulai jalan-jalan menikmati Townsville!

Queens Garden

Dengan semangat empat lima, hari Sabtu kemarin aku bilang ke si Mas kalo aku mo jalan-jalan ke daerah kota untuk mengunjungi Queens Garden. Si Mas yang tau istrinya nggak suka jalan di saat matahari masih bersinar awalnya kaget, tapi karna si istri udah semangat, si Mas ayuk aja. Setelah persiapan kilat, kami jalan ke mall deket rumah untuk beli bekal makan siang dan naik bus dari halte di sana. Nggak lama sampai lah kami di halte bis pusat kota. Dari halte bus di pusat kota, kita cukup berjalan 15 menit untuk mencapai Queens Garden.

 

Queens Garden adalah botanical garden tertua di Townsville, dan sempat menjadi kebun botani terbesar di kota ini. Didirikan di tahun 1870, awalnya kebun ini memiliki luas sebesar 40 hektar. Namun karena perkembangan kota dan pertambahan penduduk, luas kebun ini berkurang, saat ini kebun ini hanya memiliki luas sebesar 4 hektar. Menurut sejarahnya, kebun ini didirikan bersamaan dengan munculnya semangat penduduk Eropa akan tumbuhan, sebagai salah satu faktor  yang mempengaruhi kemajuan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan fungsi keindahan. Sehingga saat itu di seluruh negara persemakmuran didirikanlah kebun-kebun botani.

Dengan bergulirnya waktu kebun botani ini juga berfungsi menjadi tempat bersantai bagi warga dan oase bagi daerah sekitar, karena lokasi Queens garden yang berada di antara daerah pantai the Strand dan bukit berbatu, Castle Hills. Untuk koleksi tumbuhannya, kebun ini memiliki beberapa koleksi yang menarik walaupun terbatas jumlahnya. Ada area rainforest, palm lawn (tanaman palem), rose and herbs garden (mawar dan tanaman herbal), magnificent trees (pohon berdahan besar), perennial display, dan frangipani collection. Selain koleksi tanamannya, karena kebun ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi maka dibangunlah beberapa fasilitas umum untuk membuat warga yang beraktifitas di kebun ini merasa nyaman, seperti kamar mandi umum, kursi taman dan meja piknik yang tersebar di berbagai sudut, fasilitas permainan anak, drinking fountain (fasilitas air minum umum). Oiya, ada satu hal yang paling menarik buatku dari kebun ini, yaitu ada dua labirin kecil dari tumbuhan yang menantang untuk dicoba setiap pengunjung yang datang. Wow, saat melihat labirin ini aku langsung teringat akan si Harry Potter.🙂

Palmetum

Setelah main ke Queens Garden, keesokan harinya aku dan si Mas jalan-jalan ke botanical garden dekat rumah. Hanya perlu jalan kaki sekitar 7 menit, kami tiba di Palmetum. Palmetum ini adalah kebun botani kedua terbesar di Townsville, luasnya mencapai 17 hektar dan diakui sebagai salah satu kebun yang memiliki koleksi tumbuhan palem terbesar di dunia. Saat masuk ke dalam kebun ini kami disambut oleh bangunan tua bernama Tumbetin Lodge, ini adalah salah satu bangunan tua bersejarah di kota ini yang saat ini dialih-fungsikan menjadi restauran dan tempat fasilitas umum untuk menunjang Palmetum.

Searah jarum jam dari kiri atas, Tumbletin Lodge, pintu gerbang Palmetum, jogging track yang dihiasi gambar dari tanaman palem terdekat, dan jogging track menuju habitat hutan tropis basah

Palmetum dibuka secara resmi di tahun 1988, kebun ini didirikan sebagai Bicentennial Project yang dimulai di tahun 1982. Kebun ini memiliki koleksi tanaman beragam mulai dari tanaman dari habitat tropis kering hingga tanaman tropis basah. Untuk tumbuhan palem famili Arecaceae ada 2400 spesies dan 190 genus, kemudian tumbuhan palem lain ada lebih dari 360 spesies dari 130 genus, yang beberapa diantaranya adalah tumbuhan langka. Tanaman palem asli Australia juga bisa ditemukan di sini, yang jumlahnya mencapai 60 spesies.  Selain tanamana, di kebun ini adalah rumah bagi berbagai burung. Mulai dari burung khas Australia sampai burung-burung yang biasa ditemukan di daerah tropis lainnya.

Ngomong-ngomong tentang binatang yang berterbangan, walaupun ini bukanlah kunjungan pertama kami ke kebun ini, namun ini adalah pertama kalinya kami datang di pagi hari. Saat kami berjalan melewati area hutan tropis basah, kami berdua terkejut sekali saat masuk dan mendengar suara-suara hewan bernada tinggi, dan saat kami melihat ke atas, ternyata ada ratusan kelelawar bergelantungan di dahan-dahan pohon yang tersebar di sepanjang jogging track yang kami lewati. Awalnya terasa ngeri, apalagi kalau teringat akan film-film horor yang kadang menampilkan kelelawar berterbangan. Tapi ketika kami membaca papan peringatan akan kelelawar yang bermukim disana saat siang hari, dan ada himbauan untuk tidak panik dan mengganggu mereka, kami jadi merasa aman untuk berjalan-jalan di bawah mereka. Namun tak lupa kami langsung buru-buru pakai topi, karena sesaat setelah membaca peringatan itu kami sadar saat melihat banyak bulatan berwarna kehijauan di jogging track yang ternyata adalah pupuk alam buatan mereka. Hmm… ternyata kelelawar jorok, suka buang hajat sembarangan hahahaha…😀

Selain koleksi tanaman yang menarik, ada beberapa area khusus yang di bangun di kebun ini. Ada dua tepatnya, pertama adalah Licuala Walk dan Tokuyama Garden. Ini adalah dua bangunan yang dibangun oleh sister’s city-nya Townsville yaitu Tokuyama, salah satu kota Jepang, di tahun 1996. Bangunan kedua adalah Blackhawk Memorial yang dibangun di tahun 1997, untuk memperingati tentara yang meninggal dalam kecelakaan latihan penerbangan.

Untuk penutup, monggo dinikmati beberapa foto yang aku ambil di Palmetum.🙂

Beberapa area di kebun kaktus

Area habitat padang rumput dan danau

Monumen Blackhawk Memorial dan taman Tokuyama

27 thoughts on “Exploring Townsville Part 1 (Queens Garden and Palmetum)

  1. pas baca dan liat fotonya.. jadi berasa anget gitu Chit.. ahahaha.. abis disini lagi dinginnya seamit2, sementara foto2mu semua keliatan panas cerah ceria..

    btw, foto kelelawarnya kereeeeen..

    • Bebe, mo tukeran nggak?? Di sini panasnya euy… *kipas-kipas* hahahaha…😀
      Iya, itu foto kelelawar suami yang ambil, dia sabar tuh nunggu buat ngambil pose yang pas. Kalo aku mah nggak bakal deh mau disuruh nunggu hahahaha… *menghindar biar nggak kejatuhan pupuk organiknya kelelawar😀 *

    • Nggak sempet Man, pas itu udah buru-buru jalan lagi ke tempat yang lain. Selain itu alasan lainnya adalah kita nggak cukup tinggi buat memphotonya, jadi nggak keliatan desainnya hihihihi…😀

      Bener, kelelawar binatang malem Man, cuma kebetulan pas itu adalah waktu mereka untuk berangkat tidur, jadi masih ada beberapa yang berkeliaran nyari tempat bobo yang pas.

  2. Padahal aku berharap ada foto labirin loh hehehe….
    Senangnya ada tropical garden macem-macem, bisa piknik keluarga terus deeeeh….

    Jadi keingat mau piknik gak jadi-jadi ^___^

        • wahh…ketinggallan berita nich…malah ada yang lucu lho saat pertandingan itu, dimana tim amatir australia sempat main dengan 12 orang (lebih pemain)…🙂

        • Oh ya? Hahahaha…
          Sebenarnya yang ada dipikiranku malah kenapa yang dipilih untuk lawan tandingnya adalah tim ‘sangat amatir’, apa nggak lebih bermanfaat kalau tim yang diajak bertanding tim profesional di sini. Ada pengalaman dan teknik yang bisa didapatkan. Kalau tim amatir, lha Aussie bukan negaranya sepak bola (soccer), jadi kalau tim amatir ya pasti amatir sekali. Kan sayang kalau dana yang terpakai untuk jauh-jauh ke Aussie hanya dipakai untuk bertanding begitu-begitu saja.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s